Syiar Ramadan, Maulana Habib Luthfi bin Yahya Kagum dengan UIN Malang, Ini Wejangan yang Diberikan

May 02, 2021 17:35
Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (kiri) bersama Maulana Habib Luthfi bin Yahya (Ist)
Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (kiri) bersama Maulana Habib Luthfi bin Yahya (Ist)

MALANGTIMES - Syiar Ramadan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menghadirkan narasumber istimewa. Ya, beliau adalah Maulana Habib Luthfi Bin Yahya yang juga selaku Dewan Pertimbangan Presiden.

Dalam momen diskusi yang dipandu Rektor UIN Maliki Malang, Prof Abdul Haris itu, Maulana Habib Luthfi Bin Yahya mengapresiasi nama UIN Maliki Malang. Nama Maulana Malik Ibrahim, diakuinya juga menjadi sosok yang ia kagumi secara pribadi.

Perjuangannya ketika masuk ke Indonesia untuk dakwah tidak mudah dan sekonyong-konyong masuk. Tentunya telah dipersiapkan manajemen yang baik, baik dari bekal ilmu dan yang lainnya. 

"Bekal pengalaman, ilmu mumpuni, yang kedua beliau ekonom, mengetahui juga dunia pertanian dan ilmu obat sesuai di zaman itu. Pola dakwah beliau rapi, dimana pola dakwahnya sudah cukup untuk bisa memajukan pada saat itu," jelasnya.

Masuk ke tanah air bukan untuk adu kesaktian, namun beliau memberikan wejangan-wejangan maupun pemikiran secara ilmiah untuk bekal para penerus. Bahkan pada saat itu, sosoknya telah mampu memikirkan bagaimana umat yang akan datang.

"Maka tidak salah UIN Malang mengambil salah satu nama dari wali sembilan, khususnya Malik Ibrahim, guru besar dari para ulama di zamannya," ungkapnya.

Dalam pengembangan pendidikan, pihaknya juga sempat menyinggung jika perkembangan zaman turut menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan kader-kader pemimpin masa depan. Karena itu, perlu dalam pengembangan itu membuka lebih jauh mengenai isi Al-Qur'an, dimana isinya tak hanya akidah dan tauhid saja namun juga kaya akan ilmu pengetahuan yang sudah seharusnya mampu untuk disyiarkan.

"Supaya siap melahirkan generasi-generasi yang siap menjawab tantangan umat dan tantangan zaman. Itu yang pokok," tegasnya.

Banyak pekerjaan rumah dari peninggalan terdahulu dari berbagai aspek yang harus dijawab, yang ini tentunya menjadi sebuah tantangan. Karena itu, Maulana Habib Luthfi bin Yahya berharap generasi-generasi penjawab itu bisa muncul khususnya dari UIN Maliki Malang. 

Indonesia yang terbentang luas dengan segala macam sumberdaya yang dimiliki atas karunia Allah SWT, tentunya menjadi modal dalam upaya untuk melakukan pengembangan ilmu.

Dengan itu semua, tentu merupakan satu kekuatan yang luar biasa dalam bekal membangun publik dan umat, baik dalam bidang kedokteran, antariksa, astronomi, ekonomi dan sebagainya.

Para sarjana ketika lulus dari perguruan tinggi, menurutnya tak perlu lagi dalam membahas khilafiyah. Hal itu seringkali membuat ketertinggalan karena masih terpengaruh bahasan hal tersebut. "Sudah seharusnya generasi kita dalam dunia akademis maupun non akademis, perguruan tinggi maupun pesantren bisa memberikan kebermanfaatan dan luar biasa. Banyak yang berbobot sebetulnya," terangnya.

Selain itu, dijelaskan, jika bukan hanya pintar di otak, namun seorang manusia juga harus pintar di hati. Artinya, sebuah hati harus dihiasi dengan dzikir untuk membersihkan kotoran-kotoran maupun sifat kurang terpuji yang tertanam dalam hati.

"Dzikir akan membantu mencerahkan hati, kemudian harus membangun mental melalui spiritual," jelasnya.

Namun dzikir di sini tak hanya melafalkan sebuah bacaan semata, dengan berdzikir, tentunya juga membangun karakter maupun keimanan yang itu semakin mendekatkan manusia kepada Allah SWT.

"Selalu kita ditunjukkan oleh Allah bahwa ternyata kita tak sendirian," pungkasnya.

Topik
UIN MalangSyiar Ramadan UIN MalangSyiar RamadanHabib Luthfi bin Yahya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru