Hariyadi tunjukan salah satu koleksi museum yang belum teregistrasi (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Hariyadi tunjukan salah satu koleksi museum yang belum teregistrasi (Joko Pramono for Jatim TIMES)

MALANGTIMES - Sejumlah koleksi Museum Daerah Tulungagung belum bisa dipamerkan di ruang pamer.

Pasalnya, luasan museum daerah berukuran 8 kali 15 meter tak mampu menampung 200 lebih koleksi museum yang ada.

Baca Juga : Ekskavasi Situs Pendem Kota Batu Rampung, BPCB Jatim Temukan Koin dan Peripih

Akibatnya, puluhan koleksi museum harus diletakan di gudang yang terbuat dari triplek dan rawan terkena banjir saat hujan.

Gudang yang apa adanya  ini bisa memperparah kondisi koleksi yang tidak bisa dipamerkan di galeri museum.

Pengelola Museum Daerah Tulungagung Hariyadi menuturkan, pihaknya sudah mengajukan ke Dinas Budaya dan Pariwisata untuk memperhatikan kondisi ini.

“Seperti yang ditempati 51 koleksi itu kondisinya tidak layak,” kata Hariyadi.

Dari pantauan lapangan, dinding gudang berukuran 3 kali 3 meter itu terbuat dari triplek yang sudah mengelupas. Atapnya terbuat dari asbes, yang jika hujan selalu bocor.

Hariyadi melanjutkan, luasan museum saat ini idealnya hanya menampung sekitar 80 koleksi saja, namun dijejali hingga 200-an koleksi.

“Sehingga pengunjung kalau melihat koleksi selalu berjejal,” ungkapnya.

Di Museum Daerah Tulungagung ada sekitar 269 koleksi. 129 terdiri dari koleksi arkeologi berupa patung, lapuk arca, dan peninggalan sejarah lainya.

Sisanya, 140 koleksi etnografi terdiri dari benda alat-alat pertanian tempo dulu, alat perikanan tempo dulu, alat mainan, alat perkakas rumah tangga dan alat musik tradisional.

Baca Juga : Cucian Mobil Dekat Exit Tol Mapan Kembali Dipertanyakan, Sutiaji Janji Selesai Tahun Inii

“Sekitar 70 persen sudah teregistrasi (terdata) sedang 30 persen masih belum,” ujarnya.

Untuk koleksi yang belum teregistrasi belum bisa diketahui kapan dan di mana benda itu ditemukan.

Koleksi yang belum teregistrasi dulunya berada di pendapa Tulungagung, lalu dipindahkan ke Museum Daerah pada tahun 1996.

“Saat dipindahkan ke pendapa pada 1996 itu tidak ada data yang menyertai, di mana asal dan koleksi penemuan,” terangnya.

Tidak adanya data koleksi benda purbakala itu mempengaruhi edukasi pada masyarakat. Pasalnya, saat mengamati benda purbakala, masyarakat biasanya akan menanyakan lokasi penemuan, asal penemuan, nama benda tersebut dan dari zaman benda itu dibuat.