Pandemi Covid-19 Menjadi Pemicu Orang Terjerumus dalam Peredaran Narkotika

Feb 28, 2021 10:27
Kasat Resnarkoba Polresta Malang Kota Kompol Anria Rosa Pilian saat ditemui awak media usai melakukan rilis ungkap kasus kurir narkoba, Sabtu (27/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)
Kasat Resnarkoba Polresta Malang Kota Kompol Anria Rosa Pilian saat ditemui awak media usai melakukan rilis ungkap kasus kurir narkoba, Sabtu (27/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pandemi Covid-19 juga memicu sebagian masyarakat yang tidak bekerja terjerumus dalam lingkaran peredaran narkotika. Hal itu diutarakan olah Kasat Resnarkoba Polresta Malang Kota Kompol Anria Rosa Piliang.

Menurutnya, masyarakat yang tidak bekerja tergiur dengan iming-iming imbalan atau keuntungan dari bandar narkotika untuk menjual barang haram tersebut. 

"Pengguna sekarang rata-rata yang tidak ada pekerjaan. Pertama diiming-imingi karena mereka tidak bekerja dan melihat situasi sekarang ada pandemi Covid-19, kebanyakan mereka yang sudah tidak bekerja diiming-imingi menjadi kurir dengan imbalan sekali ngirim berapa. Lalu juga mengonsumsi sendiri," jelasnya kepada MalangTIMES, Sabtu (27/2/2021). 

Perwira dengan satu melati di pundaknya tersebut juga menuturkan bahwa peredaran narkotika untuk saat ini tidak melihat titik lokasi persebaran. Karena di mana pun berada dan ada kesempatan, peredaran narkotika akan terus berjalan. 

"Kalau peredaran narkotika dia tidak melihat titik-titik ya. Jadi dimana ada kesempatan untuk menjual, karena yang namanya narkotika itu kan terselubung peredarannya. Jadi kita tidak bisa menentukan titiknya. Di mana pun mereka bisa melakukan," terang perwira yang akrab disapa Rosa ini. 

Untuk di Kota Malang sendiri, dikatakan Rosa bahwa pihaknya terus berupaya bekerja keras memberantas peredaran narkotika di semua lini masyarakat. Mulai remaja hingga dewasa. Karena peredaran narkotika saat ini tidak melihat usia, namun dimanapun ada kesempatan, di situlah peredaran narkotika terjadi. 

"Di malang kota ini memang kita berusaha keras, selalu bekerja tiap hari dimanapun. Kalau bergantung pada titik kerawanan itu tidak ada. Sebenarnya narkotika ini bukan hanya Malang Raya tapi Indonesia Raya. Rata-rata semua ada," jelasnya. 

Disinggung mengenai kondisi mahasiswa yang saat ini sedang libur atau melakukan kuliah daring (dalam jaringan) dari rumahnya di daerah asalnya, Rosa menyebutkan bahwa pengguna yang tergolong mahasiswa pun juga menurun. 

Pasalnya, di tahun-tahun sebelumnya, peredaran narkotika juga kerap kali diungkap oleh jajaran Satresnarkoba Polresta Malang Kota yang melibatkan jaringan di kalangan mahasiswa. 

Selain itu, Satresnarkoba juga kerap kali mengungkap peredaran narkotika melalui jaringan lintas daerah. Mulai dari peredaran sabu, ganja, ekstasi hingga pil dobel L yang jumlahnya cukup banyak sekali. "(Pengguna, red) mahasiswa menurun sih. Kebanyakan para pengangguran (pemakainya, red). Karena itu faktor ekonomi sih yang menjadi penyebabnya," tandasnya. 

Rosa pun juga mencontohkan pada salah satu kasus, bahwa untuk saat ini kurir narkotika jenis sabu-sabu yang dapat menjualkan barang haram tersebut, untuk setiap satu ons nya diberikan imbalan Rp 1 juta rupiah dengan menggunakan sistem ranjau lintas daerah. 

Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemicu masyarakat tergiur dengan imbalan cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ditengah pandemi Covid-19. Namun yang tidak diperhitungkan oleh para kurir tersebut yakni dampak dari menjual barang haram tersebut, dapat berakhir di sel tahanan selama bertahun-tahun.

Topik
Polresta Malang Kotaanria rosa piliangBerita Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru