Kepala Disdikbud Turun Tangan, Polemik Pembangunan Bronjong Sekolah YPKA Malang Beres

Feb 12, 2021 21:07
Suasana saat proses mediasi antara warga sekitar dengan pihak Yayasan Ekklesia Sukun, Jumat (12/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Suasana saat proses mediasi antara warga sekitar dengan pihak Yayasan Ekklesia Sukun, Jumat (12/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Polemik pembangunan bronjong antara warga Warga Kelurahan Kasin, Kecamatan Sukun, Kota Malang dengan Yayasan Pendidikan Kemuliaan Allah (YPKA) Malang akhirnya beres . Kedua belah pihak bersepakat dilakukannya pembangunan bronjong pada dinding YPKA Malang dikenal Yayasan Ekklesia dalam mediasi yang dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana, di ruang YPKA, Jumat (12/2/2021). 

Mediasi melibatkan banyak pihak. Mulai dari perwakilan warga, pengurus YPKA Camat Sukun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan anggota DPRD Kota Malang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana berharap polemik yang terjadi segera usai dan pembangunan dinding sekolah untuk menyelamatkan sebuah bangunan instansi pendidikan dapat segera dilaksanakan. "Alhamdulillah, mediasi ini sudah berjalan dengan baik, lancar dan semua mau mengerti setelah dipahamkan semua. Kalau kemarin kan cuma kurang koordinasi aja. Setelah ada koordinasi baik tadi juga pihak sini mau melibatkan warga sana," katanya. 

Suwarjana menuturkan bahwa dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini yang diuntungkan adalah para siswa dari Yayasan Ekklesia karena masih menjalani program belajar melalui daring (dalam jaringan). 

"Diuntungkannya sekarang ini siswa nya masi daring. Jadi nggak ada pembelajaran aktif. Disini kan ada PAUD/TK, SD, SMP, SMK. Bagaimanapun juga ini yayasan lama dan lembaga ini juga harus diselematkan. Ini akan dilanjutkan pembangunannya dan siswa nanti kalau sudah masuk ke sekolah tidak terganggu," pungkasnya. 

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suyadi yang hadir dalam mediasi ini mengatakan penolakan pembangunan bronjong oleh warga masalah utamanya pada persoalan komunikasi. 

Dia berharap setelah adanya mediasi agar secepatnya bangunan yang ambrol segera dibenahi. Harapannya agar tidak terjadi bencana susulan yang ketiga kali. Suyadi juga merespons ketika disinggung terkait regulasi pembangunan suatu bangunan di bibir sungai. 

"Kalau kita ngomong regulasinya itu kan seharusnya dua sampai tiga meter dari bibir sungai. Termasuk rumah yang sebelah sana kalau ngomongkan aturan ya harus seperti itu. Tapi biarlah dari pihak pemerintah yang akan mengambil solusi," terangnya. 

Untuk diketahui, dinding bangunan YPKA Malang ambrol dua kali akibat debit air sungai yang meninggi karena curah hujan tinggi. Rencananya, akan dibangun bronjong untuk mengatasi persoalana tersebut. Namun, rencana pembangunan bronjoang ditolak oleh  warga.

Perwakilan warga yang juga menjabat Ketua RW. 03 Kelurahan Kasin, Kecamatan Sukun, Muhammad Zaini mengatakan bahwa warga keberatan pemasangan bronjong. Warga khawatir pembangunan bronjong dapat mempersempit aliran sungai. Dampaknya bisa membuat air sungai meluap sehingga menyebabkan banjir. 



"Yang diberatkan oleh warga adalah pemasangan bronjong itu nantinya penyempitan badan sungai. Khawatirnya nanti kalau banjir jadi gini atau gini. Cuma itu saja. Sebenarnya hanya kurang komunikasi saja, jadi ini nanti kami ketemu lagi dengan warga," ujarnya kepada awak media, Jumat (12/2/2021). 

Zaini melanjutkan bahwa jika dipasang bronjong secara permanen, di sebelah timur pada titik bangunan yang ambrol juga harus dipasang bronjong untuk melindungi warga sekitar. Karena di sekitar lokasi yang akan dipasang bronjong terdapat satu RT yang terdiri dari 60 KK (kepala keluarga) yang berpotensi terdampak banjir jika terjadi penyempitan aliran sungai. 

"Keinginan warga memang seperti itu. Dari Ekklesia sendiri pun juga menerima kalau ada tenaga kerja dari warga mereka siap. Jangan sampai ada anggapan yang longsor ini bukan punya saya. Kalau ada gotong royong kan lebih cepat," ujarnya. 

Saat mediasi berlangsung, Zaini pun sempat kaget dengan adanya informasi yang berhembus, bahwa terdapat warga sekitar yang mengambil bahan bangunan. "Saya tadi juga sempat kaget, disebutkan ada omongan katanya ada warga yang mengambil bahan bangunan atau apa yang itu akhirnya mereka tersinggung. Padahal hanya miskomunikasi," jelasnya. 

Sebagai perwakilan warga sekitar, Zaini menuturkan bahwa warga sekitar juga siap membantu proses evakuasi terhadap bangunan yang ambrol tersebut. "Kita siap saling membantu yang penting komunikasi aja. Kalau komunikasi bagus akan jalan," katanya. 

Sementara itu, salah satu pengurus Yayasan YPKA Malang yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMK Jonar Situmorang mengatakan sudah ada kesepakatan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Penolakannya itu warga berpikir ada penyempitan kali sehingga berdampak akan banjir. Kesepakatan tadi dengan warga ya kita berupaya untuk mengeruk dasar sungai itu supaya dalam, sehingga debit air tampak tenang di hulu itu. Tetap kita pasang bronjong itu," ujarnya kepada awak media. 

Jonar melanjutkan bahwa pemasangan bronjong yang didapat dari bantuan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tersebut harus dipasang karena sebagai penyangga pondasi yang akan dibangun. "Padahal sebenarnya kita kan menangani jangan sampai roboh tiga lantai ini. Lantai satu SD, lantai dua SMP dan lantai tiga SMK. Maka tetap kita pasang bronjong itu," ujarnya. 

Sementara itu, Camat Sukun Widi yang juga hadir dalam mediasi mengatakan setelah dilakukan mediasi dengan mempertemukan pihak-pihak yang bersitegang, akhirnya ditemukan solusi.

"Solusinya adalah pada saat membangun harus melibatkan tim teknis. Saat membangun harus melibatkan warga baik itu saran hingga tenaga, bisa jadi tukang bangunan atau kuli. Pihak Ekklesia akan benar-benar memaksimalkan tenaga manual yakni manusia (untuk mengeruk dasar sungai, red) karena alat berat tidak bisa masuk," terangnya. 

Widi mengatakan bahwa secepatnya harus dilakukan pembangunan terhadap dinding Yayasan Ekklesia yang ambrol. Karena dikhawatirkan akan terjadi ambrol susulan yang ketiga terhadap bangunan tiga lantai yang kondisinya saat ini rawan ambrol karena sudah muncul keretakan pada dinding dan pondasi sudah menggantung. 

"Secepatnya harus segera dibangun. Karena kalau tidak segera dibangun akan rawan lantai tiganya akan roboh. Memang butuh tim teknia. Kalau dibangunan sesuai dengan ahlinya tentu harusnya tidak akan ada kejadian seperti ini," jelasnya. 

Topik
Berita Malangyayasan pendidikan kemuliaan allahypka malangYayasan Ekklesia MalangDinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malangkepala disdikbud suwarjana

Berita Lainnya

Berita

Terbaru