MELUKIS KOSONG

Jan 31, 2021 12:01
Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

*dd nana

-Pada awalnya, mungkin, kosong

sebelum sabda didengungkan.

Yang rebah di legam, belum punya keluh

karena rindu masih janin yang tak kenal

Ikrar.

Maka jangan salahkan penolakan ini

walau yang suci meminta atas titah penguasa.

Sebelum Jibril mencuitkan sayapnya.

-Rauplah bila itu kehendak. Dan aku, rahim yang akan menangis, kelak.

Di hari pertama, diam-diam mata paling tajam

mengawasi dengan seksama. Tak ada kata, hanya tanya

yang redam di dada. Pepohonan berkesiut, alir air mengisut.

Ada yang mulai keriput, saat rumput-rumput yang menyangga

para kaki beringsut.

Sedang di bawah langit, yang legam berdentam-dentam

matanya menatap cemas. Hari keenam telah dilalui.

-Tinggal satu hari. Maka lapangan saja hati ini menerima

takdir. Menghitung setiap tetes darah yang kembali

ke rahimku. Darahku jua itu.

Mata paling tajam tertolak masuk

Beringsut dengan api yang nyala di tubuh pualamnya.

Akhirnya dia berikrar menjadi petualang dan siap melata

mencari kunci yang tak dimilikinya.

-Padahal aku yang lebih tua dan paling setia.

Sayap-sayap menciut rata dengan yang legam

kepala-kepala tertunduk. Doa-doa memenuhi angkasa.

Aku mencium Danur.

Mata paling tajam tersungkur

Rindu mulai di rahimkan

Sebelum nyeri ada dan berumah pada dada

dada paling sunyi.

-Ikrarku, melukis kosong itu hingga para kekasih mengaduh

mengasuh luka-luka yang diciptanya sendiri pada diri.

*Sekadar penikmat kopi

 

Topik
puisi malangtimespuisi malangpuisi karya dd nana
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru