Khitanan Masal Perdana di Era Pandemi Covid-19, RSI Unisma Ingin Berbakti ke Masyarakat

Feb 27, 2021 19:14
Wakil Direktur I RSI Unisma dr HRM Hardadi Airlangga SpPD saat ditemui pewarta di salah satu ruangan RSI Unisma, Sabtu (27/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Wakil Direktur I RSI Unisma dr HRM Hardadi Airlangga SpPD saat ditemui pewarta di salah satu ruangan RSI Unisma, Sabtu (27/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Rumah Sakit Islam Universitas Islam Malang (RSI Unisma) menggelar bakti sosial dalam bentuk khitanan masal secara perdana di tengah pandemi covid-19, Sabtu (27/2/2021). 

Wakil Direktur I RSI Unisma dr HRM Hardadi Airlangga, SpPD mengatakan pihaknya juga telah menyusun SOP (standard operational procedure) untuk melakukan khitanan masal di tengah pandemi covid-19. 

"Iya (khitanan masal pertama, red) karena belum pernah ada. Sebelumnya masih belum punya satu SOP untuk  khitanan semi masal tapi aman di era pandemi ini. Di era pandemi ini, kita harus benar-benar taat ya untuk menerapkan protokol kesehatan," ungkapnya.



Khitanan masal yang diinisiasi  RSI Unisma bersama lembaga-lembaga lain seperti Lazis-NU Care ini juga merupakan momen peringatan Hari Lahir Ke-98 Nahdlatul Ulama (NU). 

Hardadi juga sedikit mengulas sedikit perjuangan salah satu pendiri NU, yakni KH Hasyim Asyari, yang mendeklarasikan untuk bersama-sama berjuang melawan penjajah. Dalam semangat perjuangan itulah,  RSI Unisma bersama lembaga lain mengadakan bakti sosial di bidang kesehatan. 

"Ajarannya kita lakukan sehari-hari untuk mengarah pengabdian kita kepada Allah dengan cara melakukan profesi masing-masing. Salah satunya kami melakukan profesi di bidang kesehatan ini juga mengimplementasikan bakti kami kepada masyarakat sekitar," ucapnya. 

Dokter spesialis penyakit dalam ini menambahkan,  khitanan masal juga bertujuan menjaga kesehatan dan menjalankan perintah agama.  "Untuk khitanan ini tujuannya,  selain untuk agama, juga untuk kesehatan. Supaya organ laki-laki ini yang tertutup kulit itu dibebaskan sehingga kemungkinan terinfeksi saluran kemihnya bisa terhindarkan dari penyakit-penyakit," terangnya. 

Sementara, agar tetap menjalan protokol kesehatan secara ketat, tempat dibagi di dua.  Pertama di lantai tujuh yang juga merupakan tempat pembukaan seremonial dan registrasi. Kemudian di lantai enam penindakan proses khitanan massal yang bertempat di delapan ruangan VIP. 

"Karena protokol kesehatan, kami melakukan di kamar penindakan. Saat khitan, yang masuk dibatasi. Ada operator, asisten, asisten 2, onlook dan orang tua satu yang mendampingi anak. Itu ada di ruangan VIP. Jadi cukup luas. Satu anak di dalam satu ruangan. Ada juga yang dua anak," ujarnya. 

Lebih lanjut, Hardadi menyebutkan bahwa animo masyarakat untuk program khitanan masal cukup tinggi. Saat dibuka pertama dengan menyebarkan flyer,  yang mendaftar  150 orang. Salah satu penyebab animo tinggi dari masyarakat yakni terbatasnya tempat pelaksanaan acara khitanan di tengah pandemi covid-19. 

"Kalau kita di sini kan bisa menjaga mulai dari bawah sudah dibatasi. Situasi di rumah sakit lebih bisa mengendalikan jumlah orangnya," katanya. 

Maka dari itu, khitanan masal jilid pertama ini dibatasi maksimal hanya untuk 50 orang.  "Yang ini dibatasi (peserta khitan masal, red) 50 orang. Dengan 8 kamar untuk melakukan penindakannya," imbuhnya. 

Sasaran program khitanan massal ini diutamakan untuk warga di sekitar RSI Unisma yang membutuhkan. Terlebih lagi banyak juga pasien RSI Unisma yang merupakan warga sekitar. "Kami ingin memberikan rasa terima kasih dalam bentuk ikut menjaga kesehatan putra-putranya. Target utama, warga sekitar RSI Unisma. Walaupun ada beberapa yang masuk kabupaten (Kabupaten Malang) dan itu diperbolehkan," ujarnya. 

Dengan melihat animo masyarakat yang tinggi, pihaknya juga berencana mengadakan lagi khitanan massal.  "Karena animonya banyak, nanti kami rencanakan buat seri kedua, seri ketiga. Sesuai kemampuanrumah sakit," katanya. 

Hardadi  juga berharap, DOP protokol kesehatan yang telah diberlakukan di RSI Unisma saat pelaksanaan khitanan masal dapat digunakan tempat pelayanan kesehatan lain.   “Dan barangkali bisa jadi SOP untuk teman-teman yang lain untuk melakukan bakti kepada masyarakat,,” ungkapnya. 

Sebagai informasi, usai menjalani khitanan massal, peserta yang didampingi orang tua diberi bingkisan dari RSI Unisma dengan tujuan meningkatkan ibadah dan  kesehatan.

Topik
khitanan masalPandemi Covid 19RSI Unisma

Berita Lainnya

Berita

Terbaru