Puluhan Mahasiswa Unitri Suarakan 3 Tuntutan, Begini Tanggapan Pihak Kampus

Mar 04, 2021 17:38
Para mahasiswa Unitri yang melakukan aksi damai menuntut potongan SPP (Ist)
Para mahasiswa Unitri yang melakukan aksi damai menuntut potongan SPP (Ist)

MALANGTIMES - Puluhan mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus melakukan aksi unjuk rasa, Kamis (4/3/2021). 

Aksi itu dilatarbelakangi para mahasiswa yang resah dengan kebijakan pihak kampus, utamanya atas kebijakan administrasi SPP yang dirasa masih memberatkan para mahasiswa.

Koordinator aksi, Evaldus Firman, mengungkapkan, bahwa berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pihak kampus, tanpa melihat dan mempertimbangkan lebih atas kenyataan hari ini di saat pandemi.

"Berangkat dari keresahan inilah mahasiswa masih terbebani dengan kebijakan yang dikeluarkan. Kami memutuskan untuk turun menuntut keadilan bukan atas dasar kepentingan personalia belaka atau individual, tetapi ini menjadi keresahan yang dialami hampir semua mahasiswa Unitri," jelasnya melalui press release.

Lebih lanjut dijelaskannya, jika pandemi adalah salah satu permasalahan mendasar yang biasa disampikan dari sekian banyak permasalahan lain. Imbasnya, seperti diketahui jika saat ini tak menutup mata keterpurukan perekonomian berbagai sisi tak terhindarkan.

"Sulitnya mencari uang sebagai penyambung kehidupan, apa lagi biaya pendidikan di saat pandemi seperti ini. Pemotongan biaya yang diberikan kampus 20 persen sangatlah kecil, ditambah dengan persyaratan yang harus dibuat cukup rumit, bertele-tele apalagi di saat pandemi seperti ini ruang gerak kita terbatasi dengan protokol kesehatan dan lainnya," bebernya.

Selain itu, keterbatasan akses informasi kampus juga masih jauh dari harapan mahasiswa. Padahal, seperti diketahui, telah diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik No 14 tahun 2008, di mana transparansi pengelolaan anggaran keuangan bisa tersajikan dalam sistem informasi yang mudah diakses.

"Mahasiwa hanya diwajibkan membayar tanpa tahu rincian biaya keuangan itu dikemanakan, dan ditambah sistem pembelajaran yang jauh dari harapan pendidikan yang sebenarnya seperti kebijakan pelayanan yang terkesan selalu memainkan mahasiswa dengan segala peraturan yang berbelit-belit," paparnya dalam rilis.

Karena itu, Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus ingin duduk bersama mencari jalan terbaik dan solusi terkait problematika yang memberatkan mahasiswa saat ini. Meskipun sebelumnya, pihaknya telah mengirimkan surat untuk meminta pihak yayasan dan rektor untuk audiensi, berunding demi mencari titik temu.

"Namun sampai saat ini tidak ada surat balasan atau konfirmasi sekalipun agar kamu diperbolehkan bertemu dengan pihak tersebut," terangnya.

Maka atas nama keadilan, pihaknya melakukan aksi damai menutut pihak kampus dengan tiga poin tuntutan sebagai berikut :

1. Menuntut dan memohon Rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang untuk melakukan pemotongan 50 persen biaya SPP tanpa persyaratan yang berbelit-belit.

2. Menuntut pihak kampus agar adanya transparansi terkait biaya pendidikan, dalam hal ini rincian biaya SPP, registrasi, praktikum dan bidikmisi.

3. Menuntut pihak kampus agar memperbaiki sistem pelayanan yang lebih bijaksana, adil dan mengayomi.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dr Totok Sasongko MM mengatakan, jika para mahasiswa yang melakukan aksi tersebut tidaklah mewakili pengurusan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

"20 persen itu clear dan dilanjutkan pada semester ini. Dengan BEM dan DPM sebetulnya sudah clear nggak masalah," jelasnya.

Para mahasiswa yang melakukan aksi, membandingkan dengan perguruan tinggi lainnya. Penjelasan mereka, ada yang mendapatkan keringanan sampai 30 persen, bahkan versi mereka terdapat perguruan tinggi yang memberikan potongan saat pandemi sampai 50 persen.

Meskipun dalam aksinya, Aliansi Mahasiswa Peduli Kampus dianggap tak mewakili BEM maupun DPM, namun pihaknya tak serta merta menolak aspirasi para mahasiswa dan tetap menampung aspirasinya sebagai bahan masukan.

"Mereka sebetulnya tau, SPP di Unitri sudah sangat rendah dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya. Akan tetapi nggak etislah kami tunjukkan perbandingannya. Tapi kami punya data itu (perbandingan dengan kampus lain)," bebernya.

Kedua, patut diketahui jika yang membayar SPP di Unitri hanya sekitar 40 persen dari total mahasiswa sekitar 8 ribuan mahasiswa. Sedangkan 60 persennya mereka bebas SPP karena Unitri kampus kerakyatan.

"Kalau 60 persen sudah bebas SPP dan yang bayar hanya 40 persen, dan SPP dari perguruan tinggi lain lebih rendah kita, maka disepakati 20 persen. Jadi meskipun dengan 20 persen, tapi bila ditotal dengan yang 60 persen, tetap jauh lebih rendah pembayaran ditotalnya dari perguruan tinggi lain," terangnya.

Sedangkan untuk kesan berbelit-belit, versi para mahasiswa yang melakukan aksi, menurutnya juga tidaklah benar. Data menunjukkan, dari 40 persen mahasiswa yang mendapatkan potongan 20 persen, dua hari dibukanya pendaftaran disambut antusias mahasiswa. Tercatat, sekitar 1008 mahasiswa telah mendaftar untuk mendapatkan keringanan.

"Artinya, pemberkasan menurut universitas sudah tidak berbelit-belit lagi. Ternyata yang mengusulkan juga banyak dan persyaratannya ringan dan melalui online. Dari data itu malah telah diverifikasi sekitar sejumlah 227 sehari sebelumnya. Data masuk langsung verifikasi," bebernya.

Topik
Mahasiswa Unitrikampus unitri malangaksi mahasiswa unitri

Berita Lainnya

Berita

Terbaru