Terkait Sekolah Tatap Muka, Dede Yusuf: Nggak Usah Nunggu Bulan Juni

Apr 12, 2021 19:56
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi saat ditemui MalangTIMES.com usai menggelar pertemuan dengan Pemerintah Kota Malang, Senin (12/4/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi saat ditemui MalangTIMES.com usai menggelar pertemuan dengan Pemerintah Kota Malang, Senin (12/4/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Rencana penerapan sekolah tatap muka yang diwacanakan oleh Pemerintah Pusat akan digelar pada Juni 2021, memantik reaksi dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi.

Dede Yusuf mengatakan, penerapan sekolah tatap muka tidak perlu menunggu Bulan Juni 2021. "Jika sudah divaksin para guru dan tenaga pendidik itu sudah boleh tatap muka dengan prokes (protokol kesehatan, red) yang ketat. Nggak usah nunggu Juni," ungkapnya kepada MalangTIMES.com, Senin (12/4/2021). 

Politisi Partai Demokrat ini menuturkan, bahwa jika nantinya akan digelar proses belajar mengajar secara tatap muka, selain menjaga protokol kesehatan dengan ketat, juga harus ada izin dari orangtua siswa yang bersangkutan. 

"Nah yang masih kami tekankan adalah harus ada database siswa yang tinggal dengan orangtua yang punya komorbid. Kalau orangtua punya penyakit komorbid, sebaiknya dia jangan sekolah tatap muka. Karena dia nanti keluar masuk ketemu orangtuanya," ujarnya. 

Pria yang juga dikenal sebagai aktor film layar lebar dan berbagai judul sinetron ini mengatakan, konsep sekolah tata muka yang dimaksud bukanlah konsep sekolah tatap muka seperti kehidupan normal seperti biasa. 

"Jangan dibayangkan sekolah tatap muka itu dibuka seperti biasa. Tapi tatap muka ini dimulai dari 30 persen, meningkat 50 persen. Dan tidak boleh lebih dari 50 persen, minimalnya 15 persen kalau nggak salah. Kalupun yang masuk sekolah hanya 2-3 orang nggak papa juga, yang penting sekolah tidak boleh tidak membuka tatap muka," terangnya. 

Selain itu, Dede Yusuf juga menekankan terkait vaksinasi. Tidak dilakukannya vaksinasi terhadap anak-anak ataupun seseorang mulai usia 3 sampai 30 tahun karena sedikit sekali yang terkena Covid-19. 

"Karena memang data anak-anak rentan usia 3 sampai 30 tahun, memang sedikit sekali yang terkena. Bukannya tidak terpapar, mungkin terpapar. Tapi bahayanya bukan buat dia, tapi orangtuanya. 30 tahun ke atas rentan terhadap Covid-19 tersebut," terangnya. 

Sementara itu, disampaikan Dede Yusuf berdasarkan hasil survei yang dilakukan terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka, bahwa sebanyak 85 persen orangtua menginginkan dan mendukung konsep sekolah tatap muka. 

Karena selama lebih dari satu tahun ini, saat pelaksanaan sekolah daring (dalam jaringan) dikatakan Dede Yusuf, banyak orangtua yang juga sudah lelah dan khawatir jika anak-anaknya tidak belajar secara tatap muka dengan melihat guru serta temannya secara langsung. 

"Setelah saya tanya orangtua mayoritas sangat senang tatap muka. Karena orang tuanya capek ngurusin di rumah. Survei 85 persen menginginkan tatap muka, 15 persen mungkin masih belum siap," ujarnya. 

Lanjutnya, jika diperhatikan dalam satu tahun terakhir selama pandemi Covid-19 para siswa belajar di rumah melalui daring, hasil optimalisasi pelajaran mereka tidak belajar secara serius. 

"Artinya, optimalisasi pembelajaran hanya 50 persen. Lebih banyak main game online. Kuota yang diberikan habisnya yaa buat main game," katanya. 

Dede Yusuf menganggap bahwa hal tersebut dapat berbahaya dan berakibat fatal bagi tumbuh kembang seorang anak dari sektor pendidikan. "Semangat untuk kembali sekolahnya berkurang, ada yang bekerja di beberapa daerah, ada yang nikah muda. Di beberapa daerah ada juga yang tidak melanjutkan sekolah, karena dia membantu orangtuanya," ujarnya. 

Terakhir, Dede Yusuf berharap anak-anak yang saat ini sedang belajar secara daring untuk dapat semangat belajar kembali bersekolah tatap muka. Karena hal itu, anak-anak akan mulai kembali terbiasa melakukan interaksi sosial dengan era baru yakni penerapan protokol kesehatan ketat.

Topik
konsep sekolah tatap mukaSekolah Tatap MukaDPR RImanfaat istirahat

Berita Lainnya

Berita

Terbaru