Fenomena KKN Makin Mengerikan, Yayasan Pendidikan Politik dan Peradaban Didirikan di Malang

Apr 29, 2021 12:27
Pembina Yayasan Politik dan Peradaban, Luthfi J Kurniawan (Foto: Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Pembina Yayasan Politik dan Peradaban, Luthfi J Kurniawan (Foto: Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih menjadi momok bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar pakar dan ahli menyebut, praktik KKN sudah menjadi bagian dan fenomena kontemporer di Indonesia. Mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.

Berangkat dari keprihatinan itu, Yayasan Pendidikan Politik dan Peradaban pun didirikan. Yayasan yang konsentrasi pada pendidikan politik dan demokrasi itu diresmikan pada Selasa (27/4/2021) sore di Hotel Sahid Montana I, Kota Malang.

Pembina Yayasan Pendidikan Politik dan Peradaban, Luthfi J Kurniawan menyampaikan, berbagai sektor mulai dari lembaga pendidikan hingga pemerintahan mengalami pergeseran yang berpengaruh pada politik dan demokrasi di Indonesia. Sejak pemilu pertama pasca orde baru hingga saat ini, nafas dari demokrasi itu masih tampak sangat bias.

"Perguruan tinggi kita bahkan pers saya katakan juga sakit. Pemerintah dan partai politik juga asyik dengan dirinya sendiri," katanya.

Bahkan, praktik korupsi begitu marak terjadi. Jika beberapa tahun lalu korupsi marak terjadi di tataran pusat, maka kini sudah menyentuh ke ranah pemerintah daerah. Kondisi itu menurutnya tak harus diperdebatkan. Karena itu merupakan sebuah kesalahan kolektif yang rutenya belum jelas.

Sehingga, lanjutnya, perlu adanya sebuah upaya untuk mendorong partai politik, dunia pendidikan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat dengan cara yang lebih nyata. Karena diprediksi, butuh waktu 10 tahun hingga 20 tahun ke depan lagi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara kolektif dalam melawan korupsi.

"Maka harus disepakati untuk mendorong dan memaksa parpol untuk berubah, mulai proses rekruitmen calon legislatif. Kemudian mendorong perubahan konsep pendidikan, dan menciptakan generasi yang lebih bersih," tegasnya.

Tantangan untuk memerangi demokrasi tak bertuan itu menurutnya juga sangat butuh pendekatan lain. Salah satunya adalah pendekatan sosial budaya, yang banyak dilakukan di masa awal kemerdekaan. Kritik yang dilontarkan melalui syair dan lain sebagainya menjadi bagian penting untuk menyegarkan politik dan demokrasi di Indonesia.

"Politik kita saat ini terlalu kering. Pendekatan kebudayaan juga perlu agar nggak kering," jelas Luthfi.

Ketua Yayasan Pendidikan Politik dan Peradaban, Ali Maksum menambahkan, yayasan ini akan konsentrasi pada pendidikan politik yang berbasis pada nilai etika dan peradaban. Pembinaan untuk mempersiapkan generasi muda, terutama mahasiswa dan para aktivis melalui berbagai macam pelatihan.

Bukan hanya lakon baru saja, pendidikan politik hingga demokrasi juga akan menyasar para politisi di Indonesia. Sehingga, ada kesadaran dari mereka dalam berpolitik dan melaksanakan aspirasi masyarakat serta menjaga integritas dan ketahanan diri dalam menghadapi godaan kekuasaan.

"Agar tidak terjerumus dan memiliki prinsip yang kuat," tegasnya.

Dalam proses pendidikan, yayasan akan menggandeng para praktisi di berbagai perguruan tinggi di Malang. Selain itu juga akan mengundang para politisi dengan integritas tinggi untuk berbagi pengalamannya dengan para generasi muda dan generasi penerus.

Dengan memprioritaskan diri pada calon pemimpin di masa depan, ia berharap kondisi politik dan demokrasi di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun hingga 20 tahun ke depan akan menjadi lebih baik lagi dari hari ini.

"Ini ibarat nyalakan lilin di tengah kegelapan dan bisa meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia," terang Maksum.

Meski berpusat di Malang, dia optimis pergerakan untuk menciptakan pemimpin masa depan yang amanah akan bisa menggema di seluruh Indonesia. Karena ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong partai politik, masyarakat, hingga pemerintah untuk menjalankan praktik demokrasi yang sesungguhnya.

Topik
praktik korupsiluthfi j kurniawansuryono bhakti

Berita Lainnya

Berita

Terbaru