Dirjen Vokasi Kemendikbud: Memilih Sekolah Harus Berdasarkan Passion

Apr 21, 2021 19:16
Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud
Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud

MALANGTIMES - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan beberapa industri meninjau kembali kurikulum yang sudah diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kurikulum SMK berbasis link and match menjadi fokus pengembangan.

Kemendikbud mengundang total 59 industri guna melaksanakan kajian pembelajaran dan pengembangan kurikulum SMK. Beberapa industri  yang terlibat antara lain PT Waskita Karya, PT Astra Internasional Tbk, ASPERINDO, PT IKI, PLN, PT Telkom, Djarum Foundation, PT Bank Muamalat Indonesia, dan masih banyak lagi.

Menurut Wikan Sakarinto, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud, kurikulum SMK harus siap untuk diintervensi oleh industri yang berkaitan.

“Seperti inilah kurikulum yang ingin kami realisasikan bersama. Semoga benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan industri mulai dari konteks input, output, hingga outcomenya,” papar Wikan, dikutip dalam keterangan resmi Kemendikbud, Rabu (21/04/2021).

Wikan menambahkan pengembangan kurikulum SMK ini terikat dengan program link and match yang meliputi paket 8+i yang melibatkan dunia usaha dan dunia industri di segala aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi.

8 paket yang termasuk dalam 8+i meliputi kurikulum yang disusun bersama berstandarkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pembelajaran berbasis project riil, pengajar dan industri minimal 50 jam per semester per prodi, praktik kerja industri minimal satu semester, sertifikasi kompetensi, training rutin pengajar bersama DUDI, riset terapan bersama DUDI, dan komitmen serapan oleh DUDI. Sementara +i adalah beasiswa atau ikatan dinas dari DUDI.

Wikan berharap pola pikir dan visi calon peserta didik untuk memilih SMK dan vokasi bukan karena faktor keterpaksaan, namun dari passion yang sesuai dari masing-masing peserta didik.

“Bersama dengan industri, ini yang harus ditingkatkan. Memilih sekolah itu berbasarkan passion, bukan karena gelar dan sertifikat, namun passion, agar anak-anak tahu visi untuk masuk SMK,” tandas Wikan.

Topik
pendidikan vokasiProgram Pendidikan VokasiKurikulum SMK

Berita Lainnya

Berita

Terbaru