Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Pieter Sahertian. (Foto: Dok. Malangtimes)
Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Pieter Sahertian. (Foto: Dok. Malangtimes)

MALANGTIMES - Mediasi antara mahasiswa asal Ambon Vs mahasiswa asal Flores yang dilakukan pihak kampus dan kepolisian menunjukan bahwa pemicu tawuran ini akibat salah paham.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian menjelaskan bahwa awal mula pertengkaran disebabkan masalah perempuan. Sore itu beberapa mahasiswa Flores sedang nongkrong di sekitar Unikama, lalu salah satu mahasiswa Ambon X berjalan dengan kekasihnya. 

Saat itu X mengambil uang di ATM, dan kekasihnya menunggu di luar ATM. Setelah selesai, X mengetahui bahwa mahasiswa Flores sedang menggoda kekasihnya. X pun naik pitam, X mengantarkan kekasihnya pulang lalu ia menceritakan kepada teman sesama Ambon. Dari cerita itu mereka sepakat untuk mendatangi tongkrongan mahasiswa Flores. 

"Pihak Flores bilang tidak menggoda hanya menyapa, tapi si X menilai itu adalah godaan. Jadi salah paham," jelas Pieter, kepada MALANGTIMES.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Pieter juga mengakui bahwa masalah perempuan merupakan hal yang sensitive pemicu perkelahian diantara mahasiswa-mahasiswa ini.

"Selain perempuan, masalah tanah juga sering jadi pemicu. Jadi memang wajar saja dari menggoda bisa menimbulkan tawuran seperti ini," tutupnya. (*)