UIN Maliki Malang Diminati Mahasiswa Dunia (6)

Cerita Dosen UIN Malang yang Pernah Mengajar Bahasa Indonesia Universitas Al-Azhar Mesir

Mar 22, 2021 19:16
Dari kiri, Dewi Hamida, Rektor UIN MALIKI Malang Prof Abdul Haris bersama mahasiswa asing (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Dari kiri, Dewi Hamida, Rektor UIN MALIKI Malang Prof Abdul Haris bersama mahasiswa asing (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN MALIKI) Malang, merupakan perguruan tinggi pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang mengirimkan dosen untuk mengajar di luar negeri. 

Hal itu tentunya sebagai salah satu upaya untuk menggaet mahasiswa asing, sekaligus internasionalisasi kampus serta bahasa Indonesia.

Seperti halnya Dewi Hamida, yang sehari-hari merupakan Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah ini yang pernah mengajar di luar negeri, tepatnya di Universitas Al-Azhar.

“Perguruan tinggi pertama PTKIN yang mengirimkan dosen untuk mengajar di luar negeri. Karena sekarang kita join founding, kita diberi kesempatan dalam satu tahun mengirim dua dosen, itu untuk Al-Azhar. Tapi kita juga diberi kesempatan lagi untuk memberangkatkan ke negara lainnya, satu ke Italia, satu ke Australia/Amerika. Tapi terkendala Covid,” urainya.

Ia menambahkan jika dirinya juga ditawark mengajar jarak jauh yakni di Turki. Universitas di Turki minta langsung untuk pengajar yang berpengalaman.

"Ya kami minta ke UIN Malang. Mereka sudah melihat kualitas UIN. Kami kalau memberangkatkan dosen minimal Doktor," tambahnya.

Lebih lanjut diceritakan Dewi, jika awalnya ia bertanggungjawab dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

"Namun BIPA ini linknya di pusat hanya ada di Kemendikbud, BIPA masuknya ke Prodi Bahasa Indonesia, sementara di Kemenag nggak masuk karena kita nggak punya Prodi Bahasa Indonesia. Kemudian di Kemendikbud ternyata ada program internasionalisasi bahasa Indonesia programnya presiden, kemudian saya mencoba mempelajari itu," jelasnya.

Program tersebut mengirimkan beberapa SDM untuk mengajar bahasa Indonesia. Dan salah satu prasyarat yang dipelajarinya, mengharuskan jika pengajar menguasai bahasa Arab untuk dikirim ke Mesir. Hal itu karena, di Universitas Al-Azhar wajib bisa menguasai bahasa Arab.

Dan kebetulan, Dewi yang mempunyai homebase bahasa Arab kemudian langsung memasukkan program dan disetujui, akhirnya UIN MALIKI Malang join program dengan Kemdikbud.

"Awalnya kita full founding oleh Kemdikbud, kita hanya terkait perizinan, karena kita kan lintas instansi," jelasnya.

Setelah itu, ia kemudian diberangkatkan ke Mesir selama periode 2017-2018 dan kemudian bergantian dengan dosen lainnya. Tak hanya join program, namun kemudian termasuk join founding, akhirnya dari kampus bisa memberangkatkan dua orang pengajar sekaligus.

"Sekarang sudah ada lima dosen yang mengajar di sana. Di sana memang mengajar bahasa dan budaya Indonesia," jelasnya.

Diceritakannya lebih lanjut, jika minat orang Mesir sendiri untuk belajar bahasa Indonesia, diakuinya sangat tinggi. Di Kairo, terdapat sebuah tempat yang bernama Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskin) milik KBRI, pesertanya tiap tahun tak kurang 500 pendaftar.

Melihat tingginya animo itu, kemudian dilakukan seleksi terhadap mereka yang benar-benar berminat belajar bahasa Indonesia. Di mana salah satunya adalah Yasin, yang saat ini menjadi mahasiswa UIN MALIKI Malang.

"Peserta juga banyak dari kampus. Makanya kita tembus ke Rektor, Dekan Bahasa, diizinkanlah kita membuat kursus di situ, nah saya pengajar pertamanya. Bahkan di sana, dosen yang boleh mengajar itu sebenarnya harus dosen Mesir asli, termasuk bahasa asing. Tapi Khusus Indonesia boleh, ada dua orang waktu itu," cerita Dewi.

Pihaknya berharap dalam upaya pengiriman tenaga pengajar bahasa dan budaya Indonesia ke luar negeri, tak terhalang keharusan untuk mempunyai Prodi Bahasa Indonesia. Sebab, UIN MALIKI Malang, memang mempunyai lebih dari 400 mahasiswa asing yang itu juga belajar bahasa Indonesia baik.

"Itu sudah diusulkan ke Kemenag, tapi kan eksekutor Kemenag pusat," pungkasnya.
 

Topik
UIN MalangUIN Maliki MalangUIN Malik Ibrahim
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru