Di Webinar Nasional, Rektor Unisma Beber Kiat Jadi Guru Hebat Revolusi Industri 4.0

Feb 07, 2021 16:21
Rektor Unisma saat memberikan materi menjadi guru yang hebat di Era Revolusi Industri 4.0 (Ist)
Rektor Unisma saat memberikan materi menjadi guru yang hebat di Era Revolusi Industri 4.0 (Ist)

MALANGTIMES - Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), Prof Maskuri, meminta untuk institusi pendidikan, khususnya para pengajar mengambil hikmah atau hal positif dari adanya Pandemi Covid-19. 

Hal itu disampaikan dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan Unisma dengan tema "Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis IT untuk Guru SMA, SMK dan MA", Sabtu (6/2/2021).

Dijelaskannya, jika tak hanya memberikan dampak negatif semata. Namun satu sisi, pandemi ini menjadi sebuah pendorong untuk menjadi lebih baik, khususnya dalam bidang pendidikan. Hal ini menjadi satu peluang baru atau adaptasi baru dalam kehidupan, utamanya dalam hal pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan.

"Dulu banyak ilmuwan yang mengatakan, bahwa masyarakat akan familiar terhadap teknologi, membutuhkan waktu empat sampai lima tahun. Tapi Allah memberikan hikmah dengan pandemi Covid-19, sehingga tak perlu waktu empat sampai lima tahun. Satu minggu dipaksa memiliki ketrampilan dalam bidang teknologi informasi," jelasnya.

Namun meskipun begitu, tentunya masih perlu lagi lebih mendalami terkait jenis teknologi yang itu pas digunakan dalam proses pembelajaran agar lebih efektif dan efisien. Sehingga, pesan dan nilai yang disampaikan kemudian benar-benar bisa dipahami oleh peserta didik.

"Tak hanya dibangun dari mindset, namun juga dari karakter dan budaya. Guru menurut saya tidak boleh ketinggalan dengan anak-anaknya. Guru harus punya sikap inklusif dari mana pun datangnya ilmu pengetahuan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam membangun kapasitas sebagai seorang guru," terang Profesor yang ramah ini.

Oleh karena itu, Unisma mencoba untuk sharing pengalaman dan memberikan kontribusi positif kepada para guru-guru hebat di Indonesia. Ditegaskan Maskuri, jika seorang guru yang hebat, harus terus mengupdate dan mengupgrade kemampuan yang ia miliki. Seorang guru harus mempunyai sifat adaptif dan memiliki konsep out of the box.

Mengembangkan energi-energi positif bagi seorang guru merupakan kunci utama. Sebab di situ lah nantinya seorang guru akan menjadi magnet bagi para peserta didik dan magnet di hadapan masyarakat.

"Guru tidak hanya memegang satu prinsip kenyamanan, kemapanan, tetapi justru ia memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi. Kalau guru hebat tetap mempertahankan tradisi lama, maka suatu saat akan tertinggal dan tergilas oleh dinamika perkembangan jaman. Mudah-mudahan, pendidikan di Indonesia bisa semakin maju hingga tingkat internasional, sehingga bisa berkontribusi untuk peradaban dunia," tuturnya.

Seorang guru merupakan pembawa misi perubahan pada berbagai aspek, bahkan hingga spiritualitas. Selain itu guru juga harus memberikan pelayanan terbaik, agar bagaimana dalam proses pembelajaran guru tak malah menjadi apriori atau kehadirannya justru menjadi hal yang tak menyenangkan bagi peserta didik.

"Guru juga tak hanya boleh bercita-cita bisa mengajar saja, namun juga harus bisa merubah pola pikir dan keterampilan, membangun karakter para peserta didik menjadi lebih baik lagi, hingga setelah mereka memiliki perubahan dan pengetahuan bisa melakukan perubahan pada peradaban dunia," paparnya.

Tantangan guru di era milenial atau di era generasi Z, yaitu bonus demografi. Indonesia sudah menjadi bagian Asian Economic Community. Usia produktif di Indonesia sangat melimpah. Sehingga hal ini tergantung kepada para guru untuk mengarahkan, membimbing, mendidik para generasi untuk bisa membawa perubahan yang baik.

"Tugas guru mulia sekali. Pada saat ini, jumlah penduduk 267 juta. Usia produktif jumlahnya begitu luar biasa. Pendekatan pendidikan yang bagus akan bisa menghasilkan sumber daya yang bagus. Tapi kalau bonus demografi ini guru menjadi masalah, maka output bukan lagi mengantarkan menjadi generasi emas, tapi malah menjadi beban bonus demografi kita. Jangan sampai terjadi, karena dunia pendidikan yang dititipi ini," jelas Prof Maskuri.

Pihaknya juga meminta agar para guru turut mengawasi betul pengaruh generasi dari paham-paham radikalisme. Paham ekstremisme yang bisa merusak Indonesia sebagai negara yang toleran, negara yang moderat, negara aman dan harmoni diporak-porandakan oleh kelompok non mainstream.

Beralih ke komunikasi maupun teknologi informasi, menurut Prof Maskuri, hal ini tak bisa diremehkan. Sebab, perkembangan teknologi pada berbagai bidang ini sangat cepat. Namun teknologi informasi bukan lah menjadi yang utama, teknologi itu menjadi instrumen dalam bidang pendidikan. 

Saat ini, sudah mulai dikenal society 5.0. Selaras dengan hal itu, pihaknya menekankan agar ilmu kemanusiaan tidak tergerus atau terkena erosi dari perkembangan teknologi informasi. Justru ilmu ini adalah pengendali dari teknologi.

"Nilai-nilai kemanusiaan tetap harus terangkat. Harus didudukkan dengan tepat dan harus lebih mulia dari teknologi. Teknologi informasi 4.0 ini jangan dikultuskan, masyarakat harus mampu mengendalikan teknologi untuk memberikan kebermanfaatan," jelasnya.

Beragam hal yang kini menjadi terakses dalam dunia maya, tentunya tak menutup kemungkinan jika metode pembelajaran juga akan beralih melalui pendekatan teknologi informasi. Karena itu, sebagai sebuah SDM, harus mengikuti perkembangan dalam mendukung peningkatan kompetensi yang bisa beradaptasi dengan kondisi.

Di Indonesia, riset dan teknologi masih rendah. Karena itu para guru juga diharapkan untuk bisa berperan serta membuat riset dan teknologi menjadi panglima di tanah air. Sehingga, dalam jalannya, tak hanya sebagai seorang konsumen namun juga menjadi seorang produsen.

Sebagai seorang guru, menerapkan strategi pendidikan, di mana teknologi sebagai bagian aktif dalam pendidikan. Sehingga, meskipun mereka yang masuk dalam kalangan generasi-generasi sebelumnya, tentunya juga harus turut belajar dengan pendampingan dari mereka yang telah lebih paham, untuk kelangsungan pendidikan yang baik.

Fokus horizon pada 2025, akan terjadi pendekatan pembelajaran yang berubah. Meskipun pandemi telah selesai, teknologi tetap saja akan menjadi panglima dalam pengembangan pendidikan. Pendidikan yang cross cultur dan multi disiplin area akan menjadi poin penting yang harus dimiliki seorang guru untuk mendidik generasi bangsa.

Seorang guru harus memiliki kompetensi plus mulai dari  kepribadian, sosial, pedadogig, profesional, leadership, teknologi informasi dan spiritualitas. Seorang guru harus mampu membangun sebuah karakter agar anak didik mereka bisa menempatkan posisi yang tepat pada berbagai tempat. Baik itu karakter moral, karakter kerja dan karateristik adaptif.

"Tantangan di Indonesia juga adalah bagaimana menciptakan manusia yang utuh, mengelola post generasi mileneal. Generasi pada saat ini cenderung ingin memiliki pengetahuan secara instan. Karena itu, di era ini, kita jangan lah hanya melakukan pendidikan untuk peningkatan intelektual saja. Namun spiritualitas juga menjadi bagian kita untuk menjadikan seorang anak yang hebat," terangnya.

Selain Rektor Unisma yang memberikan paparan mengenai materi terkait pendidikan, dalam webinar nasional tersebut, juga terdapat narasumber lain yang selaras dengan tema, yakni Pakar Kurikulum dan Pembelajaran, Dr H Nur Fajar Arief MPd dan Pakar media pembelajaran Dr Sri Wahyuni MPd.

Dalam kegiatan itu sendiri, diikuti oleh para guru di seluruh Indonesia, para mahasiswa Unisma bahkan hingga peserta dari Indonesia yang mengajar dari luar negeri turut bergabung.

Topik
Webinar Nasionalwebinar unismaMahasiswa UnismaRektor Unismaunisma malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru