Rakernas Sema-PTKIN di Jambi, Ketua Dewan Penasihat: Indonesia Harus Lihat Peluang Bonus Demografi

Apr 09, 2021 18:37
Suasana Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema-PTKIN) se-Indonesia yang diadakan di UIN Sultan Thaha Saifuddin (6-9/04/2021).
Suasana Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema-PTKIN) se-Indonesia yang diadakan di UIN Sultan Thaha Saifuddin (6-9/04/2021).

MALANGTIMES - Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Sema-PTKIN) se-Indonesia diadakan di UIN Sultan Thaha Saifuddin pada  6-9 April 2021. 

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Penasihat Sema-PTKIN Aldi Nur Fadil Auliya mengungkapkan, bonus demografi atau jumlah penduduk usia produktif akan ditakutkan menjadi bencana yang disebabkan kurangnya optimalisasi peran senat mahasiswa di ranah perguruan tinggi.

“Senat mahasiswa kan adalah lembaga daulat tertinggi mahasiswa di lingkungan kampus. Segala aspirasi mahasiswa dan arah program kerja guna meningkatkan skill dan kapasitas individu dikontrol oleh senat. Jika tidak memperhatikan peluang dan tantangan bonus demografi, maka akan berpotensi menjadi bencana demografi," tegas mantan ketua senat mahasiswa UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim) Malang itu.

Aldi juga menekankan peran mahasiswa sebagai agent of change haruslah menjadi penggerak dalam membuka ruang-ruang pemikiran publik secara luas dan visioner. 

Di sisi lain, Aldi menambahkan perlunya melakukan pelatihan skills individu mengingat kompetensi dan kualitas diri menjadi fokus setiap mahasiswa untuk menyambut generasi Indonesia Emas 2045 mendatang.

“Diperkirakan pada tahun 2045 angka usia produktif secara kuantitas akan jauh lebih besar. Namun jika pemuda saat ini tidak memiliki kreativitas, inovasi, serta produktivitas tinggi, maka yang akan terjadi adalah Indonesia akan terbebani dan bencana demografi tak dapat terelakkan,” ucap dia. 

Menurut Aldi, pembangunan karakter bangsa yang toleran, jujur, inovatif, kreatif, produktif, dan disiplin merupakan hal yang paling fundamental dan harus ditanamkan sejak dini. Negara-negara seperti Jepang, Hongkong, Singapura, dan Korea Selatan yang dulu masuk dalam kategori negara berkembang akhirnya menjadi negara maju karena dapat memanfaatkan bonus demografinya.

Namun, pandemi yang meluluhlantakkan masyarakat global memiliki pengaruh terhadap perjuangan yang dilakukan di Indonesia selama ini dalam menyambut bonus demografi. Pasalnya, jumlah pengangguran selama masa pandemi meningkat drastis. Tentu saja hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Selain itu, dunia telah mengalami revolusi industri 4.0 dan secara otomatis penggunaan teknologi menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat agar dapat melihat dan merealisasikan peluang-peluang yang baik.

Masalah selanjutnya dapat dilihat dari tingkat migrasi masyarakat dari kota ke desa karena kehilangan pekerjaan dan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Tentu peran mahasiswa dalam hal-hal seperti itu  cukup vital dan sangat dibutuhkan.

“Mahasiswa harus turun untuk hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan menggunakan advokasi dan pendampingan masyarakat agar dapat membangun desa dengan baik sehingga pembangunan semakin merata dan Indonesia tetap mampu memetik peluang bonus demografi," pungkas Aldi.

Topik
Bonus DemografiSema PTKINGedung baru RSUD dr Soedono MadiunUIN Maliki Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru