Kue Kering dan Jejak Lidah Barat di Kota Malang (2)

Ada Sejak 1930, Toko Kue Kering ini Jadi Primadona di Era Kolonial Belanda

Apr 08, 2021 11:43
Toko Madjoe hadirkan jajanan khas era kolonial. (Foto: Dokumentasi JatimTIMES).
Toko Madjoe hadirkan jajanan khas era kolonial. (Foto: Dokumentasi JatimTIMES).

MALANGTIMES - Saksi bisu jejak lidah barat di Kota Malang yang akan dibahas kali ini adalah Toko Madjoe. Toko kue kering yang bertahan selama hampir satu abad itu menjadi salah satu toko kue kering yang tetap bertahan dengan cita rasa Belanda.

Toko Madjoe sendiri berdiri sejak tahun 1930. Selain memiliki cita rasa Belanda, toko yang berada di kawasan Pasar Besar Kota Malang itu juga tetap mempertahankan bangunan lawasnya. Interiornya juga akan membuat sebagian besar orang bernostalgia.

Toko yang berlokasi di Jalan Pasar Besar No. 30B, Kota Malang itu, hadir dengan segudang jajanan kuliner khas Belanda. Di mana, pada zamannya toko ini kerap menjadi jujugan orang Belanda yang tinggal di Malang.

Lantas, seperti apa sih cerita dari berdirinya Toko Madjoe ini?

Cucu Pemilik Toko Madjoe, Charles menyatakan, toko ini dulunya hanyalah halaman saja. Di belakangnya adalah rumah besar sampai tembus ke Jalan Wiro Margo. Sepeninggal buyutnya barulah tanah itu dibagikan ke saudara-saudaranya.

"Pendiri pertamanya (Toko Madjoe) itu siapa kita kurang jelas. Tapi yang jelas aset itu peninggalannya Cukam. Nama lengkapnya The Tjoe Kam. Itu asal mulanya pemilik pertamanya itu. Sekarang ini generasi keempat sampai ke orang tua saya," bebernya.

Kala itu, kata Charles, banyak orang Belanda yang tinggal di Malang. Budaya mereka suka tea time sambil makan kue kering. Nah, kue kering di Toko Madjoe inilah yang menjadi primadonanya.

"Sampai tahun 70-an waktu itu saya masih SD itu masih sempet tahu ada beberapa orang Belanda yang dulunya pernah tinggal di Indonesia masih mencari tempat kami," ungkapnya.

Lalu, ada jajanan kuliner khas kolonial apa saja di dalamnya?

Toko Madjoe ini menjual aneka kue kering. Di antaranya, kransyes, jan hagel, speculas, kaasstengels, boterkoek, banket, semprit vanila dan coklat, kenari, nastar, sagon, coklat kacang, dan lain-lain. Totalnya berjumlah 25 jenis kue.

Menariknya, semua kue kering tersebut ditata rapi dalam toples kaca yang membuat kue lebih kedap udara dan kualitasnya tetap renyah. Kue-kue ini juga diproduksi dari oven kuno dengan tabung minyak tanahnya yang masih terawat dengan baik.

"Yang masih bertahan sampai sekarang dan cukup diminati pelanggan itu yang bulat ada kenarinya itu lho. Ada juga kransyes, itu semacan crunch itu kan kayak karangan bunga. Dan khas Belanda," terangnya.

Kue-kue kering di toko ini bisa dibilang, kue primadonanya kaum Belanda pada zamannya. Meski begitu, masyarakat lain seperti Tionghoa, Manado, Ambon, Papua, Kalimantan termasuk Jogja juga ikut menjadikan jajanan ini menjadi yang terfavorit.

Bahkan, saking khas kolonialnya terasa, jika akan berbelanja aneka kue di Toko Madjoe, semua pelanggan diwajibkan berbahasa Belanda.

"Dulu itu kan nenek saya lulusan sister school, sekarang Corjesu itu ya. Di sana itu mengenyam pendidikan Belanda, jadi teman-teman nenek saya yang langganan kue kalau ke sini berbahasa Belanda," tandasnya.

Topik
toko kuekue kering lawaskue keringtoko madjoe

Berita Lainnya

Berita

Terbaru