Puisi Rektor UIN Malang: Ngaji Bersama Habib Luthfi, seperti Profesor di Perguruan Tinggi

May 03, 2021 08:14
Rombongan UIN Malang yang sowan ke Maulana Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan (Ist)
Rombongan UIN Malang yang sowan ke Maulana Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan (Ist)

MALANGTIMES - Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof Abdul Haris mengungkapkan kekagumannya terhadap Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Kekaguman itu ditunjukkan Rektor kelahiran Lamongan itu dengan karya sastra puisi yang ia buat. 

Karya tersebut berjudul "Ngaji Bersama Habib Luthfi, Seperti Profesor di Perguruan Tinggi". Dalam karya sastra puisi itu, Rektor UIN Maliki Malang menjelaskan jika mengaji bersama Habib Luthfi sangatlah menarik. Dalam prosesnya selalu diisi dengan dialog bahkan diskusi mendalam.

Penggunaan metodologi yang penuh improvisasi membuat diskusi antara seorang santri dan kiai menjadi sangat bergengsi. Hal itu tak pelak membuat semua hormat dan bahkan mengapresiasi.

"Inilah seorang kiai bak guru besar berbasis sufi. Mudah-mudahan nanti guru besarnya di UIN Maliki Malang," ungkapnya saat membacakan karya sastra puisi dihadapan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Kemudian, dalam kalimat selanjutnya, Jika saja seperti Maulana Habib Luthfi. Mungkin sangat egaliter bahkan semua bisa berpartisipasi. Berpendapat dan bisa saja memberi kontribusi. Semangkin menambah bobot sebuah materi.

"Membuat semua yang ikut berpartisipasi. Tadi (saat diskusi) saya lihat ada yang berpartisipasi. Hal itu kian menambah berbobot materi menjadi lebih banyak bermanfaat," jelasnya.

Kemudian, pada paragraf pendidikan dan pembelajaran pada santri. Sang Kiai justru lebih berperan memfasilitasi.
Menumbuhkan daya kritis agar bisa memahami. Semua proses yang terus menerus tanpa henti. Inilah yang sesungguhnya yang disebut andragogi.

"Sekarang guru itu kan lebih dikenal memfasilitasi dalam menumbuhkan daya kritis dan pemahaman terhadap santri.  
Kemudian inilah yang sesungguhnya yang disebut andragogi. Waktu saya di pondok itu nggak pernah. Makanya saya tadi mau bicara itu juga takut," jelasnya.

Dalam penyampaian materi, Habib Luthfi lebih melihat perspektif sufi dengan gaya dan metode yang demokrasi sehingga beliau sangatlah dihormati dan emmbuat siapa saja terkesan. "Bahkan salah satu santri ya Rektor UIN Maliki,"pungkasnya.

Sementara itu, berikut puisi utuh dari Prof Abdul Haris yang dibuatnya khusus untuk Maulana Habib Luthfi bin Yahya berjudul :

NGAJI BERSAMA HABIB LUTHFI,
Seperti Profesor di Perguruan Tinggi.

Mengaji bersama Habib Luthfi.
Dengan cara dialog dan bahkan diskusi.
Usai santri membaca kitab bertanya dan jawab sendiri.
Sebuah metodologi dengan penuh improvisasi.
Santri dan kiyai biasa dialog tapi tetap bergengsi.
Semua hormat dan bahkan sangat mengapresiasi.
Inilah seorang kiyai bak guru besar yang berbasis sufi.

Jika saja seperti Maulana Habib Luthfi.
Mungkin sangat egaliter bahkan semua bisa berpartisipasi.
Berpendapat dan bisa saja memberi kontribusi.
Semangkin menambah bobot sebuah materi.
Pendidikan dan pembelajaran pada santri.
Sang Kiyai justru lebih berperan memfasilitasi.
Menumbuhkan daya kritis agar bisa memahami.
Semua proses yang terus menerus tanpa henti.
Inilah yang sesungguhnya yang disebut andragogi.

Meski materi fikih yang sedang dikaji.
Namun Habib Luthfi lebih melihat perspektif sufi.
Inilah yang aku lihat seorang sufi yang sangat terpuji.
Dengan gaya dan metode yang sangat demokrasi.
Meski demikian beliau tetap sangat ditaati.
Bahkan salah satu santri Rektor UIN Maliki.
Meski baru sekali ikut mengaji dengan Habib Luthfi.
Namun kesan mendalam merasuk ke dalam hati.

Pekalongan, 1 Mei 2021
'Abd Al Haris Al Muhasibiy

Topik
UIN Maliki MalangProf Abdul Harishaib lutfi bin yahya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru