Miliki 90 Guru Besar, Jadi Cita-Cita Besar Prof Abdul Haris Kembangkan UIN Malang

Mar 30, 2021 14:54
Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Rektor UIN Malang, Prof Abdul Haris (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof Abdul Haris punya cita-cita besar dalam pengembangan UIN Maliki Malang menjadi kampus Smart Islamic University bereputasi World Class University.

Dijelaskannya, jika dorongan peningkatan kapabilitas sumberdaya manusia di UIN Maliki Malang mencapai gelar guru besar, sangatlah penting untuk pengembangan kampus bereputasi world class university.

"Minimal setiap prodi itu ada satu guru besar. Kita punya  45 progam studi (Prodi) yang ada di UIN Maliki Malang, makanya idealnya tiap prodi satu guru besar, artinya ada 45 profesor," jelasnya.

Namun lebih dari itu, empat tahun kedepan pihaknya berharap, jika amanah kepemimpinan kembali berlabuh kepadanya, jumlah guru besar yang dimiliki UIN Maliki Malang bisa meningkat dua kali lipat. "Artinya empat tahun mendatang bisa 90 guru besar, dua kali lipatnya," bebernya.

Lalu mengapa demikian ?, lanjut Haris, jika hal itu berdasarkan patokan kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki begitu kuat. Banyak sumberdaya yang memang telah mumpuni pada berbagai bidang. Sehingga, dengan melimpahnya sumberdaya yang kuat itu, bisa berimbas dalam penguatan kelembagaan, khususnya UIN Maliki Malang.

"Banyak dosen-dosen kita itu kuat, pintar dan cerdas-cerdas, namun mereka harus mendapatkan fasilitasi yang bagus dari lembaga,"jelasnya.

Namun dalam fasilitasi itu, ditegaskan Haris bukan hanya sekedar dalam pendanaan penguploadan jurnal terindeks Scopus, fasilitasi tersebut juga dalam hal pemberian arahan, dorongan dan semuanya. "Ini kerja kita semua, bukan karena saya rektor. Kita mengharap semua komponen di UIN melakukan itu semua," bebernya.

Selain itu, ia juga mempunyai misi untuk lebih mengembangkan UIN Maliki melampaui target Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan juga Rencana Strategis (Renstra) menjadi pedomannya.

"Rencana strategis (Renstra) itu 2021-2025, kalau Rencana Induk Pengembangan (RIP) itu 2021-2045, jadi ini sebagai pedoman. Tap akan jauh lebih bagus kalau kita bisa melampaui Renstra dan RIP itu," pungkasnya.

Topik
UIN Maliki MalangProf Abdul HarisSmart Islamic University

Berita Lainnya

Berita

Terbaru