UIN Malang Gelar Webinar, Bahas Peran PTKIN dalam Pendidikan Nasional Bidang Kesehatan

Feb 24, 2021 15:03
Web binar Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Dalam Pendidikan Nasional Bidang Kesehatan (Ist)
Web binar Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Dalam Pendidikan Nasional Bidang Kesehatan (Ist)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN MALIKI) Malang menggelar webinar Peran Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Dalam Pendidikan Nasional Bidang Kesehatan (24/2/2021). Dalam seminar itu turut menghadirkan M Hasanuddin Wahid MHum, anggota DPR RI Komisi X dan juga Dr H Syafi'i MAg, Kasubdit Pengembangan Akademik Diktis Kemenag RI.

Rektor UIN MALIKI Malang, Prof Abdul Haris dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasinya terhadap Dekan dan Wakil Dekan FKIK dengan digelarnya seminar yang mengundang orang-orang berkompeten.

"Narasumber yang dihadirkan narasumber berkompeten. Semoga apa ayang di diskusikan kali ini membawa hasil yang positif," jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Prof Dr dr Yuyun Yueniwati P W MKes SpRad (K) menambahkan, UIN MALIKI Malang, saat ini tengah berkembang terutama untuk FKIK. Saat ini telah terdapat tiga Program Studi (Prodi) di FKIK, yakni Prodi S1 Farmasi, Prodi Profesi Dokter dan Prodi S1 Kedokteran.

"Tujuan dari pertemuan ini mengharapkan ada dukungan dan masukan karena kedepannya kami berharap ada Prodi Apoteker," jelasnya.

Dalam asosiasi sendiri sudah terdapat syarat khusus dalam pendirian prodi apoteker. Kemudian dalam visitasi UIN MALIKI Malang lolos dan mendapatkan rekomendasi untuk bisa mendirikan profesi apoteker. 

Namun yang masih menjadi kendala, selama ini masih terdapat pada Litapdimas. Di mana masih terblok untuk mengunggah Borang. Kemudian pada tahun 2020, mencoba untuk meng-upload kembali namun tak dapat dicari prodi Profesi Apoteker. Kemudian pada tahun 2021, kembali mencoba diawal pembukaan, dan saat ini juga masih belum bisa untuk mengunggahnya.

"Apa yang kami alami ini juga dialami oleh perguruan tinggi yang lainnya. Tidak bisa upload," bebernya.

Dr H Syafi'i MAg, Kasubdit Pengembangan Akademik Diktis Kemenag RI mengatakan, jika bicara tentang Perguruan Tinggi (PT) secara khusus bicara tentang peradaban sekarang dan masa depan. Perguruan Tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga sebagai pusat kajian kebajikan dan kekuatan moral yang menjadi substansi dari peradaban.

Utamanya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), saat ini telah banyak berbagai macam prodi yang itu bisa menjadi pilihan bagi calon mahasiswa. "Dengan banyaknya prodi, ini bisa menarik calon-calon mahasiswa sehingga tidak semaunya terserap oleh perguruan tinggi lainnya, namun lebih pada perguruan tinggi kita sendiri," bebernya.

Hal itu menjadi konsentrasi bagi perguruan tinggi, utamanya PTKIN untuk bagaimana menyerap lebih banyak mahasiswa. Selanjutnya daya serap mahasiswa ini berkaitan dengan seberapa banyak prodi yang ditawarkan.

"Kalau yang ditawarkan hanya itu-itu saja, tentu kurang menarik, tapi kalau yang disajikan banyak menu, tentu akan lebih menarik," paparnya.

Namun dikatakannya, jika dari 17 kampus PTKIN saat ini masih sedikit yang memiliki prodi umum. Selain itu lebih sedikit lagi kampus yang memiliki prodi pendidikan dokter atau Kedokteran. Dari 17 kampus PTKIN itu hanya tiga yaitu UIN Jakarta, UIN Malang dan UIN Makassar.

"Seperti UIN Malang yang akan membuat Prodi Pendidikan Apoteker, memang ini prodi yang penting, dengan keterkaitan tingkat keselamatan yang tinggi tentu saja dibutuhkan dengan syarat yang ketat, makanya memang tidak mudah," bebernya.

Selain itu, pihaknya juga berbicara mengenai kampus-kampus UIN yang menjadi satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU) untuk tidak hanya mengandalkan banyaknya mahasiswa maupun pendapatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sehingga harus mengembangkan badan-badan unit usahanya.

Disisi lain, M Hasanuddin Wahid MHum, anggota DPR RI Komisi X, menyampaikan, beberapa hal tentang peran PTKIN dalam bidang kesehatan. Problem tentang PTKIN terdapat beberapa hal. Seperti partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi belum optimal, kesenjangan partisipasi perguruan tinggi masih cukup besar antar kelompok pengeluaran dan antar wilayah, dosen berkualifikasi S3 masih terbatas, akreditasi perguruan tinggi dan prodi berakreditasi B perlu ditingkatkan.

Hal itu kemudian berkaitan dengan relevansi dan daya saing pendidikan tinggi. Di mana terdapat beberapa dampak seperti pengangguran tinggi, publikasi jurnal internasional belum optimal, lulusan yang bekerja dibawah kualifikasi dan dampak lainnya.

"Termasuk juga Inovasi Litbang perguruan tinggi belum optimal," terangnya.

PTKIN perlu memperlebar jaring kerjasama dengan pihak lainnya, sehingga tak hanya dalam lingkaran Kemenag saja. Hal itu tentunya semakin mendukung dalam peningkatan dan pengetahuan a kelembagaan bagi PTKIN. "UIN Malang cukup bagus sudah berkerjasama dengan institusi lain," ungkapnya.

Peran PTKN dalam pendidikan nasional dibuang kesehatan, perlu memiliki smart health. Itu merupakan sistem yang bernasib digital dalam pendeteksian penyakit yang berbiaya terjangkau. Perlunya juga dalam PTKIN untuk terlibat dalam mengedukasi masyarakat yang beberapa mungkin saja terdapat kegagapan dalam menghadapinya.

"Peran FKIK menjadi edukator pemberi informasi yang tentu juga akan berimbas semakin dikenalnya FKIK oleh masyarakat," jelasnya.

Konsultan manajemen dan teknis menyebut, PTKIN bisa mengembangkan hal ini dengan memanfaatkan potensi. Di mana pada potensi ini belum banyak yang memanfaatkan dan bisa melibatkan mahasiswa pada semester akhir. "Tri Dharma PT sudah tentu harus dilakukan. Penelitian dan pengembangan jadi prioritas yang kita dorong," jelasnya.

Dia menyebut, posisi PTKIN seperti menara gading. Belum banyak perguruan tinggi yang terdepan ikut melakukan penanganan Covid 19. Dicontohkan, dalam pemulasaraan jenazah, PTKIN bisa mengambil peran turut serta dalam pemulasaraan jenazah dengan penyediaan fasilitas yang dibutuhkan.

"Ini tahun kolaborasi dan sinergi. Tentunya seperti UIN Malang yang akan membuka prodi baru harus benar-benar bersinergi dan berkolaborasi dengan sebaik mungkin menuju sebuah tujuan kemajuan dan kedikdayaan UIN Malang," pungkasnya.

Topik
UIN Maliki MalangPerguruan Tinggi Keagamaan Islam NegeriBerita JatimUIN Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru