Memilukan, Sebanyak 1,5 Ton Keripik Apel Batu Dibakar Hingga Jadi Pakan Ternak

Mar 23, 2021 15:33
Salah satu pedagang kripik apel kawasan Selecta, Wahyu Nano sedang membakar kripik apel batu yang tidak laku terjual dikarena sepi pembeli, Selasa (23/3/2021) (foto: Mariano Gale/ JatimTIMES)
Salah satu pedagang kripik apel kawasan Selecta, Wahyu Nano sedang membakar kripik apel batu yang tidak laku terjual dikarena sepi pembeli, Selasa (23/3/2021) (foto: Mariano Gale/ JatimTIMES)

BATUTIMES- Dalam kurun setahun masa pandemi Covid-19 ini sangat berdampak bagi UMKM keripik apel Kota Batu. Salah satu UMKM keripik apel Kota Batu bernama Kendedes Food daerah Selekta, membakar stok keripik apelnya yang tidak laku terjual.

Sebanyak 1,5 ton keripik apel itu dibakar dan sebagian diberikan sebagai pakan ternak. Salah satu pedagang keripik apel, Wahyu Nano yang membakar keripik apel tersebut mengatakan, hal ini dikarenakan stok keripik apel tidak laku terjual oleh pembeli atau wisatawan. Mengingat, disebakan karena adanya pandemi Covid-19 selama hampir setahun ini.

"Ada 1,5 ton keripik yang sebagian kita bakar dan sebagian kita jadikan pakan ternak. Jangka waktu kadaluarsa keripik apel ini bisa setahun. Tapi ini sudah setahun. Jadi kita bakar dan dijadikan pakan ternak saja," ujarnya.

Pemilik Kendedes Selecta Fruit, Khamim Tohari mengatakan, keripik apel yang sudah kadaluarsa itu, sengaja dibakar dan juga sebagai pakan ternak, agar tidak dapat dikonsumsi lagi.

"Jadi ada beberapa pelaku yang memproduksi lagi keripik apel yang sudah kadaluarsa," ujarnya.

Lanjutnya, produksi keripik apelnya itu sudah dikenal warga sekitar dan juga warga Kota Batu. Akan tetapi, saat awal pandemi virus Covid-19 tahun 2020 lalu, membuat Khami tidak lagi memproduksi keripik apel.

"Stok keripik ini masih banyak dan tidak laku terjual. Jadi pada bulan Maret 2020 itu, saya berhenti produksi keripik apel," ujarnya.

Selain itu, Khamim juga dengan terpaksa merumahkan 30 karyawan. Sebab sejak tahun lalu tidak memproduksi keripik apel.

"Total 30 karyawan yang terpaksa kita rumahkan. Sebetulnya 30 karyawan itu sebagai pemberdayaan masyarakat. Akan tetapi, dengan melihat kondisi pandemi ini, terpaksa dirumahkan," ujarnya.

Dengan kondisi seperti, Kahmim berharap agar pemerintah segera memberi solusi terkait hal ini. "Diperlukan pendampingan, seperti alternatif pekerjaan lain bagi para pedagang keripik apel," harapanya.

Topik
Usaha Keripik Apelkeripik apel batuumkm kota batu

Berita Lainnya

Berita

Terbaru