Melalui Bimker, Warga Binaan Lapas Perempuan Malang Hasilkan Berbagai Produk Olahan

Apr 07, 2021 18:08
Petugas Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang saat berfoto bersama dengan salah satu konsumen yang membeli kecap hasil olahan dari WBP di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Selasa (6/4/2021). (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 
Petugas Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Malang saat berfoto bersama dengan salah satu konsumen yang membeli kecap hasil olahan dari WBP di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, Selasa (6/4/2021). (Foto: Tubagus Achmad/ MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Melalui Bimker (bimbingan kerja) yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang terhadap ratusan WBP (warga binaan pemasyarakatan), berbagai macam produk olahan mulai dari bahan makanan, makanan ringan hingga souvenir telah dihasilkan. 

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Tri Anna Ariyati mengatakan bahwa untuk produk unggulan dari Lapas Perempuan Kelas IIA Malang yakni kecap yang telah diproduksi sejak tahun 1985. 

"Produk unggulan kita adalah kecap. Ini produknya sudah kemana-mana. Orang sudah tahu ini produk kecap asli bikinan warga binaan dari Lapas Perempuan Malang. Semua kegiatan ini tempatnya di Bimker," ungkapnya kepada MalangTIMES.com, Rabu (7/4/2021). 

Perempuan yang akrab disapa Tri ini menuturkan bahwa dipilihnya kecap sebagai produk unggulan dari Lapas Perempuan Kelas IIA Malang karena masyarakat Indonesia mayoritas menggemari salah satu bahan makanan yang memiliki citarasa manis ini yakni kecap. 

"Untuk sementara distribusi masih kalangan sendiri. Atau dari teman-teman lapas terutamanya atau dari Kanwil itu biasanya kalau kesini pasti belanja kecap. Pasti sudah tahu dia," ujarnya. 

Lanjut Tri bahwa dalam satu minggu, para WBP dapat memproduksi kecap sebanyak 7 liter. Seiring berjalannya waktu dan banyaknya permintaan akhirnya para WBP mulai berinovasi dengan menambah citarasa kecap pedas dan ekstra pedas. 

"Semua tamu yang datang kesini pasti carinya kecap. Awalnya kecap manis, baru nambah varian. Karena banyaknya permintaan juga kan. Bikin yang pedas. Yang pedas kurang bikin dong yang ekstra pedas," terangnya. 

Selain produk unggulan kecap, Tri juga mengatakan bahwa Lapas Perempuan Kelas IIA Malang juga terus berinovasi dengan menghasilkan produk-produk makanan ringan hingga souvenir yang tentunya semua dibuat oleh WBP. 

"Kita selalu berinovasi dan melakukan terobosan-terobosan salah satunya keripik aneka sayuran. Ahamdulillaah banyak juga peminatnya di kalangan kita semua. Kemudian ada juga keripik cabai, keripik bawang bombay, keripik bunga kol," katanya. 

Selain produk bahan makanan maupun makanan ringan, juga terdapat produk barang yakni souvenir yang dapat menjadi buah tangan atau keperluan sehari-hari dengan motif serta ornamen yang menarik. 

Mulai dari tas rajut, gantungan kunci, peci rajut, masker dengan motif yang menarik, taplak rajut, sapu lidi dengan gagang yang menarik dan juga kaos. "Sekarang ini kita sedang menjahit juga. Kita juga sudah menerima orderan bikin kaos. Tapi kita pelatihan langsung kita order," ujarnya. 

Perempuan yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang ini mengatakan bahwa WBP pun dengan aktif dalam kegiatan-kegiatan bimker juga dapat merasakan hasil penjualan. 

"Jadi mereka di sini bisa nabung juga dari hasil kalau mereka kerja di bimker dapat premi. Langsung masuk ke tabungan. Bisa digunakan. Misalnya belanja ke kantin, buat beli sabun, bisa dari hasil premi," katanya. 

Bisa juga dari uang hasil premi, para WBP pun dapat mengirimkan uang kepada keluarga di kampung halaman. Jadi meskipun berada dalam sel tahanan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, para WBP masih bisa membantu keluarga agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

"Bisa juga mengirimkan ke keluarga asalkan mereka aktif ikut kegiatan di bimker itu bisa digunakan untuk keperluan pribadi. Kegiatannya ada setiap hari. Macam-macam. Ada yang nyulam, ada yang bikin koperasi, rajut," tuturnya. 

Sementara itu, dengan adanya bimker dan memberdayakan para WBP, harapannya setelah bebas dapat memiliki bekal keterampilan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga. 

"Untuk bekal mereka. Kalau mereka keluar paling tidak mereka bisa berusaha sendiri di luar. Supaya untuk menambah perekonomian keluarga," pungkasnya. 

Topik
bimbingan kerjaLapas IIA Malanglapas perempuan kota malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru