Jelang Tahun Baru Imlek, Jumlah Pesanan Lampion Menurun di Kota Batu

Feb 03, 2021 17:00
Sujono Djonet, salah seorang pengusaha lampion, bersama karyawannya sedang membuat lampion berbentuk lebah di Desa Gunungsari, Dusun Pagergunung, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (3/2/2021). (Foto: Mariano Gale/MalangTIMES)
Sujono Djonet, salah seorang pengusaha lampion, bersama karyawannya sedang membuat lampion berbentuk lebah di Desa Gunungsari, Dusun Pagergunung, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (3/2/2021). (Foto: Mariano Gale/MalangTIMES)

BATUTIMES - Jelang Tahun Baru Imlek Jumat (12/2/2021) mendatang, pengusaha lampion di Kota Batu mengalami penurunan pesanan. Hal itu disebabkan pandemi covid-19 dan aturan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diberlakukan di sebagian wilayah Jawa dan Bali.

Sujono Djonet, salah seorang pengusaha lampion di Desa Gunungsari, Dusun Pagergunung, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu,  mengaku saat pandemi ini mengalami penurunan jumlah pesanan lampion.

"Saya kan garapnya lampion bagian maskotnya saja. Seperti Tahun Baru Imlek yang lalu, kan shio tikus. Nah saya buat maskot itu. Kalau tahun sekarang shio kerbau logam. Dan hanya 3 pesanan saja yang saya buat shio kerbau logamnya," ujarnya, Rabu (3/2/2021).

Dengan kondisi jumlah pesanan menurun, omzetnya juga menurun drastis sekitar 60 persen per bulan. "Sebelum pandemi, setiap bulan ada 5 pesanan. Kalau sekarang hanya 2 pesanan. Bahkan dalam setahun hanya 1 pesanan," ungkapnya.

"Kan lampion saya untuk tempat-tempat wisata, mal, hotel, ya pokoknya landscape.  Nah saat ini kan tempat-tempat seperti itu di masa pandemi ini mengalami penurunan juga, otomatis pesanan saya juga menurun kalau mereka tidak pesan," imbuhnya.

Sebelum pandem,  jumlah pesanan lampion banyak dari luar Kota Batu, bahkan sampai luar negeri. "Banyak pesanan dari pemerintah, Jember, Purwakarta, Mojokerto, Kalimantan, bahkan ada juga pesanan dari Melbourne, Australia. Omzet bisa bisa sampai Rp 100 juta lebih. Kalau sekarang di masa pandemi menurun jadi 30 persen," ujar Djonet.

Namun,  meski di masa perekonomian yang sulit ini, usaha lampion yang berdiri sejak tahun 2006 itu  mampu mempertahankan karyawan tetapnya untuk keberlangsungan hidup. "Ya alhamdulillah, 32 karyawan tetap tidak ada pengurangan. Hanya karyawan mingguan yang saya rumahkan, kisaran 7 orang," ungkapnya.

Selain pembuatan 3 pesanan jelang Imlek, dia dengan karyawannya juga sedang membuat lampion berbentuk hewan lebah. "Ada pengusaha madu yang pesan 150 lampion hewan lebah. Yang nantinya juga tempat itu akan menjadi tempat wisata edukasi," kata Djonet.

 

Topik
Lampion Kota Batutahun baru imlek

Berita Lainnya

Berita

Terbaru