Perayaan Idul Fitri Pertama, Perjuangan yang Dibalut dengan Kemenangan Akbar

May 13, 2021 12:45
Ilustrasi hari raya Idul Fitri (iluszidotblogspotdotcom)
Ilustrasi hari raya Idul Fitri (iluszidotblogspotdotcom)

MALANGTIMES - Hari Raya Idul Fitri, tentunya merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Secara bahasa, Idul Fitri memiliki arti kembali berbuka, boleh makan dan minum setelah sebulan berpuasa Ramadan. Sedangkan Fitri berasal dari kata fathara-yafthuru-fithran yang artinya makan atau minum.

Umat Islam di Indonesia menyebut Idul Fitri sebagai Lebaran. Lalu bagaimana sebenarnya awal atau sejarah adanya Idul Fitri? yuk mari kita simak ulasannya berikut ini, yang dirangkum dari berbagai sumber, salah satunya channel YouTube Sobat Gurun.

Tahu kah kalian, tahun kedua hijriah, untuk pertama kalinya puasa ramadan dijalankan umat Islam. Pada saat itu juga untuk pertama kalinya Hari Raya Idul Fitri di rayakan, dimana Momentum ini juga bertepatan dengan peristiwa Badar, yang mana kaum muslimin juga meraih kemenangan dalam perang skala besar. 

Pada tahun itu, kaum muslimin merayakan dua kemenangan yakni kemenangan dalam perang badar dan juga kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa. Dari sinilah kemudian muncul ungkapan minal aidzin Wal faidzin yang merupakan ungkapan doa kaum muslim.

Menurut sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan salat ied dalam kondisi luka-luka yang belum pulih akibat perang badar. Dari Jubair bin Nufair ia berkata bahwa," para sahabat Rasulullah SAW berjumpa dengan hari id' (Idul Fitri tau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan : taqabbalallahu minna wa minka".

Mengenai peristiwa Badar, Husain Haikal dalam Hayatul Muhammad mengatakan, "bahwasannyaa sejak awal Nabi Muhammad SAW tidak pernah menginginkan perang. 'Kami tidak diperintahkan untuk itu',". 

Aksi monopoli pasar dan blokade dagang oleh kaum Quraish Mekkah dan kaum muslim Madinah yang memicu konfrontasi tersebut berkembang. Pada hari kedelapan Ramadan, pasukan Abu Jahal keluar Mekkah. 

Ditambah juga Kafilah Abu Sufyan dari Syam membawa pasukan jumlah besar sekitar seribu tentara dengan kelengkapan perang. Dari arah Madinah Nabi membawa 300 sahabat menyambut tantangan itu menuju Badar.

Dalam Muhammad His Life Based on the Earliest Sources karangan Martin Lings, disebutkan ditempat ini pada pagi Ramadan, kedua pasukan ini saling berhadapan. Nabi tampil didepan mengatur barisan. Sementara disampingnya ada Hamzah, Umar, Ali dan Ubaidah. 

300 melawan 1000 pasukan, tentunya akan menjadi perang yang tak mudah. Abu Bakar bisa menangkap ekspresi kecemasan dan degup jantung kecemasan dari para sahabatnya. Saat itu, tak ada yang mampu menepis gelombang kecemasan itu. Hingga turun ayat Al-Qur'an yang menerangkan,yaitu tentang kekuatan moril yang tumbuh dan teguhnya iman. (QS Al Anfal ayat ke 12, 17, 65-66).

Husain Haekal memberikan tafsir kontekstual sebagai ilustrasi membaca kembali kesan historis mengenai perang badar ini, "debu dan pasir halus membumbung dan berterbangan memenuhi udara. Berkat iman yang teguh keadaan muslim bertambah kuat. Dihadapan mereka ini terbuka tabir ruang dan waktu sebagai bantuan Tuhan kepada mereka dengan para malaikat yang memberikan berita gembira yang membuat iman mereka bertambah teguh, sehingga bila salah seorang dari mereka mengangkat pedang dan mengayunkan ke musuh seolah-olah kangen mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan".

Efek moral dari kemenangan perang badar ini pun terasa begitu besar. Kaum muslimin dan Nabi Muhammad SAW yang selama ini menjadi bahan cemoohan terbalik mendapatkan kepercayaan diri dan kehormatan dari berbagai kalangan.

Topik
Idul Fitrikisah ispiratifpuasa RamadanRasulullah SAWKisah Sahabat Rasulullah

Berita Lainnya

Berita

Terbaru