Rayakan Nyepi di Tengah Pandemi, Umat Hindu Kota Batu Tiadakan Pawai Ogoh-Ogoh

Mar 14, 2021 06:21
Warga umat Hindu di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo melakukan persembahyangan di Pura Luhur Giri Arjuno, Kota Batu (Foto: istimewa)
Warga umat Hindu di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo melakukan persembahyangan di Pura Luhur Giri Arjuno, Kota Batu (Foto: istimewa)

BATUTIMES - Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1943 yang diperingati pada 14 Maret 2021 ini adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali oleh masyarakat beragama Hindu. Salah satunya warga umat Hindu di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kota Batu yang juga merayakan Nyepi.

Seperti biasanya, warga di Dusun Junggo yang beragama Hindu melakukan persiapan atau serangkaian upacara, sebelum Hari Raya Nyepi. Yakni melakukan upacara Melasti. Upacara Melasti ini dilakukan dua sampai tiga hari, sebelum Hari Raya Nyepi.

Proses dari upacara melasti ini, warga umat Hindu di Dusun Junggo berbondong-bondong dengan memakai pakaian adat serta membawa peralatan persembahyangan menuju sumber air yang berada di sumber Dampul untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Dewasa.

"Peralatan persembahyangan itu seperti pratima atau simbol-simbol dewa yang digunakan untuk memuja Sang Hyang Dewasa. Tidak lupa, kami juga membawa sesaji yang akan diletakan di sumber tersebut," ujar salah satu warga umat Hindu di Dusun Junggo, Parman, Minggu (14/3/2021).

Setelah selesai melakukan upacara Melasti di sumber Dampul, warga pun kembali dengan membawa air dari sumber tersebut dan sesaji serta perlengkapannya menuju Pura. Air dan sesaji yang telah melalui proses upacara itu, nantinya akan disimpan di pura untuk digunakan pada saat persembahyangan Hari Raya Nyepi.

"Sudah jauh hari, kami sebagai umat Hindu di Dusun Junggo telah melakukan persiapan dengan kerja bakti. Dan sudah terkoordinir dengan rapi," ujarnya.

Selain upacara Melasti, juga dilakukan proses upacara Tawur Agung. Upacara Tawur Agung bertujuan untuk membersihkan diri dan juga membersihkan bumi. Yakni, dengan cara umat melakukan tapa brata penyepian.

Setelah itu, bagian yang menarik menjelang Hari Raya Nyepi adalah ritual pawai Ogoh-ogoh keliling kampung. Sayangnya, hiruk pikuk pawai Ogoh-ogoh di Dusun Junggo terhenti. Hal ini disebabkan kondisi pandemi Covid-19 yang tidak diperbolehkan berkerumun masa.

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan alam semesta dan waktu yang tak terukur dan tak terbantahkan. Pembuatan Ogoh-ogoh sendiri biasanya dilakukan satu sampai dua bulan menjelang Hari Raya Nyepi.

"Kalau tahun ini, kami tidak bisa melakukan pawai seperti sebelumnya. Karena ada pandemi Covid-19. Tapi kita melakukan upacara pawai di Pura Luhur Giri Arjuno. Hal ini sebagai bentuk persyaratan pelengkap upacara. Setelah upacara selesai, Ogoh-ogoh itu dibakar, sebagai simbol pemusnahan kejahatan agar tidak ada lagi hal-hal buruk yang menganggu saat berlangsungnya Nyepi," jelasnya.

Proses serangkaian upacara sebelum Hari Raya Nyepi telah dilakukan, kini warga umat Hindu di Dusun Junggo merayakan Hari Raya Nyepi dengan cara menyepi.

Makna Nyepi mengandung arti sepi atau sunyi. Pada saat Nyepi, umat Hindu tidak boleh melakukan aktivitas seperti pada umumnya. Seperti keluar rumah (kecuali sakit dan perlu berobat), menyalakan lampu, bekerja dan sebagainya.

Tujuan Nyepi adalah agar tercipta suasana sepi. Sepi dari hiruk pikuknya kehidupan dan sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia).

"Jadi tidak boleh melakukan aktivitas apapun. Dengan cara melakukan catur Brata. Catur Brata sendiri terdiri dari 4 bagian. Diantaranya, amatigeni (tidak boleh menyalakan api), amatikaryo (tidak boleh bekerja), amati lelaungan (menghentikan kesenangan), amati lelungan (tidak boleh bepergian). Biasanya beberapa umat melakukan Nyepi itu rumah, Pura Luhur Giri Arjuno atau di Pura Indrajaya," jelasnya.

Topik
Hari Raya NyepiKota BatuPura Luhur Giri Arjunonyepi 2021Pura Indrajaya

Berita Lainnya

Berita

Terbaru