Salah satu lutung Jawa sedang menjalani pemeriksaan saat di Javan Langur Center, Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Salah satu lutung Jawa sedang menjalani pemeriksaan saat di Javan Langur Center, Coban Talun, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sejak tahun 2012 silam, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation Indonesia Program telah melakukan 19 kali pelepasliaran lutung Jawa. Setelah dilepasliarkan, sejumlah lutung yang telah dilepasliarkan tersebut mampu bertahan hidup dengan baik.

Dari 19 kali pelepasliaran, jumlahnya ada 102 ekor lutung Jawa. Masing-masing di Hutan Coban Talun sebanyak 41 ekor dan Hutan Lindung Malang selatan 61 ekor. 

Baca Juga : Kabupaten Malang Berpotensi Diterjang Tsunami, Begini Penjelasan BMKG dan BPBD

Pemilihan lokasi di kawasan Hutan Lindung Coban Talun dan Hutan Lindung Malang karena tipe habitat di kawasan tersebut merupakan hutan hujan tropis dataran rendah dengan jenis dan bentuk vegetasi yang beragam.

Kemudian hutan alam yang membujur dari barat (Balekambang) hingga ke timur (Kondangiwak) merupakan benteng terakhir untuk perlindungan satwa langka.

“Iya, di sana benteng terakhir untuk perlindungan satwa langka seperti lutung Jawa, kukang Jawa, macan tutul Jawa, elang Jawa, rangkong badak, merak hijau dan lain-lainnya di luas kawasan konservasi,” kata Project Manager Javan Langur Center, Iwan Kurniawan.

“Dan hasil monitoring rutin pasca pelepasliaran yang telah dilakukan, sejumlah lutung yang telah dilepasliarkan tersebut mampu bertahan hidup dengan baik,” ucapnya.

Sebelum dilepasliarkan, terlebih dahulu lutung tersebut dibekali dengan pemasangan microchip transponder dalam tubuhnya. Sehingga saat dilepasliarkan, lutung-lutung tersebut dapat dimonitor secara intensif oleh tim monitoring TAF IP. 

Ia menambahkan, bahkan beberapa individu sudah berkembangbiak. Sebagian ada yang bergabung dengan populasi liar di habitat barunya. Pada penghitungan populasi awal di hutan Coban Talun, Gunung Biru hingga Gunung Anjasmoro tahun 2010 hingga 2011 ditemukan kurang dari 100 ekor lutung Jawa.

“Sedangkan setelah 7 kali pelepasliaran dan berkembangbiak serta berinteraksi dengan populasi liar, pada tahun 2020 TAF-IP mencatat sedikitnya ada 155 ekor lutung Jawa di bentang hutan Coban Talun, Gunung Biru hingga Gunung Anjasmoro,” imbuhnya. 

Dengan demikian, ada kecenderungan populasi bertambah di kawasan tersebut. Sementara itu lutung Jawa merupakan salah satu jenis monyet pemakan daun endemik yang hanya tersebar di Jawa dan sedikit populasi di pulau-pulau kecil sekitarnya. 

Baca Juga : Setiap Ada Pembahasan Revitalisasi Pasar Kota Batu, HPP Akan Diundang Pemkot

Menurutnya, lutung Jawa sudah mulai dimasukkan dalam salah satu satwa yang dilindungi negara. Status perlindungan tersebut didasarkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. 

“IUCN Red List of Threatened Species Versi 2019.1 tahun 2019 memasukkan lutung Jawa (Trachypithecus auratus) pada kategori Vulnerable (Rentan kepunahan),” tutup Iwan.

Sementara itu, sebelum dilepaskiarkan lutung- lutung yang dilepasliarkan itu sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan kesehatan secara bertahap dan lengkap mulai saat kedatangan di Javan Langur Center hingga menjelang dilepasliarkan. 

Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memastikan lutung Jawa terbebas dari penyakit berbahaya menular seperti TBC, hepatitis B, herpes simplex, SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic virus) dan SRV (Simian Retro Virus).