Toleransi, Antar ITN Malang Raih Runner-Up Kompetisi Convey Day 2021

Mar 12, 2021 08:30
Potongan video animasi karya mahasiswa ITN Malang (Ist)
Potongan video animasi karya mahasiswa ITN Malang (Ist)

MALANGTIMES - Torehan prestasi dicatatkan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang lewat dua mahasiswa terbaiknya. Nama ITN semakin harum setelah menjadi juara dua dalam Kompetisi Animasi Online CONVEY DAY 2021 yang diselenggarakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bersama UNDP Indonesia.

Tema besar dalam CONVEY DAY adalah “Berbeda Tetap Bersama”. Temn ini juga sejalan dengan spirit unity in diversity (bersatu dalam perbedaan) dari ITN Malang. Hal ini buktikan oleh Kampus Biru dengan berdirinya tiga tempat ibadah masjid, kapel dan pura di lingkungan Kampus 2 ITN Malang.

Sementara, dalam perlombaan yang dimulai sejak bulan Januari hingga Februari 2021 dan diumumkan pada Jumat (05/03/2021) ini, dua mahasiswa ITN, yakni Al Maulana Salong (Animator) dan Farida Novia sebagai penulis scrip, mahasiswa Arsitektur berkolaborasi dengan mahasiswa universitas lain, yakni Ardhea Maya Sari sebagai pengisi suara yang merupakan mahasiswa Seni Rupa Universitas Telkom Bandung. Ketiganya berkolaborasi dalam membuat sebuah video animasi dengan sebuah sub tema, yakni "toleransi".

Toleransi262ea3dce3afa40d6.jpg

Diakui Al Maulana Salong, jika dalam kategori perlombaan yang digelar, terdapat beberapa kategori. Namun lantaran ia sedikit memiliki basic dalam pembuatan animasi, ia kemudian mengajak temannya untuk mengikuti perlombaan itu dan memilih kategori pembuatan video animasi.

“Untuk penulis scrip Farida teman satu angkatan di Arsitektur ITN dan pengisi suaranya Dhea (panggilan akrab Ardhea Maya Sari) teman dari Telkom Bandung. Ya, saya kenalnya Dhea suaranya bagus, meski kami belum pernah bertemu,” terang Alan panggilan akrab Al Maulana Salong, mahasiswa Arsitektur ITN Malang saat dihubungi lewat Zoom meeting, Rabu (10/03/2021).

Tema video sendiri, diakui alam terinspirasi dari kisah pertemanannya. Alan berasal dari Maluku, Farida dari Kalimantan dan Dhea dari Lampung. Alan mengenal Dhea berawal dari jaringan pertemanan Facebook. Didasari kisah itu, rasa menghormati perbedaan dan rasa saling percaya akhirnya mereka berkolaborasi membuat video animasi.

Kolaborasi dengan komunitas menjadi nilai tambah tersendiri termasuk di dalamnya kolaborasi dengan universitas lain. Untuk itu Alam bersama tim juga didukung oleh UKM Lembaga Dakwah Islamiyah (LDI) ITN Malang (UKM kerohanian) dan Peace Leader Indonesia, komunitas anak muda lintas iman atau agama yang bekerja mempromosikan toleransi, perdamaian, dan kerjasama lintas iman di kluster anak muda.

Toleransibaf8cc6b4497debc.jpg

Video animasi bertema toleransi itu, berdurasi tiga menit. Untuk semakin memudahkan yang yang menonton, Akan melengkapinya dengan memberikan sebuah subtitle. Sehingga pesan yang disampaikan dalam video tentunya akan lebih mudah dipahami. Didalam video, berisi penjelasan mengenai cara bertoleransi antar agama, dampak yang ditimbulkan jika tanpa toleransi, hingga pentingnya penerapan toleransi di masyarakat.

“Video ada tiga bagian. Di menit pertama menceriterakan Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Penting bagi kita bersosialisasi menerima lingkungan baru yang berbeda dari kita. Menit ke 2, intinya bagaimana kita menanggapi perbedaan tersebut dengan memasukkan konsep toleransi, cara bersikap kepada orang lain yang berbeda agama. Dan di menit ke 3 bagian kesimpulan. Hasil dari konsep toleransi yang telah kita terapkan di kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat,” beber Alan.

Farida Novia menjelaskan hal yang senada dengan Alan. Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang sangat menjunjung toleransi. Di sini, toleransi menjadi kunci perdamaian bagi masyarakat dan menghindarkan adanya konflik maupun perpecahan antar individu.

Hal tersebut penting untuk diperhatikan mengingat bangsa Indonesia mempunyai latar belakang perbedaan yang beragam. Karenanya, toleransi begitu penting dan perannya sangat besar sebagai kunci menjaga perdamaian, hingga kemudian harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pesan yang bisa di ambil dari video animasi tersebut ialah kata toleransi jangan hanya menjadi slogan saja. Toleransi harus sama-sama kita wujudkan dalam dalam kehidupan sehari-hari. Manusia berbeda-beda, tapi harus saling menghargai. Dan juga harus menyadari bahwa kita sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan,” imbuh Farida.

Ardhea Maya Sari dari Telkom Bandung pun sama. Dijelaskannya, jika saat ini pihaknya semakin paham bahwa urgensi toleransi di Indonesia sangat penting. Karenanya, sikap toleransi harus terus dipupuk dan dijaga, sehingga terwujud perdamaian ditengah perbedaan.

“Saya di Telkom juga kuliah di jurusan seni, Alan dan Farida jurusan Arsitektur. Jadi kami sama-sama tertarik dalam industry kreatif. Kami bertiga berbeda daerah, jadi kami semakin paham bahwa urgensi toleransi di Indonesia cukup penting, perlu dipupuk dan dijaga (toleransi),” pungkas Dhea.

Topik
ITN Malangkompetisi animasi onlineconvey day

Berita Lainnya

Berita

Terbaru