Perhatikan, Rasulullah Larang Umatnya Pakai Sandal Sebelah

Apr 29, 2021 08:10
Ilustrasi larangan memakai sandal sebelah (Ist)
Ilustrasi larangan memakai sandal sebelah (Ist)

MALANGTIMES - Memakai sandal menjadi rutinitas setiap hari kebanyakan orang saat beraktivitas. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Selain untuk menghindari hal yang membahayakan seperti benda tajam, memakai sandal juga turut menghindari dari kotoran dan najis. Dari alasan tersebut, ternyata, Islam juga mengatur mengenai adab-adab memakai sandal atau alas kaki.

Seperti apa adab-adab yang dianjurkan dalam mengenakan alas kaki atau sandal?, Adakah larangan-larangan tertentu dalam mengenakan alas kaki atau sandal?, Mari simak ulasannya ini hingga tuntas agar tak salah tafsir dan sesat. 

Ya, adab memakai sandal yang ditekankan dalam Islam adalah larangan memakai sandal sebelah. Meskipun saat itu sandal tiba-tiba putus saat berjalan, namun hal tersebut sudah ditegaskan Rasulullah melalui sabdanya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda, "Jika tali sandal kalian copot, maka janganlah berjalan dengan satu sandal sehingga memperbaiki sandal yang rusak,"(HR Muslim).

Mengenai larangan mengenakan satu sandal saat berjalan, para ulama memberikan beragam keterangan tentang larangan nabi tersebut.  Imam An Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan, bahwa larangan tersebut karena menyebabkan hal yang tak pantas terlihat. Akan terlihat suatu penampakan yang cacat dan menyelisihi sikap wibawa.

Di samping itu, kaki yang memakai sandal, akan lebih tinggi dari kaki sebelahnya, sehingga hal itu tentunya juga akan membuat kesulitan saat berjalan, bahkan bisa saja menyebabkan terpeleset. Sehingga larangan memakai sandal sebelah ini begitu ditekankan untuk menghindarkan dari hal-hal buruk yang bisa menimpa pemakainya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian berjalan dengan satu sandal. Hendaknya kedua sandal tersebut dilepas ataukah dipakai keduanya,"(HR Bukhari dan Muslim).

Namun seseorang yang mengalami masalah pada sandalnya saat berjalan, bukan berarti memilih berjalan dengan sandal sebelah. Seseorang yang sandalnya putus sebelah, hendaknya berhenti sejenak untuk memperbaiki sandal tersebut. Namun apabila sudah tak lagi bisa diperbaiki, maka hendaknya melepaskan semua sandal dan kembali melakukan perjalanan dengan tanpa alas kaki.

Mengenai hukum memakai satu sandal, banyak ulama menjelaskan, jika hukumnya adalah makruh. Pendapat Imam An Nawawi, adalah hukumnya makruh. Sebab, hal ini adalah termasuk adab dan irsyad. Dalam kaitannya larangan memakai sandal sebelah, ada juga ulama yang menyatakan, bahwa seseorang harus juga berlaku adil pada kaki.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal. Hendaklah  dia memakai kedua-duanya atau melepas kedua-duanya,"(HR Bukhari dan Muslim).

Lalu memakai sandal sebelah, apakah termasuk cara setan?.

Larangan berjalan dengan memakai sandal sebelah, ternyata bukan hanya saja berkaitan dengan wibawa, rentan terpeleset atu rentan terkena kotoran atau najis. Ada juga ulama yang berpendapat, jika berjalan dengan satu sandal, maka seseorang tersebut mengalami permasalahan akal. Selain itu, ada juga yang berpendapat, jika memakai sandal sebelah adalah merupakan cara berjalan setan.

Ibn Al Rabi dalam Syarh Musykil Al Atshar mengatakan, "sesungguhnya setan berjalan dengan satu sandal," (HR Ath Thawawi). Di sisi lain, Al Baihaqi berpendapat, bahwa memakai sandal sebelah merupakan makruh karena hal tersebut memicu popularitas. A uak mata akan tertarik memandangi orang yang berprilaku aneh seperti itu.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu, Rasulullah SAW bersabda," "Sesungguhnya setan berjalan menggunakan satu sandal,". Dengan hadist ini menegaskan jika memakai satu sandal merupakan gaya berjalan setan.

Nah, sahabat MalangTIMES yang beriman, itulah alasan dan mengapa memakai sandal sebelah dilarang karena menimbulkan hal buruk dan termasuk salah atau gaya setan. Ulasan yang dirangkum dari Islam populer dan juga beberapa sumber lain tersebut, diharapkan bisa memberikan pengetahuan positif yang itu semakin bisa meningkatkan keimanan kita semua kepada Allah SWT.

Topik
pondok pesantren alikhlasRasulullah SAW

Berita Lainnya

Berita

Terbaru