Web Seminar The Power of Shadaqoh, UIN Malang Hadirkan Jusuf Hamka, Siapa Dia?

Feb 02, 2021 19:05
Website seminar bertajuk The Power of Shadaqoh dan Usaha Mengatasi Problem Bangsa, Selasa (2/2/2021). (Ist)
Website seminar bertajuk The Power of Shadaqoh dan Usaha Mengatasi Problem Bangsa, Selasa (2/2/2021). (Ist)

MALANGTIMES - Indahnya bersedekah ditunjukkan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang melalui web seminar bertajuk The Power of Shadaqoh dan Usaha Mengatasi Problem Bangsa, Selasa (2/2/2021). 

Seminar dilaksanakan secara daring itu menghadirkan keynote speaker Direktur PT Citra Marga Nusaphala Persada H Muhammad Jusuf Hamka. Pria berdarah Tionghoa namun memeluk agama Islam itu mempunyai kisah luar biasa. Ia membangun warung makan dengan harga luar biasa murah bagi satu porsi makanan, yakni  Rp 3 ribu. Hal itu diniatkan sebagai bagian dari sedekah.

Dalam seminar yang diikuti pada dekan dan dosen-dosen UIN Maliki Malang dan lainnya tersebut, angkat anak tokoh Muhammadiyah sekaligus  sastrawan almarhum Buya Hamka ini membahas sedakah yang dilakukan melalui waruang nasi kuning yang didirikannya.

Jusif Hamka mengatakan, dalam memenuhi kebutuhan untuk warung nasi kuning, ia sama sekali tak menggunakan katering. Untuk pemenuhan, ia melibatkan pedagang atau warung-warung yang ada di sekitar lokasi. "Kami dagang Rp 3 ribu mau sedekah. Merekadagang Rp 10 ribu atau Rp 13 ribu mau cari nafkah untuk anak-anak sekolah.  Kalau kMi jadi kompetitor, kami mematikan nafkah mereka," ungkapnya.

Karena tidak  mau mematikan rezeki pedagang kecil, Jusuf pun kemudian menggandeng para pedagang dan warung-warung di sekitar untuk sama-sama terlibat dalam pendirian warung nasi kuning yang memang diniatkan untuk bersedekah. "Kalau kami ajak bersinergi, kami libatkan mereka. Jadi, mereka senang, kami senang, kaum duafa senang. Jadi, everybody happy," ucapnya.

Diketahui, untuk mendirikan warung nasi kuning itu, Jusuf telah menyiapkan Rp  2 miliar untuk menyubsidi nasi di warungnya. Namun justru saat ini, modal pribadi Rp 2 miliar itu tak habis dan hanya terpakai sedikit.

Jusuf bercerita, suatau ketika terdapat seorang tukang parkir. Saat itu tukang parkir tersebut sama seperti pendahulunya, yakni membeli makan dan kemudian membayar. Namun tak berapa lama kemudian, tukang parkir tersebut kembali dengan membawa seorang bapak tua yang membawa tongkat dan mengajaknya untuk makan.

Si tukang parkir mengaku ingin bersedekah kepada bapak tersebut. Hal itu pun semakin membuat hati Jusuf  terlecut. Sebab, dari situ, kemudian muncul gerakan untuk gerekan bersedekah bersama.

"Kalau saya kasih gratis, sedekahnya dimonopoli saya. Barakahnya juga monopoli buat saya. Tapi kalau ini, sedekahnya tidak dimonopoli. Kami berbagi jadi ajang sedekah di antara kami. Tukang parkir punya duit makan Rp 10 ribu, dia terima sedekah dari saya dengan beli Rp 3 ribu. Sisa Rp 7 ribu dia sedekah lagi Rp 3 ribu. Jadi, dia dapat sedekahnya, barakahnya juga dapat. Sedekahnya tidak dimonopoli, jadi ajang sedekah di antara kami. Bersama kami mendapatkan barakahnya," bebernya.

Sementara itu, gerakan sedekah melalui nasi kuning ini kini telah menular kepada banyak orang. Saat ini konsep Warung Podjok Halal telah diadopsi di sejumlah daerah. 

Jusuf menyampaikan,  sampai saat ini, mulai Februari 2018 hingga saat ini, telah rastusan ribu porsi disediakan. Namun yang mengejutkan, uang modal  Rp 2 miliar yang sebelumnya ia siapkan sebagai subsisidi hanya dikeluarkan sedikit sekali. Bahkan saat ini malah mengalami surplus.

Modal tersebut kini malah bertambah dengan adanya donasi dari dermawan. Banyak orang yang tergerak ikut menyumbangkan uang mereka demi gerakan ‘nasi kuning Rp 3 ribu makan sepuasnya’ itu.

"Buya Hamka mengajari saya, kalau mau bantu orang, fastabiqulkhoirot, nanti Allah yang cariin duitnya. Saya waktu itu agak ragu-ragu. Duit dari mana saya bilang. Masa orang mau nyari duit buat kita. Tetapi begitu saya buka nasi kuning, berduyun-duyun orang yang malah memberikan uang. Saya sendiri begitu terkejut ternyata begini fastabiqul khoirot," terangnya.

Sementara , Rektor UIN Maliki Malang Prof Abdul Haris yang mendengarkan cerita Jusuf itu  kagum dan takjub. Profesor yang gemar menulis puisi itu mengaku banyak memetik hal positif dalam kisah Jusuf Hamka.

"Kami semua mendapatkan sesuatu yang amat sangat berharga dan begitu baik. Di HP saya penuh pujaan dan ucapan terima kasih kepada kami. Padahal seharusnya berterima kasih kepada Pak Jusuf Hamka," katanya.

Bahkan, lanjut  Haris, jika sempat muncul komentar dari beberapa pihak yang mengaku usahanya selalu gagal,  kisah dari Jusuf Hamka ini, diharapkan turut bisa memotivasi dan memaknai. Yakni berusaha tentunya juga harus bersedekah, karena kekuatan bersedekah begitu besar. "Dengan ketemu Pak Jusuf Hamka ini, mudah-mudahan teman-teman bisa termotivasi dan usahanya bisa lancar," pungkasnya.

 

Topik
UIN Maliki MalangKekuatan SedekahKekuatan Sedekah

Berita Lainnya

Berita

Terbaru