Mengenal Santet dalam Budaya Oesing, Tokoh Kopat: Tidak Menyakitkan

Feb 08, 2021 16:57
Sanusi Marhaedi alias Kang Usik, salah seorang tokoh KOPAT Desa Glagah Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)
Sanusi Marhaedi alias Kang Usik, salah seorang tokoh KOPAT Desa Glagah Banyuwangi (Nurhadi Banyuwangi Jatim Times)

BANYUWANGITIMES - Banyuwangi pada masa lalu terkenal dengan julukan kota santet yang memiliki konotasi negatif. Namun dalam kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, sekitar 10 tahun terakhir predikat yang memiliki konotasi negatif tersebut berhasil dihapus. Saat ini, kota ujung timur Pulau Jawa ini dikenal sebagai kota wisata.

Menurut Sanusi Marhaedi yang akrab disapa Kang Usik, santet dalam budaya dan tradisi masyarakat Oesing yang dikenal sebenarnya merupakan aji pengasihan yang tidak menyakitkan. Santet itu ada dua macam yaitu seret yang biasa digunakan oleh lelaki/ pria dan pesensren yang dimanfaatkan kaum perempuan/wanita untuk melariskan dagangan.

Dalam budaya Banyuwangi dikenal “mesisan kanthet “ atau biar pasangan muda mudi bisa lengket. Dan pilihan yang lain “mesisan benthet” atau biar pecah atau pisah apabila memang tidak bisa bersatu.

Selanjutnya Kang Usik menuturkan, pada awalnya dulu di Banyuwangi yang identik dengan masyarakat Oesingnya, dikenal ada warung bathokan. Warung tersebut sebenarnya merupakan salah satu bentuk kasih sayang orang tua terhadap putrinya yang sangat disayangi. Sehingga agar tidak bekerja jauh dari orangtua maka dibuatkan pondok kecil di depan rumah namanya warung, yang biasanya menjual dua makanan khas, tahu kecap/lontong kecap  dan lontong campur. 

Kemudian, imbuhnya,  warung bathokan juga menyajikan kuliner yang khas yaitu, gedang goreng endog, tahu besar dan minuman kopi, teh dan cola/limun. Kemudian gadis berjualan di warung oleh orang tuanya dicarikan pesesren, aji pengasihan agar banyak orang laki-laki tertarik untuk mampir dan membeli makanan dan minuman yang dijual. 

“Dalam operasionalnya si ayah yang berbelanja ke pasar dan ibunya yang  memasak. Tugas sang anaknya adalah menjaga dan melayani pembeli di warung. Tradisi yang berkembang di wilayah Banyuwangi pada sekitar tahun 1974-1976 dan setelah tidak ada,” jelas Kang Usik.

Kebanyakan pembeli itu bercanda dengan penjual dengan mengatakan” kopi ini kok nggak manis”, lantas oleh penjual kopi tersebut dicicipi, kemudian mesem-mesem dan pembeli melanjutkan minum kopinya. Hal ini bisa diartikan awal terbukanya komunikasi antara gadis dan lelaki yang tertarik untuk mengenal lebih jauh si gadis. 

Namun jika wanita tidak memberikan respon yang seperti harapan, menurut tokoh Komunitas Pelestari Adat dan Tradisi (KOPAT) Banyuwangi tersebut, maka seorang lelaki terkadang akan mencari orang tua yang memiliki “ilmu seret”. Supaya wanita kena guna-guna seret akhirnya luluh dan tidak rewel yang terkadang terjadi tradisi kawin colongan. Sehingga santet dalam budaya masyarakat Oesing itu tidak mematikan dan menyakitkan. 

“Namun sekali waktu terjadi untuk mempermalukan gadis bersama keluarganya, terkadang seorang lelaki menggunakan aji pengasihan “Jaran Goyang” yang dimaksudkan agar si gadis bertingkah seperti jaranan,” imbuh pria yang tinggal di Kampung Dukuh, Desa Glagah, Banyuwangi itu.

Selanjutnya, terkait dengan ramainya pemberitaan deklarasi Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) menurut Kang Usik, namanya dukun cakupanya bukan lagi nusantara akan tetapi sudah mendunia.

Menurut dia akan lebih baik apabila Perdunu menggelar “Festival Pengobatan Herbal Nusantara” yang bisa mengangkat aneka macam tanaman herbal bumi Blambangan yang terbukti mampu menjadi pengobatan alternatif dan para leluhur terbukti sebagian mampu hidup lebih dari seratus tahun. 

Selain itu istilah santet yang dikenal dunia memiliki konotasi yang negatif sehingga bisa merugikan nama Banyuwangi yang susah payah diperjuangkan untuk dihapus dalam era kepemimpinan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Saat ini terbukti berhasil merubah image menjadi Banyuwangi kota yang hebat dalam pembangunan dan pengembangan wisata yang diakui oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia dengan berbagai penghargaan yang diraih.

 

Topik
ilmu santetbudaya oesing banyuwangisantet dalam budaya oesingkomunitas pelestari adat dan tradisipersatuan dukun nusantaraberita santet banyuwangi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru