Kisah Pelaku Pembunuhan Turen: Ditinggal Orang Tua dan Hidup Bersama Kakek-Neneknya

Mar 19, 2021 20:23
Kakek dan nenek AP ketika menemui media ini (Hendra Saputra/MalangTIMES)
Kakek dan nenek AP ketika menemui media ini (Hendra Saputra/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kekurangan materi mungkin adalah salah satu sebab terdakwa AP (17) yang divonis satu tahun akibat melakukan pencurian dan penganiayaan hingga menyebabkan kematian mantan bosnya.

Sejak bayi AP ternyata diasuh oleh kakek dan neneknya, hal itu lantaran orang tuanya cerai dan telah hidup bersama pasangan barunya di luar kota. Hal itu membuat AP yang masih bayi harus dirawat oleh kakek dan neneknya.

Kakek dari AP, Fahri Hasan dan Nenek Rupi'ah sendiri tinggal di Dusun Bokor, Desa Pagedangan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Media ini pun mencoba menelusuri rumah yang ditinggali AP sebelum divonis satu tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Malang. Tempatnya tak jauh dari toko ATK tempat AP melakukan pencurian bersama R, jarak tempuh kemungkinan berkisar 2,5 kilometer.

Untuk menemukan rumahnya pun tidak begitu sulit karena media ini telah mendapatkan informasi dari mantan rekan kerja AP di toko ATK tersebut.

Ketika sampai di gang rumahnya, media ini hanya bertanya kepada satu orang pekerja pembuat batu bata yang kebetulan adalah teman dari Fahri Hasan yang tak lain adalah kakek dari AP.

Pewarta media ini pun menitipkan motor kepada pekerja batu bata itu dan kemudian masuk ke gang rumah AP. Terlihat beberapa tetangga AP yang berada di teras nampak seperti terus melihat, karena mungkin ada orang asing yang masuk ke daerahnya. Akan tetapi mereka pun masih tersenyum ketika disapa.

Jarak hadap antar rumah tetangga AP di sekitar gang tersebut kurang lebih hanya 6 meter. Namun untuk menjangkau ke rumah AP, jalan tersebut semakin mengecil yang kurang lebih hanya 2,5 meter atau hanya bisa dilewati oleh satu sepeda motor.

Nampak dari depan, rumah kakek dan nenek AP yang kurang lebih berukuran 7x8 meter itu belum berplester atau hanya terlihat batu bata. Bahkan lantainya pun juga terbuat dari batu bata yang ditata rapi.

Ketika melihat rumahnya, nampak seperti tidak ada orang namun pintunya terbuka. Pewarta media ini mencoba mengetuk pintu dan mengucap salam agar penghuni rumah keluar. Beberapa kali pintu diketuk belum ada jawaban, tapi dari belakang muncul seorang nenek yang tak lain adalah nenek AP mempersilahkan masuk dan memanggil suaminya. 

Fahri Hasan pun keluar menyapa media ini hanya menggunakan sarung tanpa penutup badan. Di dalam ruangan tamu rumahnya, terlihat hanya ada tiga kursi dan satu kursi panjang beserta meja yang semua dari anyaman.

Di ruang tamu itupun juga ada satu lemari yang di tengahnya terdapat satu radio dan televisi yang diletakkan dilantai. Nampaknya televisi tersebut tidak bisa digunakan. Juga ada satu sepeda motor matic yang terparkir di dalam rumahnya.

Raut wajah kakek nenek itupun cukup bingung dengan kedatangan media ini. Namun ketika diajak bicara mereka justru menyambut dengan baik.

Disinggung mengenai cucunya yang telah divonis satu tahun, nenek AP menjawab tidak tahu. Hal itu karena dirinya sudah tidak lagi tahu kondisi cucunya usai ditangkap polisi.

“Waktu sidang pakde nya yang datang. Pakde nya kan tinggal di Malang, kerja di Comboran itu. Saya nggak tega masihan kalau lihat cucu saya,” kata Rupi'ah dengan mata yang mulai berair.

Karena asyik ngobrol, Rupi'ah pun menceritakan bahwa AP dirawat bersama suaminya mulai bayi. “Ya mulai bapaknya pisah sama ibunya itu kami yang merawat,” ucapnya.

Dari kacamata kakek neneknya, AP tergolong anak yang pendiam dan tidak pernah berbuat aneh selama di rumah. Bahkan mereka bangga meski tidak lulus SMP, tapi AP bersedia menuntut ilmu di pondok pesantren yang berada di Dusun Lambang Kuning, Desa Majang Tengah, Kabupaten Malang.

“Mulai keluar SMP itu ke pondok di Lambang Kuning, Dampit sana,” sahut kakeknya.

Akan tetapi, karena tidak betah akhirnya AP memilih jalan bekerja untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Tapi diapun juga ikut sekolah kejar paket B dengan berjualan bakso di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang

“Itu ya kerja jual bakso, sama sekolah juga. Karena saya juga keluarga ndak mampu, tenaga juga sudah tua (jadi apa adanya membiayai, red),” ungkap Fahri.

Namun, Fahri juga mengaku AP pernah mengeluh saat bekerja karena kehabisan uang dan tidak bisa mengangsur sepeda motor. “Dulu ambil sepeda di showroom, angsuran itu Rp 560 ribu, lalu kerja di fotocopy dan toko ATK itu lumayan bisa bayar angsuran,” kata Fahri.

Karena bekerja tidak tetap membuat AP tak sanggup membayar lagi sepeda motornya. Hal itu lantaran ia sudah tidak bekerja di toko ATK.

“Jadi Nanda itu kalau ada uang ya bayar, kalau tidak ada ya saya yang bayar. Namanya cucu ya saya bela meski gimanapun,” terang Fahri yang selalu berutang untuk menutup kekurangan membayar angsuran sepeda motor AP.

Ketika diberitahu tentang putusan hakim satu tahun penjara, Rupi'ah terlihat cukup senang. Hal itu digambarkan dari wajahnya yang nampak sedikit akan tersenyum meski air matanya masih terlihat.

“Ya Alhamdulillah (kalau putusan satu tahun) karena anak masih segitu dan mulai kecil sampai kerja itu sama saya terus,” kata Rupi'ah. 
 

 

Topik
kisah pembunuh di turenkakek nenekpelaku pembunuhan turenberita hukum dan kriminal kabupaten malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru