Syiar Ramadan Bersama Katib Aam PBNU, UIN Malang Bahas Upaya Cetak Kaderisasi

May 04, 2021 18:17
Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, KH Yahya Cholil Staqufdan dan Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (Ist)
Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, KH Yahya Cholil Staqufdan dan Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (Ist)

MALANGTIMES - Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Prof Abdul Haris bersama rombongan sowan dengan Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin KH Yahya Cholil Staquf. 

Dalam kunjungannya, rektor kelahiran Lamongan itu mengajak KH Yahya Cholil Staquf berdiskusi dalam Syiar Ramadan. Syiar Ramadan yang rutin digelar UIN Malang, kali ini mengangkat tema upaya mencetak kaderisasi ulama yang unggul.  

Mengenai ulama, dijelaskan oleh kiai yang juga Katib Aam PBNU ini, jika ulama ini merupakan orang yang menguasai ilmu agama, tentang bagaimana seseorang harus beragama. Di sisi lain, dia mengetahui sendi-sendi keberagaman secara komprehensif. Bukan hanya kognitif tapi juga spritual.

"Kita juga perlu tau bagaimana keulamaan tumbuh sebagai tradisi. Secara Islam, tradisi keulamaan ini memiliki dua cabang," jelas putra pendiri PKB ini.

Lebih lanjut dijelaskannya, jika dua cabang tersebut pertama, cabang profesional. Di sini merupakan ulama yang berada atau bekerja pada posisi di tengah-tengah kerangka pemerintahan, atau lebih khusus terkait dengan sistem peradilan. Kemudian ada juga yang mengelola lembaga akademis yang dikelola oleh negara.

"Di samping itu ada juga jalur ulama yang independen. Secara peradaban Islam, justru kalau dari segi jumlah tidak terlalu banyak, tapi kalau dari segi pengaruh pemikiran jauh lebih dihargai daripada yang jalur profesional tadi," jelas keponakan Gus Mus ini.

Menurutnya, di nusantara ini lebih banyak para ulama yang independen. Hal itu telah lama ada sejak dulu, bahkan sejak masa kerajaan Islam dahulu. Karena independen ini, maka hubungan antara para ulama, komunitas ulama dengan sistem politik selalu merupakan hubungan tarik ulur.

Di tengah situasi saat ini, yang banyak diwarnai dengan kemelut dunia Islam. Tentunya diperlukan pemikiran-pemikiran sebagai jalan keluar yang itu justru ulama nusantara.

"Dalam posisi itu, karena independen (ulama), tidak terlibat interes politik dari aktor-aktor politik. Beda di Timur Tengah, kalau di sana pasti sulit mencari ulama yang memang orang spesial pengetahuan keagamaan," jelasnya.

Dan saat ini merupakan momentum besar bagi para ulama Indonesia untuk memberikan kontribusi dan mengembangkan sesuatu yang besar yang dibutuhkan dunia saat ini.

Saat ini, sebagai manusia, tentunya perlu untuk menyadari perubahan dunia. Bawaan dari tradisi keulamaan Nusantara, memang diakui cukup unggul. Ulama yang tumbuh dari jalur di luar pendidikan formal memang punya legitimasi yang jauh lebih kuat. Dari sisi ini, karena itulah harus dipahami hal-hal yang menjadi kebutuhan keulamaaan.

Dimensi akademik, tentu saat ini juga menjadi sebuah kebutuhan. Seorang ulama tentunya akan semakin baik dengan menguasai satu bidang ilmu. Begitupun dalam dimensi intelektual juga perlu dimiliki. Artinya, di sini memeiliki kapasitas pemikiran yang cerdas dalam mencari solusi atau jalan keluar dengan sebuah pemikiran yang solutif terkait apa permasalahan yang dihadapi masyarakat.

"Ulama kini tak hanya menuntut kapasitas akademik, kapasitas intelektual, tapi juga kapasitas spiritual. Begitu pun terhadap para santri. Santri bukan hanya sekedar mengaji saja, tapi juga harus cakap intelektual dan spiritual. Kita membutuhkan kebangkitan," terangnya.

Sementara itu, Rektor UIN Maliki Malang, Prof Abdul Haris menjelaskan, jika UIN Malang dibangun dengan berlandaskan empat pilar. UIN Malang berkomitmen dalam mencetak para lulusan yang bisa menjadi ulama yang intelektual dan lulusan intelektual yang ulama.

"Kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional. Dua yang pertama itu diadopsi dari pesantren dan dua lainnya diadopsi dari perguruan tinggi. Dan selalu setiap kali momen apapun selalu tagline ulul albab digelorakan," pungkasnya.

Topik
Syiar RamadanSyiar Ramadan UIN MalangUIN Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru