600 Juta Rupiah untuk Pengadaan Face Shild dan Masker, Pasar di Malang Tetap Buka Selama PPKM

Jan 11, 2021 20:35
Jajaran kepolisian Polres Malang bersama Disperindag Kabupaten Malang saat menggelar sidak di pasar tradisional beberapa waktu lalu (Foto: Ashaq Lupito/ MalangTIMES)
Jajaran kepolisian Polres Malang bersama Disperindag Kabupaten Malang saat menggelar sidak di pasar tradisional beberapa waktu lalu (Foto: Ashaq Lupito/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang, Agung Purwanto, menegaskan jika pasar di Kabupaten Malang tetap beroperasi meski saat ini sedang berlangsung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

”Sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 1 tahun 2021, untuk pasar memang termasuk yang tidak terkena pembatasan,” ungkapnya saat ditemui media online ini di kawasan Pringgitan Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (11/1/2021).

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Permintaan Daging Sapi di Kabupaten Malang Turun Hampir 50 Persen

Sekedar informasi, dijelaskan Agung, jumlah pasar di Kabupaten Malang yang ada di bawah naungan Disperindag, tercatat ada 50 pasar.

”Jumlahnya, pasar tradisional ada 34, kemudian untuk pasar hewan ada 16. Jadi ada 50 pasar di Kabupaten Malang yang ada di bawah Disperindag (Kabupaten Malang),” terangnya.

Selain memastikan tidak ada pasar yang berhenti beroperasi selama PPKM, Agung juga menuturkan jika jumlah pembeli maupun pedagang di pasar yang ada di Kabupaten Malang, juga tidak dibatasi.

”Di dalam aturan tidak ada pembatasan itu, kalau dulu kan (PSBB) memang ada sistem ganjil genap. Tapi kalau ini (PPKM) tidak ada aturan seperti itu, jadi kita tidak akan melakukan itu (pembatasan). Kalau sampai terjadi (pembatasan, red) kita malah akan dikomplain, karena dalam aturan memang tidak ada kebijakan terkait pembatasan itu,” terangnya.

Meski tetap beroperasi selama PPKM, namun Agung menginstruksikan kepada para pedagang maupun pembeli di pasar yang ada di Kabupaten Malang, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

”Harus melaksanakan prokes secara ketat, baik pedagang maupun pembeli, kalau masuk (pasar) ya harus dicek suhunya, kemudian harus memakai masker dan sebagainya. Jadi tetap dibuka, tapi dalam aturannya terkait protokol kesehatan itu harus dilakukan secara ketat,” ungkapnya.

Khusus penerapan prokes di pasar yang ada di Kabupaten Malang, pria yang identik mengenakan kaca mata ini, mengaku sudah menyediakan beragam fasilitas penunjang. Salah satunya meliputi penyediaan tempat cuci tangan.

Selain itu, pada beberapa waktu lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Disperindag, juga telah mendistribusikan belasan ribu masker dan face shild yang diperuntukkan bagi seluruh pedagang pasar, yang ada di Kabupaten Malang.

”Kemarin (2020, red) kami (Disperindag) juga sudah memberikan masker dan face shild kepada seluruh pedagang di Kabupaten Malang. Kemarin ada pengadaan 15 ribu masker dan juga face shild,” terangnya.

Dijelaskan Agung, pengadaan belasan ribu masker tersebut, diperuntukkan bagi seluruh pedagang pasar di Kabupaten Malang. Yakni mulai dari pedagang lapak, Pedagang Kaki Lima (PKL), toko, bedak, hingga los.

Baca Juga : Tak Ada Gejolak, Diskopindag Kota Malang Pastikan Stok Kedelai Aman hingga Lebaran

”Jumlah pedagang pasar di Kabupaten Malang itu ada 14.761, tapi yang aktif sampai dengan saat ini ada sekitar 11.362,” terangnya.

Sekedar diketahui, anggaran yang digelontorkan Disperindag Kabupaten Malang untuk merealisasi belasan ribu face shild dan masker tersebut, mencapai nominal ratusan juta.

”Kemarin untuk yang tahun 2020 itu, (anggaran pengadaan face shild dan masker, red) sekitar Rp 600 juta untuk 1 tahun kemarin. Jadi mulai dari Maret sampai Desember (2020),” paparnya.

Terakhir, untuk mengantisipasi terjadinya klaster Covid-19 di area pasar, Agung mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin. ”Kita rutin menyemprot disinfektan tiap 3 hari sekali, itu dilakukan kalau dalam kondisi normal,” imbuhnya.

Disebut normal, diterangkan Agung, adalah ketika tidak ditemukan adanya pedagang atau pembeli di pasar yang terpapar Covid-19. Namun jika diketahui ada pedagang yang positif mengidap virus yang diduga berasal dari Wuhan, China tersebut, pihaknya bakal melakukan penyemprotan disinfektan secara lebih masif.

”Kalau kondisi tidak normal itu, manakalah salah satu pedagang ada yang reaktif. Biasanya akan kita semprot (disinfektan) lebih masif, dan itu bisa 2 kali dalam sehari,” tukasnya.

 

Topik
covid 19 kabupaten malangPemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

Berita Lainnya

Berita

Terbaru