Gandeng Kampus Brawijaya, Pemkab Malang Target Angka Stunting Turun 4 Persen dalam 6 Bulan

Mar 29, 2021 19:56
Bupati Malang Sanusi (kanan) saat melakukan kunjungan kepada penderita stunting yang ada di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Senin (29/3/2021). (Foto : Istimewa)
Bupati Malang Sanusi (kanan) saat melakukan kunjungan kepada penderita stunting yang ada di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Senin (29/3/2021). (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Penanganan stunting menjadi salah satu atensi yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa, kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Hal itu diutarakan langsung oleh Bupati Malang Sanusi, saat melakukan kunjungan kepada penderita stunting yang ada di Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang Senin (29/3/2021).

”Bu Gubernur kemarin memberikan beberapa penekanan ketika Sertijab (Serah Terima Jabatan Bupati dan Wakil Bupati Malang), di antaranya soal stunting sama kemiskinan. Oleh karena itu akan segera kita tangani dan langsung saya komando,” ungkapnya.

Salah satu upaya yang akan dilakukan untuk menekan angka stunting di Kabupaten Malang tersebut, lanjut Sanusi, adalah dengan melibatkan peran langsung dari pihak perguruan tinggi. Diantaranya berkoordinasi dengan Universitas Brawijaya.

”Minggu depan kita (Pemkab Malang) akan mengadakan rakor (rapat koordinasi) dengan (Universitas) Brawijaya, untuk menentukan trik atau strategi apa agar stunting di Kabupaten Malang ini bisa teratasi,” ucapnya.

Sekedar informasi, dijelaskan Sanusi, secara keseluruhan angka stunting di Kabupaten Malang tembus mencapai 11,4 persen. ”Angka total stunting se-Kabupaten Malang 11,4 persen,” terang Sanusi.

Menurutnya, angka 11,4 persen tersebut merupakan angka real yang diperoleh Pemkab Malang saat melakukan pendataan di seluruh posyandu yang ada di Kabupaten Malang. ”11,4 persen itu merupakan hasil data real dari penelusuran ke posyandu yang tersebar di seluruh Kabupaten Malang. Seluruh Kecamatan ada (kasus stunting), hanya saja  beda-beda persentasenya,” jelasnya.

Targetnya, diterangkan Sanusi, angka stunting yang mencapai 2 digit tersebut bisa mengalami penurunan drastis dalam kurun waktu 6 bulan ke depan. ”Dalam 6 bulan minimal mengalami penurunan 2 sampai 4 persen, sehingga dalam 6 bulan nanti akan segera kita tangani langsung,” ulasnya.

Politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menyebutkan, ada beberapa indikator penyebab terjadinya bayi stunting di Kabupaten Malang. Di antaranya disebabkan karena sanitasi yang kurang memadai hingga faktor asupan gizi yang tidak terpenuhi.

”Kalau penyebab utamanya ada banyak, mulai dari sanitasi, gizi buruk, dan juga ada yang memang karena faktor pembawaan dari si bayi, maupun orang tuanya. Ada banyak indikatornya, makanya nanti dianalisa dulu baru diadakan tindakan setelah di diagnosa,” imbuhnya.

Politisi yang juga pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang ini berharap, target penurunan angka persentase stunting hingga mencapai 4 persen dalam kurun 6 bulan kedepan tersebut, benar-benar bisa terealisasi. Sehingga dalam jangka panjang, secara perlahan kasus stunting sudah tidak ditemukan di Kabupaten Malang.

”Upayanya ya dengan cara pemberian gizi dan di edukasi terhadap orang tuanya atau ibunya. Sehingga nanti bisa memberikan makanan yang cukup terhadap anak-anaknya. Selain itu kita (Pemkab Malang) juga akan memberikan pendampingan, hingga tidak ditemukan lagi kasus stunting di Kabupaten Malang,” pungkasnya.

 

Topik
Berita Malangpencegahan stuntingBupati Malang SanusiKhofifah Indar Parawansakampus brawijaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru