Tahun Baru Imlek di Tengah Pandemi Covid-19, Pesanan Lampion Menurun Drastis

Feb 10, 2021 18:41
Pengerajin Lampion Ahmad Syamsudin yang berada di kawasan Jalan Ir. Juanda, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (10/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 
Pengerajin Lampion Ahmad Syamsudin yang berada di kawasan Jalan Ir. Juanda, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (10/2/2021). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTIMES) 

MALANGTIMES - Momentum perayaan Tahun Baru Imlek 2572 atau yang bertepatan pada tanggal 12 Februari 2021 dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, membuat pesanan lampion di pengerajin yang berada di Kota Malang menurun drastis. 

Salah satu pengerajin lampion yang berada di Jalan Ir. Haji Juanda Gang 5, RT. 08/RW. 01, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang yakni Ahmad Syamsudin mengatakan bahwa pandemi Covid-19 memang sangat berpengaruh pada pesanan lampion yang pihaknya buat bersama rekan kerjanya di Cempaka Lampion. 

"Tahun sebelumnya biasanya mendapat pesanan 4.000 hingga 5.000 lampion. Sekarang tahun ini cuma 1.000 sampai 1.500 lampion saja mas ini," ujarnya saat ditemui di tempat produksinya, Rabu (10/2/2021). 

Pesanan dengan jumlah 4.000 sampai 5.000 lampion tersebut, dikatakan Ahmad bahwa dengan jumlah sebanyak itu merupakan pesanan dari salah satu brand minuman terkenal di Italia. 

"Biasanya saya ngirim ke Italia mas. Itu yang pasti terbanyak juga pesannya 3. 000 sampai 4.000 lampion. Nah tahun ini tidak pesan gara-gara Covid-19, jadi ya berkurang," terangnya. 

Ahmad pun mengatakan bahwa jumlah karyawan atau yang biasa ia sebut sebagai 'rewang' untuk memproduksi lampion merupakan warga sekitar yang berjumlah 17 orang. Di tengah pandemi Covid-19, Ahmad pun sampai rela untuk menggadaikan mobilnya untuk terus menjalankan usaha lampionnya ini. 



"Saya sampai menggadaikan mobil mas. Sampai sekarang belum saya tebus. Terlebih lagi 17 rewang itu harus saya carikan mas," jelasnya. 

Pria asli Malang berusia 34 tahun ini juga menuturkan bahwa dirinya akhirnya menggadaikan mobilnya untuk membayar gaji karyawan selama tujuh bulan saat Covid-19 kemarin. Dirinya pun memiliki prinsip berbeda dengan orang-orang lain. 

"Prinsip saya, nggak papa saya rugi nggak dapat keuntungan, yang penting rewang saya bayaran mas," katanya. 

Selain dirinya menggadaikan mobil untuk menambah pendapatan selama tujuh bulan saat pandemi Covid-19 yang tidak mendapat pesanan, Ahmad juga mengaku bahwa dirinya memiliki kerja sampingan sebagai tukang parkir di kawasan Taman Krida Budaya Soekarno-Hatta. 

"Saya nyambi juga jadu juru parkir mas di Taman Krida Suhat situ mas. Kalau memenuhi kebutuhan hidup pas pandemi ini alhamdulilah itu sudah mencukupi untuk makan," terangnya. 

Sementara itu, Ahmad tidak berkenan untuk mengungkapkan terkait pendalatan yang didapat tiap bulannya. Namun Ahmad hanya mengatakan bahwa yang jelas untuk penjualan lampion berdasarkan ukuran dan bentuknya. 

"Biasanya yang standar itu ada bentuk bola, bentuk kapsul dna bentuk oval. Itu juga macam-macam mas, kalau diameter 30 sentimeter ya Rp 30 ribu dan seterusnya. Juga tergantung bentuknya juga mas. Tapi waktu Covid ini minim sekali pesanan lampion," pungkasnya.

Topik
Hari Raya ImlekPengrajin lampionpenjualan lampion menurun

Berita Lainnya

Berita

Terbaru