Calon Bupati Malang nomor urut dua yakni Lathifah Shohib saat menggelar konferensi pers di Gondanglegi, Sabtu (5/12/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Calon Bupati Malang nomor urut dua yakni Lathifah Shohib saat menggelar konferensi pers di Gondanglegi, Sabtu (5/12/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Calon Bupati Malang Lathifah Shohib mengulas kembali kisah kedekatannya dengan saudara sepupunya yakni KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ulasan itu disampaikan Bu Nyai panggilan Lathifah Shohib di momen terakhir masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Malang 2020 pada Sabtu, (5/12/2020).  

Perempuan yang merupakan cucu dari salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni KH. Bisri Syansuri ini mengatakan bahwa dirinya dengan Gus Dur memiliki kedekatan yang cukup baik. Bahkan dirinya belajar politik dari Gus Dur. 

"Saya belajar politik dari Gus Dur. Karena saya sejak MI (Madrasah Ibtidaiyah, red) Gus Dur itu waktu pulang belajar dari Mesir, terus nikah dan berdomisili di Denanyar. Setiap Gus Dur itu keluar kota, saya selalu ditimbali (dipanggil, Red) untuk menemani Mbak Nur atau Ibu Sinta Nuriyah binti Haji Abdussyukur (istri Gus Durz red)," ungkapnya saat menggelar konferensi pers di Gondanglegi, Sabtu (5/12/2020). 

Bu Nyai Lathifah juga menuturkan bahwa pada saat dirinya dipanggil oleh Gus Dur untuk menemani Bu Nyai Sinta Nuriyah, Bu Nyai mengatakan bahwa ia sesekali juga diajak menemani ke Pasar untuk berbelanja. "Saya juga sering diajak Mbak Nur untuk mengantar belanja ke pasar. Itu kedekatan saya dengan keluarga KH. Abdurrahman Wahid," tuturnya. 

Lanjut Bu Nyai, bahwa pada saat dirinya telah berkeluarga dan berdomisili di Kota Malang, pada saat Gus Dur melakukan kunjungan ke wilayah Malang, Gus Dur pasti mencari dirinya. "Pada saat saya di Malang, sudah berkeluarga di Malang, saat beliau ke Malang pasti mencari saya. Kalau tidak sempat ke rumah, beliau mesti mengutus Sulaiman atau Cak Munib untuk ngontak saya, nelepon saya menyampaikan Bapak di Malang bu, bermalam di Hotel Regents," terangnya. 

Dikatakan Bu Nyai bahwa Hotel Regents merupakan salah satu hotel langganan Gus Dur saat melakukan kunjungannya ke Malang. "Hotel Regents itu langganan Gus Dur. Karena pemilik Hotel Regents, Pak Bambang merupakan teman baik Gus Dur," imbuhnya.  

Pada saat telah bertemu, beberapa kata yang terus teringat oleh Bu Nyai, yakni Gus Dur meminta maaf karena tidak dapat bersambang ke kediaman Bu Nyai yang ada di Malang. 

"Terus beliau matur, sepurane aku nggak iso nyambangi nang omahmu, makane awakmu tak celuk mrene cek e ketemu (maaf saya nggak bisa bersambang ke rumahmy, makanya kamu saya panggil ke sini, red). Itu kedekatan saya dengan Gus Dur," ujarnya. 

Sementara itu, Bu Nyai juga heran dengan pihak-pihak yang selalu mewanti-wanti jangan pernah menyebut dan mengikutsertakan Gus Dur dalam agenda politik dalam Pilkada Kabupaten Malang 2020. 

"Jadi kalau ada orang yang bilang jangan bawa-bawa Gus Dur. Saya nggak bawa Gus Dur. Memang saya ini benar-benar nasabnya adalah sepupunya Gus Dur dari jalur Bu Nyai Wahid Hasyim atau Bu Nyai Sholichah binti KH. Bisri Syansuri yang menjadi istrinya KH. Wahid Hasyim," jelasnya. 

Sampai-sampai Bu Nyai juga mengatakan bahwa dirinya dulu saat memanggil KH. Wahid Hasyim dan Bu Nyai Wahid Hasyim dengan sebutan bapak dan ibu sepuh. 

"Kami sekeluarga kalau ngaturi (memanggil, red) Bu Nyai Wahid Hasyim bu puh Wahid. Pak Wahid pak puh Wahid. Bapak sepuh, ibu sepuh. Termasuk Bu Puh kami itu Eyangnya Muhaimin Iskandar, eyangnya Saifullah Yusuf, eyangnya Pak Halim Iskandar, eyangnya Irsyad Yusuf itu termasuk sepupu saya," pungkasnya.