Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati: Awas, Ada Developer Nakal Bermodus Syariah

Dec 04, 2020 17:45
Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati, Mantan Ketua REI Malang. (Foto: istimewa)
Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati, Mantan Ketua REI Malang. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Penasehat Real Estate Indonesia (REI) Malang Syukur Mursid Brotosejati rajin membongkar modus yang kerap digunakan developer nakal. Pria yang akrab dipanggil Heri Mursid tersebut geram dengan menjamurnya developer nakal yang keberadaannya sangat merugikan masyarakat.

Mantan Ketua REI Malang dua periode itu menjelaskan, modus developer nakal sangat beragam. Bahkan ada yang menggunakan label syariah untuk menutupi  kenakalannya.

Baca Juga : Syukur Mursid (Heri Mursid) Brotosejati, Penasehat REI Malang: Kini Banyak Developer Nakal

 

Apalagi saat ini, konsep perumahan syariah sedang ngetren di Indonesia. Bukan tanpa alasan perumahan dengan konsep syariah ini banyak dilirik. Selain memang negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam, tawaran yang diberikan developer sangat menggiurkan.

Beberapa perumahan syariah menawarkan sejumlah "keberkahan" seperti tanpa bunga, tanpa riba, tanpa sita, tanpa IDBI (Informasi Debitur Bank Indonesia), hingga jangka angsuran yang panjang hingga 5 tahun lebih.

Meski demikian, sebagai pembeli, masyarakat jangan serta merta tergiur dengan tawaran-tawaran tersebut. Anda perlu berhati-hati, sebab banyak pula bisnis properti berbasis syariah yang ternyata tidak amanah.

Beberapa developer nakal memanfaatkan kata syariah sebagai gimmick saja. Tawaran tanpa bunga, tanpa riba, tanpa sita, tanpa IDBI, angsuran panjang biasanya hanyalah sekadar modus. Sebab, belakangan ini sedang marak terjadi masalah hukum terkait developer yang menjual dengan cara-cara seperti itu.

"Banyak developer terpercaya yang sungguh-sungguh menerapkan praktik syariah. Tapi ada juga developer yang menipu dengan modus syariah. Makanya masyarakat harus hati-hati," ujar Syukur Mursid Brotosejati atau yang lebih akrab dipanggil Heri Mursid.

"Developer ini bisa jadi hanya makelar yang berbaju developer," sambung Syukur.

Awas-Ada-Developer-Nakal-Bermodus-Syariahc2036187452abd0a.jpg

Dalam sebuah sesi wawancara bersama MalangTIMES, ia menjelaskan salah satu ciri developer nakal adalah menjanjikan cara pembelian yang sangat mudah. Dimulai dari angsuran yang jangka waktunya panjang. Misal, kredit in-house (langsung mencicil ke developer) hingga 60 kali. Beberapa developer, kata dia, membuat pembeli tergiur dengan angsuran murah dan jangka waktu yang panjang (5 tahun lebih). Selain itu juga tanpa bunga, tanpa riba, tanpa sita, dan lain-lain.

"Boleh saya katakan cara menjual seperti itu terindikasi bahwa sebenarnya tanahnya pun juga belum milik developer," lanjut Syukur Mursid Brotosejati.

Logikanya, pada saat si pembeli ini membeli dengan cepat, tentu developer harus segera menyelesaikan haknya si pembeli dengan cepat juga. Maka dari itu, developer nakal akan dengan senang hati memberi jangka waktu hingga 5 tahun dan bisa dicicil in-house installment ke developer langsung supaya si konsumen tidak segera menagih hak sertifikatnya.

"Apabila cicilan jangka pendek, dia tidak bisa memenuhi karena mungkin tanahnya ke orang lain belum lunas sehingga nanti ini masalahnya meledaknya di 5 tahun kemudian," tambah Syukur Mursid.

Sebab pada prinsipnya, ia menunda kewajiban. Karena di sisi lain, tanah masih belum atas namanya. Developer nakal berharap dengan jangka waktu cicilan yang panjang, ia mendapat pembeli lebih banyak. Lalu uangnya akan bisa dipakai untuk melunasi tanah milik orang lain itu. Jadi, cicilan dengan jangka waktu yang lama hanyalah strategi untuk mengakali supaya si pembeli ini tidak segera menuntut haknya.

"Itu namanya spekulan, developer yang spekulatif berharap sekian lama ini bisa cari uang untuk beresi tanah milik orang lain tadi," katanya.

Secara ilmu bisnis, si developer ini tidak mengeluarkan modal besar di awal untuk bayar tanah. Ini tentu berbeda dengan developer sesungguhnya yang mengeluarkan uang dulu untuk membayar tanah. Maka dari itu, ia tidak mungkin menjual rumah dengan tawaran cicilan tanpa bunga hingga 5 tahun lebih.

"Karena bisnis kan ada hitungan interest of money, ada perhitungan inflasi, dan lain sebagainya. Lah ini karena tidak mengeluarkan uang dia berharap cari uang dari konsumen dengan konsep syariah tadi," tuturnya.

Apabila dalam perjalanan mencari uang untuk melunasi tanah ia gagal, dalam artian konsumen yang diharapkan tidak sebanyak yang direncanakan, maka pasti wanprestasi dengan pemilik tanah yang asli. Akhirnya kasus baru meledak setelah 5 tahun kemudian.

Sebagai penjelasan, konsep menyicil langsung ke developer dengan jangka waktu yang lama ini tentu tanpa bank. Tanpa bank juga berarti tanpa bunga, tanpa riba, nah, ini juga sudah pasti tanpa sita.

Baca Juga : OJK Malang Punya PR Utama Tingkatkan Sisi Demand Masyarakat

 

"Dan tentunya pasti tanpa sita karena sita itu kan berarti harus dipasang HT, yang masang HT berarti kan dijaminkan oleh bank. Otomatis kalau tanpa bank ini kan berarti tanpa sita," bebernya.

Heri mengaku khawatir dengan konsumen yang terjebak dengan konsep-konsep syariah yang sebenarnya hanyalah modus ini.

Untuk itu, kata dia, apabila Anda mendapati modus-modus yang seperti itu, yakni cara pembelian yang mudah tanpa bunga, tanpa riba, tanpa bank, tanpa sita, jangka waktu cicilan yang panjang, dan lain sebagainya maka mintalah bukti sertifikat kepada developer. Lalu ajaklah developer ke notaris.

"Itu saya yakin pasti nggak punya sertifikatnya karena dia pada saat menjual sepanjang itu sebenernya dia juga punya tanggungan atas tanah ini ke orang lain. Jadi dia ngulur waktu kepada si pembeli supaya nggak nagih haknya, sementara dia sebenarnya punya hutang dengan berharap dalam perjalanannya bisa menyelesaikan hutang-hutang ke tanah yang sebenarnya belum miliknya tadi," papar Heri.

Apabila developer bisa menunjukkan sertifikat dan bisa diperjanjikan di depan notaris, barulah developer tersebut benar-benar bisa dibilang developer syariah. Apabila developer bisa membawa bukti sertifikat ke notaris berarti developer sudah tidak bisa menggadaikannya.

"Itulah developer yang benar-benar syariah. Tapi itu saya pikir langka, mungkin ndak ada karena bisnis properti ini bisnis yang padat modal," timpalnya.

Developer yang benar, kembali lagi Heri tegaskan, harus membeli tanah dulu sehingga tanah sudah jadi milik developer itu. Sehingga apabila dijual dengan waktu cicilan yang panjang, tanpa bunga, dan tanpa riba, secara bisnis pasti tidak menguntungkan.

"Lah kalau ada yang seperti itu, ini indikasi penipuan. Meskipun dengan judul syariah kasihan kalimat syariahnya. Itu yang membuat kata-kata syariah menjadi jelek karena banyak developer pakai bungkus syariah tapi bermasalah semua," tegasnya.

Rata-rata, apabila mencicil langsung ke developer, developer akan memberi waktu angsuran ke pembeli maksimal 24 kali atau dua tahun. Di luar itu, memakai KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

"KPR itu kan berarti setahun lunas. Artinya, pembeli membayar 30 persen uang muka. Diberi cicilan misalnya setahun 30 persen misalnya, yang 70 persennya kan developer dibayar oleh bank. Konsumennya yang ngangsur 10 tahun atau 15 tahun ke bank," paparnya.

"Ini kan kalau promo-promo syariah-syariahan itu dengan pola 5 tahun atau 10 tahun tanpa bunga, tanpa riba, tanpa bank, tanpa IDBI. Itu harus hati itu harus hati-hati," imbuhnya.

Barangkali tidak semua konsep syariah dengan angsuran 5 tahun ke atas, tanpa bunga, tanpa riba, tanpa bank, dan tanpa IDBI itu akan jadi kasus. Akan tetapi, itu berpotensi tinggi untuk jadi kasus. Bisa jadi masalahnya tak langsung terkuak. Namun, ke depannya pasti akan sangat merepotkan.

Untuk itu, berhati-hatilah dengan modus properti yang memakai modus "syariah". Baiknya mintalah bukti sertifikatnya dan ajaklah developer ke notaris. Apabila developer itu tidak bisa, untuk lebih amannya carilah rumah yang lain.

Topik
REI (Real Estate Indonesia)Syukur Mursid BrotosejatiHeri Mursid BrotosejatiDeveloper Nakal

Berita Lainnya

Berita

Terbaru