Beber Keberhasilan Pengusaha Tiongkok, Dahlan Iskan Sebut ini Jadi Kunci Kesuksesan

Apr 24, 2021 17:21
Dahlan Iskan dalam Understanding Chinese Culture in Business (Sumber: screenshot Zoom)MALANG
Dahlan Iskan dalam Understanding Chinese Culture in Business (Sumber: screenshot Zoom)MALANG

MALANGTIMES - Menteri Badan Usaha Milik Negara (Menteri BUMN) periode 2011-2014 Dahlan Iskan membeberkan rahasia keberhasilan para pengusaha Tiongkok. Hal itu diungkapkan Dahlan dalam dialog online bertajuk Cross Cultural Dialogue Series 1 Ep 2: Understanding Chinese Culture in Business yang digelar Corporate Communications MarkPlus, Inc pada hari ini, Sabtu (24/4/2021).

Dalam dialognya, Dahlan pada mulanya menjabarkan pengalamannya saat berkunjung ke China. Dalam kunjungan itu, para pengusaha tersebut sangat menghormati tamu dengan melakukan riset tentang siapa dan bagaimana latar belakang dari tamu tersebut.

“Mereka menyediakan 40 jenis hidangan makanan saat itu, tidak ada babi, tidak ada alkohol. Mereka tahu saya seorang Muslim dan tidak makan babi dan minum alkohol, namun ada daging ular, katak, dan kura-kura. Saya lantas tidak protes kepadanya, toh ada puluhan makanan dan dia juga tidak tahu apa saja yang haram di Islam, dikira cuma babi dan alkohol,” ujar Dahlan.

Menurut Dahlan, pada dasarnya semua manusia ingin berbuat baik kepada sesama dan saling menghargai. Ajaran kepercayaan Tiongkok seperti Taoisme, Konghucu, dan Buddhisme mengajarkan untuk menjadi manusia yang benar-benar utuh sama seperti yang tercantum di Al-Qur’an.

“Mulai dari Al Fatihah sampai An-Nas itu mengajarkan kita bagaimana untuk menghidupi kehidupan dan menjadi manusia seutuhnya, jadi konsepnya mirip dengan filsafat Taoisme," tegas Dahlan.

Tidak seperti penyebaran budaya Islam pada Persia (sekarang Iran) dan Gujarat (meliputi India dan Pakistan) yang menemui sejumlah resistensi karena superioritas kedua bangsa tersebut, pengenalan Islam di Tiongkok lebih mudah karena memiliki persamaan dalam hal menjadi manusia yang berbuat baik. Hanya saja masalahnya ada di aksara yang digunakan Arab dan Tiongkok jauh berbeda.

Dahlan juga menambahkan bahwa tak heran Tiongkok menjadi negara yang ahli dalam berbisnis. Pasalnya, sejak zaman nabi pun Tiongkok telah menjadi negara pedagang dengan komoditi terbesarnya sutra dan kertas.

“Perdagangan sutra dan kertas dari Tiongkok ini menjadi efektif karena perdagangan sifatnya netral dari suku agama atau ras tertentu, semua orang butuh uang. Dan dalam Taoisme menjelaskan pengakuan terhadap otoritas dan cara menjadi pemimpin dengan cara memerdekakan diri dan mengambil jalan tengah," tandas Dahlan.

Sebagai informasi, selain Dahlan Iskan, dialog online tersebut juga menghadirkan Sufi Practitioner, Ust. Yusuf Daud, Chairman of CIMA, Arif Harsono, dan Hermawan Kartajaya selaku Co-Founder of CIMA.

Dialog yang diselenggarakan melalui zoom ini berfokus kepada budaya Tiongkok dalam berbisnis. Terdapat dua filosofi utama yang menjadi akar dari kultur bisnis Tiongkok yakni “With harmony, comes prosperity” dan “A word is worth a thousand gold bar” yang menjadi dasar bagi pebisnis Tiongkok untuk menjalankan dan membangun usaha mereka.

Topik
Dahlan Iskanpengusaha tiongkokbudaya islambudaya tiongkokperlindungan kesehatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru