Unisma Kampus Moderat: Menjaga Keutuhan NKRI dan Perdamaian Dunia

Feb 04, 2021 19:07
Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi, berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dan perdamaian dunia, terlihat berfoto berlatar bendera negara didunia (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi, berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dan perdamaian dunia, terlihat berfoto berlatar bendera negara didunia (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Islam rahmatan lil alamin, menjadi dasar Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi kampus moderat. Prinsip Islam ahlussunah wal jamaah turut dipedomani Unisma dalam berbagai hal, termasuk dalam komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan juga perdamaian dunia.

Prinsip tersebut antara lain adalah tawassuth (moderat). Sikap moderat selama ini telah tertanam pada seluruh elemen Unisma. Unisma selalu menekankan sikap moderat di tengah-tengah pluralitas, multikultur dan moderat di tengah-tengah Bhinneka Tunggal Ika.

"Para civitas akademika, para alumni harus memiliki prinsip itu (moderat). Jangan di tengah masyarakat justru menjadi masalah, sehingga sebaliknya, di tengah-tengah masyarakat selalu menebar kemaslahatan. Harus menghargai akan perbedaan, yang tetap didasarkan pada nilai Islam dan kemanusiaan. Kita ini moderat, artinya bisa meletakkan diri dalam posisi," jelas Rektor Unisma Prof Dr H Maskuri MSi. 

Kemudian, prinsip selanjutnya adalah Tawazun atau harmoni, menjaga keseimbangan.  Prinsip ini menjadi kunci utama, bagaimana bangsa dan negara bisa terbangun dengan sempurna. Tanpa kesejukan, tanpa kedamaian tanpa persaudaraan dan persatuan yang itu dalam satu  wadah harmoni, maka pembangunan tersebut akan sulit terjadi.

Karena itulah, dalam upaya menjadi harmoni, Unisma berkomitmen untuk membentuk sumberdaya berkualitas yang mampu menjadi pengharmonisasi bagi bangsa dan negara.

Di Unisma,  terdapat mereka yang beragama lain belajar dan menempuh pendidikan di Unisma. Mulai dari Kristen, Hindu, Budha, bahkan hingga Konghuchu. Mahasiswa Unisma bermuara dari 34 negara dengan berbagai macam latar belakang dan agama tanpa ada diskriminasi. Hal ini menunjukkan, tentang perdamaian serta nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Selanjutnya, Tasamuh yang artinya adalah toleran. Sikap ini merupakan sikap yang tidak bisa terpisahkan dengan sikap moderat maupun harmoni. Toleran ini menjadi sebuah kesatuan yang penting dalam berkehidupan, dimana saling menghargai dengan perbedaan.

Dan yang tak ketinggalan adalah prinsip Al-Adl atau bersikap secara proporsional. Artinya, setiap individu mampu menempatkan diri pada posisi yang tepat,  yang itu selaras dengan ta'adul (adil).

"Kemudian juga ada amar ma'ruf nahi munkar. Di Unisma tentu selalu untuk bagaimana mengajak (untuk menjalankan) apa yang telah diperintahkan oleh tuhan dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, nilai budaya, peradaban, tapi juga menjauhi segala apa yang justru merugikan orang lain dan yang dilarang oleh tuhan," ungkapnya.

Untuk itu, dalam implementasi pendidikan yang selaras dengan Unisma sebagai kampus moderat yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dan perdamaian dunia, terdapat beberapa model, antara lain adalah uswah (keteladanan). Keteladanan tersebut diambil dari keteladanan seorang pimpinan, keteladanan dari para dosen maupun karyawan untuk peserta didik atau mahasiswa.

Selain itu model lain adalah melalui proses pendidikan, implementasi konkretnya melalui seringkali digelarnya kajian-kajian Islam ahlussunah wal jamaah untuk internalisasi nilai-nilai untuk para dosen karyawan maupun kepada para mahasiswa.

"Jadi kita kasih pengetahuan dulu, setelah itu akan muncul pemahaman dan setelah itu akan muncul sikap. Dan sikap itu lah yang nanti akan menjadi sebuah tradisi," jelas Rektor yang ramah ini.

Namun sesungguhnya, Rektor menegaskan, jika prinsip-prinsip Aswaja tadi sebenarnya telah built-in pada proses-proses pembelajaran diseluruh mata kuliah yang ada di Unisma. Bahkan dalam kegiatan apapun, baik itu diskusi atau hal lainnya, prinsip-prinsip Aswaja selalu termasuk didalamnya.

"Contohnya diskusi itu kan tentunya akan banyak pendapat masa kecil akan di ambil jalan tengah. Nah disitulah sikap moderat ada. Persemaian banyaknya pemikiran dalam diskusi menjadi keragaman yang itu menjadi khazanah pemikiran. Tapi bukan berarti kemudian si dosen tak memiliki satu sikap. Dari berbagai pemikiran inilah yang kemudian dikembalikan dan diambil jalan tengah," ungkapnya.

Disisi lain, tradisi keagamaan di Unisma semakin diperkental.  Seseorang dituntut untuk memiliki sikap yang Arif dan bijaksana. Keseimbangan intelektual, emosional dan spiritual menjadi aspek pembentuk yang kemudian menjadi individu memiliki spritualitas yang bagus. Implementasi itu (memperkuat spiritualitas)  kemudian diwujudkan dengan setiap pagi pimpinan dan seluruh pegawai Unisma Unisma diwajibkan untuk membaca Al-Quran setiap masuk kantor.

"Murathil Quran juga termasuk. Setiap bulan pada Rabu Minggu pertama khotimal Qur'an di sudut lobi, sudut ruang, shalat jamaah bersama, malam Jumat kita istighosah, diawal kegiatan apapun kita membaca shalawat. Ini jadi bagian dasar mentalitas, spiritual dan perilaku. Saat ini sudah jadi tradisi. Maka kita meneguhkan sebagai kampus moderat, kampus harmoni, kampus multikultural, yang pada akhirnya kita ingin menciptakan Indonesia dan dunia damai," terangnya.

Tak hanya dalam menjaga perdamaian di tanah air saja, Unisma juga berkomitmen dalam menjaga perdamaian dunia. Melalui para alumni lulusannya, seperti diketahui bermuara dari 34 negara, Unisma menekankan kepada lulusan untuk menjadi sinar-sinar perdamaian.

"Dia akan menjadi cahaya-cahaya di daerahnya, dia akan menjadi lokomotif di daerahnya, akan menjadi agen perubahan berdasarkan sikap damai yang ditampilkannya," jelasnya.

Para mahasiswa asing, dibekali dengan modal-modal kearifan dan kebijaksanaan yang selama ini tercermin di Unisma. Hal itu semakin diteguhkan dengan pembelajaran pada program studi pendidikan Islam multikultural.

"Mereka yang non muslim, memang tak diwajibkan mengikuti kuliah agama, tapi mereka justru tertarik sendiri untuk mempelajari mengikuti kuliah agama ini. Bahkan nilainya lebih baik dari pada mereka yang muslim. Agama untuk pengetahuan bagi mereka, sebagai pemahaman, dengan itu, sikapnya tentunya akan damai," pungkasnya.

 

Topik
Universitas Islam Malang (Unisma)unisma kampus moderatprinsip unismaBerita Pendidikan Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru