Soft Skill Jadi Keluhan, BBPPMPV BOE Dorong Link and Match Industri dan Pendidikan Vokasi

Apr 09, 2021 13:40
Plt Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronik (BBPPMPV BOE) Malang, Dr Ir Abd Rochim MM (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)
Plt Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronik (BBPPMPV BOE) Malang, Dr Ir Abd Rochim MM (foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Peran Industri Dunia Usaha Kerja (Iduka) saat ini begitu dibutuhkan dalam pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM). Sebab, hal tersebut menyangkut bagaimana kebijakan kebutuhan sepesifikasi SDM yang dibutuhkan Iduka.

Plt Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronik (BBPPMPV BOE) Malang, Dr Ir Abd Rochim MM, mengatakan jika belakangan soft skill para SDM banyak dikeluhkan oleh pelaku industri, jika dibandingkan dengan hardskill.

"SDM pintar tapi tidak pandai berkomunikasi, pintar kerja tapi tidak bisa bekerja dengan tim, pintar kerja tapi tidak tahan dengan sebuah pekerjaan, itu adalah softskill yang sering dikeluhkan dan harus dibangun lebih lagi. Industri harus turut peduli, sekali-kali harus mengajar, orang-orang hebat banyak di industri," terangnya, saat ditemui di Harris Hotel (8/4/2021).

link-and-match-pendidikan-vokasi-219f8cb17d395defd.jpg

Karenanya, perlu terdapat link and match antara pelaku industri maupun penyelenggara pendidikan vokasi untuk mengetahui kebutuhan sebenarnya dari industri. Sehingga, dengan link and match akan diketahui dari kebutuhan maupun apa yang perlu dibangun dari SDM.

"Dalam hal ini, tentu bukan hanya siswa yang diuji, guru juga perlu upskilling, bahkan termasuk dosen juga. Nah pelalu industri sendiri juga diminta terlibat, misalnya turut menjadi pengajar, sehingga bisa menyampaikan langsung kebutuhan mereka," jelasnya.

Karenanya, dalam menjembatani itu, BBPPMPV BOE Malang menggelar Sarasehan Pendidikan Vokasi Dalam Rangka Pembangunan SDM Unggul dan Peningkatan Daya Saing Bangsa dengan menghadirkan 19 dunia usaha dan industri dari berbagai daerah di Indonesia serta beberapa pimpinan Politeknik.

"Membangun Sumber Daya Menusia yang unggul dan kompeten, tidak bisa diwujudkan tanpa melibatkan para stakeholder, yakni para pelaku dunia industri maupun dunia kerja. Objeknya adalah di pendidikan kejuruan SMK, perguruan tinggi vokasi Politeknik hingga lembaga khusus pelatihan. Karena itu, kami lalukan sarasehan untuk berbicara bersama, guna menyiapkan SDM ini," ungkapnya.

(Foto1)

Sementara itu, Direktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Eko Julianto, mengatakan, antara dunia kerja dan penyedia tenaga kerja, tentunya harus ada kesamaan persepsi.

Pendidikan vokasi saat ini menjadi tulang punggung dunia industri. Karenanya, pada kesempatan ini tentunya merupakan momentum dalam meluruskan kembali tentang pendidikan vokasi.

link-and-match-pendidikan-vokasi5ec294cea3a8ea10.jpg

"Kalau memang dari SMK mau melanjutkan ke perguruan tinggi, ya ke Politeknik, sesuai jalur. Harus lebih terarah," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika pelaku industri diharapkan untuk lebih aktif berpartisipasi. Pendidikan vokasi menyediakan tenaga kerja untuk kebutuhan industri. Akan tetapi, disisi lain, pelaku industri terka kurang berkomunikasi dan tidak mengetahui dan mengurusi kurikulum pendidikan.

"Ya kalau nggak menginformasikan ke kita, tentu akan sulit, kita tidak akan tau. Makanya perlu link and match. Ini kesempatan untuk berkolaborasi dalam pendidikan yang terintegrasi," terangnya.

(Foto2)

Sementara itu, dari sisi pelaku industri, Dr Farhan, Direktur PT CNC Controller Indonesia, menambahkan, kebijakan link and match dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi berimplikasi tentunya mengakibatkan dunia usaha dan industri harus menjalin kerjasama dengan Dirjen Pendidikan Vokasi, SMK, lembaga kursus maupun Politeknik.

Namaun pihaknya berharap, jika guru maupun dosen, tentunya harus dilatih dengan standarisasi yang lebih tinggi ataupun standar industri. Memang tak dipungkiri, sebelumnya masih banyak SDM yang standarnya di bawah standar industri.

"Tapi ini memang bagus bagi kami sebagai pelaku industri. Karenanya kami sangat mendukung. Kami harap guru maupun dosen juga harus dilatih dengan standarisasi lebih tinggi atau sertifikasi industri. Sehingga jika guru maupun dosen memahami standar industri, maka siswa tentu akan mendapatkan induksi standar yang sama dengan harapan terjadi link and match," pungkasnya.

 

 

Topik
pendidikan vokasihadiah kompetisi TikTok Piala Wali Kota MalangBBPPMPV BOE Kota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru