Dampak Perceraian Terhadap Anak Dikupas di Webinar Psikoterapi Unikama

Apr 27, 2021 20:01
Ifdil, pemateri dialog belajar psikoterapi dan konseling praktis untuk optimalisasi pelayanan bagi peserta didik (Ist)
Ifdil, pemateri dialog belajar psikoterapi dan konseling praktis untuk optimalisasi pelayanan bagi peserta didik (Ist)

MALANGTIMES - Acara dialog Universitas PGRI Kanjuruhan Malang bekerja sama dengan ABKIN Kota Surabaya dalam webinar dengan tema Belajar Psikoterapi dan Konseling Praktis untuk Optimalisasi Pelayanan bagi Peserta Didik, tanggal 27-30 April 2021 melalui Zoom, Ifdil Konsultan dari Universitas Negeri Padang merespons pertanyaan dari peserta dialog mengenai dampak perceraian orangtua pada psikologis anak.

Menurutnya, problematika pasca-perceraian cukup banyak, terutama masalah trauma healing dari anak. Anak akan cenderung mengalami ketakutan di masa mendatang jika masa kecilnya sering melihat physical dan sexual abuse yang dilakukan orangtuanya. Karena kekerasan seksual biasanya yang mendasari perceraian walaupun tidak semuanya.

“Anak perempuan korban perceraian akan takut dan membenci laki-laki jika tidak segera diberikan trauma healing. Begitu pun sebaliknya, anak laki-laki kepada perempuan. Selain itu kita harus menanamkan sikap forgiveness untuk menjabarkan permasalahan dan belajar memaafkan dan ikhlas pada masa lalunya,” ujar Ifdil.

Dengan menerapkan metode forgiveness ini, anak korban perceraian akan belajar menghargai dan berdamai dengan masa lalunya. Karena setelah berdamai dengan masalahnya, maka mental dari seseorang akan semakin terasah dan kuat.

Selain itu, Ifdil memberikan solusi terhadap permasalahan sekolah yang kurang memberikan akses dan fasilitas kepada pihak bimbingan konseling. 

“Memang BK itu penting, tapi kita tidak bisa hanya dengan bilang kepada murid-murid ‘BK itu penting’ tanpa menjelaskan bagaimana, mengapa, dan apa yang membuat BK menjadi penting,” tandas Ifdil.

Menurutnya, BK harus melakukan penjelasan terhadap pihak sekolah mengenai seberapa penting BK, maka dari itu sekolah akan mau memberikan fasilitas yang lebih layak kepada BK.

“Selain itu, BK juga bisa melakukan inisiatif berupa mencari sponsor kepada berbagai pihak lain non sekolah, dan jika berhasil sekolah akan melihat ini sebagai langkah yang baik dari BK,” pungkas Ifdil.

Topik
kasus jambret bangkalanlaziznukonsultan universitas negeri padangUnikamaBimbingan Konseling

Berita Lainnya

Berita

Terbaru