Produktif di Tengah Pandemi, 25 Wanita Hebat ini Luncurkan Buku 'Labirin 25'

Dec 20, 2020 14:50
Editor JatimTIMES Group, Nurlayla Ratri (kanan atas) sebagai salah satu penulis buku Labirin 25 bersama 24 perempuan hebat lainnya (Dokumentasi Nurlayla Ratri).
Editor JatimTIMES Group, Nurlayla Ratri (kanan atas) sebagai salah satu penulis buku Labirin 25 bersama 24 perempuan hebat lainnya (Dokumentasi Nurlayla Ratri).

MALANGTIMES - Pandemi Covid-19 bukan menjadi alasan bagi para perempuan hebat ini untuk tak berkarya. Di tengah berbagai keterbatasan, perempuan-perempuan tangguh yang merupakan siswa kelas menulis fiksi Padmedia Publisher batch 2 itu pun berhasil menelurkan sebuah buku berjudul 'Labirin'. Buku tersebut diluncurkan secara online pada hari ini, Minggu (20/12/2020).

Pendiri Padmedia Publisher, Wina Bojonegoro menyampaikan, para peserta pelatihan yang kemudian berhasil membuat karya berupa buku tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Sebagian besar merupakan perempuan karir, ibu rumah tangga, dan ada juga satu siswa sekolah.

Baca Juga : Percakapan Lelaki dan Tubuhnya Sendiri

 

"25 perempuan hebat itu kemudian masing-masing membuat satu cerita pendek bergenre misteri dan lahirlah buku berjudul Labirin 25," katanya.

Cerpen yang dihasilkan tersebut bukan sekadar tulisan. Namun sebagai salah satu cara yang cukup berhasil untuk mengatasi segala keruwetan psikologis dan fisik. Para perempuan tersebut telah menyalurkan lahar panas dalam dirinya menjadi sebuah tulisan fiksi yang bergaya sesuai karakter masing-masing.

Wina menjelaskan, beberapa peserta baru pertama kali membuat karya tulis fiksi. Sehingga itu menunjukkan sebuah keberhasilan proses kreatif dari sebuah kelas. "Betapa hebatnya perempuan dalam mengatasi kondisi pandemi. Mereka melampaui tantangan, hambatan, dan ancaman menjadi peluang," terangnya.

Menyesuaikan masa pandemi, buku Labirin 25 diluncurkan melalui Zoom pada 20 Desember 2020 pukul 10.00 WIB, dan itu sebagai bentuk tantangan riil dari Wina. Novelis sekaligus sebagai kepala sekolah itu membimbing murid dalam kelas menulis tersebut dalam pelajaran selama 10 minggu. Semua proses belajar pun dilakukan melalui daring, dengan menampilkan 10 guru yang terdiri dari para penulis cerpen skala nasional.

Lebih jauh Wina menjelaskan, dari proses belajar selama 10 minggu itulah, proses menulis akhirnya berjalan. Untuk buku Labirin 25 itu sendiri, sengaja mengambil kisah misteri. Tujuannya agar para murid mampu meliarkan imajinasi, menggali potensi terdalam. "Bahkan mungkin tidak disadari oleh mereka bahwa kemampuan itu ada," ungkap Wina.

Nyatanya, desakan yang memunculkan kreativitas itu terbukti. Dengan tenggat yang diatur tipis, para peserta tersebut mampu memaksakan diri mengerahkan segala kemampuan untuk menyelesaikan tugas akhir. Tugas akhir itu berbentuk sebuah cerpen dengan menggali kisah misteri.

Selain arahan, pembantaian naskah menjadi bagian proses dalam kelas. Karena yang diinginkan, setiap murid belajar bukan hanya menulis, namun juga membaca dan mengkritisi.

Selain tujuan kreativitas dalam menulis, Wina juga lebih mendorong peserta kelasnya mampu menerapi diri mereka sendiri saat menghadapi pandemi. Relieve stress atau pemulihan stress itu salah satu caranya adalah dengan menulis. "Ini bermula ketika seruan untuk di rumah saja dan menjaga jarak, berefek sangat berat bagi perempuan. Meskipun secara terbuka jarang diakui," tambahnya.

Beban pekerjaan pun bertambah dengan adanya kebijakan sekolah daring. Ibu yang sebelumnya tidak perlu memahami matematika, mendadak harus menjadi ahli matematika. Ibu yang sudah lupa pelajaran bahasa Inggris, mendadak harus menjadi guru bahasa Inggris.

Baca Juga : Seharusnya Aku Mengiyakanmu Lebih Awal

Kegiatan memasak yang sebelumnya mungkin hanya keperluan sarapan atau makan malam, sekarang wajib memasak untuk makan siang juga. Kesibukan-kesibukan itu secara psikologis membebani perempuan dan potensial menciptakan gangguan kesehatan mental. Seperti sebuah labirin yang ‘menjebak’ banyak orang dalam kebuntuan berpikir dan kreativitas.

Dalam peluncuran buku Labirin 25 secara daring tersebut, dihadirkan tiga perempuan yang  menjadi guru 25 perempuan hebat tersebut. Ketiga guru itu adalah Oka Rusmini, Vika Wisnu, Wina Bojonegoro. Masing-masing berbicara mengenai Perempuan, Literasi dan Ekonomi. Tema ini sekaligus sebagai upaya memperingati hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember.

Sementara itu, salah satu penulis Labirin 25, Nurlayla Ratri yang juga editor JatimTIMES Group menambahkan, proses kreatif penyusunan karya yang dia lakoni bersama 24 perempuan lainnya sungguh sangat luar biasa. Dia harus pandai membagi waktu antara kelas online, tugas mingguan dari mentor, serta menjalankan karir sehari-hari.

"Tapi ini menjadi pengisi waktu yang sangat positif di tengah pandemi Covid-19, apalagi ada pembatasan aktivitas di luar rumah," terang Lyla.

Lyla sendiri berhasil menuliskan cerpen berjudul Kesaksian Cangkir. Karya tersebut dibuat ketika ia mendapatkan tugas dari sastrawan Damhuri Muhammad yang merupakan mentor selama proses belajar daring, dan menyarankan membuat judul kata cangkir. Setelah proses belajar, maka Lyla memilih judul Kesaksian Cangkir yang terinspirasi dari kasus kopi sianida. Kritikan yang ada di dalamnya pun dibalut dengan kisah pewayangan.

Selain Lyla, 24 perempuan hebat lain yang terlibat dalam penulisan buku Labirin 25 adalah Dewi Purboratih, Dhian HP, EVie Anita, Haryuning AK, Ilah Tia, Metta Mevlana, R.Wilis, Saptini Darmaningrum, Sarah Safira, Sari Koeswoyo, Sari Sahara, Sartini, Sih Lestari, Triana Damayanti, Vivi Dinatya, Vivid Sambas, Wahyu DP, Widha Kasban, Wina Bojonegoro, Windy Effendy, Yoni Astuti, Yulia Djajadi, Yuliani Kumydaswari, dan Zafira Nabila.

Sebagai informasi, Padmedia Publisher selama pandemi covid-19 telah melahirkan tiga kelas menulis fiksi. Kelas itu diikuti peserta dari berbagai kota. Bahkan dari mancanegara, di antaranya Hongkong dan Turki. Batch 1 telah melahirkan buku Hujan Tak Jadi Datang Malam Ini. Sementara batch 3 tengah berjuang menghadapi tugas akhir, berupa buku kumpulan cerpen dengan judul Anomali. Harapan Wina, semoga kelak lahir karya-karya sastra pilihan dari para perempuan, yang semula tak bisa menulis, sekali pun.

Topik
Pandemi Covid 19labirin 25menulis fiksi Padmedia Publisher

Berita Lainnya

Berita

Terbaru