Area pengisian bahan bakar pompa air yang digaris polisi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Area pengisian bahan bakar pompa air yang digaris polisi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Siapa pihak yang diduga melakukan sabotase dalam kasus air solar? Pihak Perumda Tugu Tirta Kota Malang atau lebih dikenal sebagai PDAM Kota Malang sepertinya sudah mengetahui siapa sosok pelakunya.

Karenanya, pihak manajemen membuat laporan atas dasar kecurigaan sabotase yang kemudian membuat kualitas air tercemar.

Baca Juga : Cerita Pilu Istri Korban Meninggal Kecelakaan Maut Proyek RSI Unisma

 

Pada Jumat (13/11/2020) lalu, pihak manajemen sudah membuat laporan resmi kepada Polres Malang di Kepanjen. Laporan dibuat, kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. 

Pada Selasa (17/11/2020), malangtimes.com yang melihat langsung tandon Wendit, mengetahui jika sudah terdapat garis polisi pada bangunan penyimpanan pompa yang tak jauh dari tandon Sumber Wendit.

Direktur Utama Perumda Tugu Tirta Kota Malang M. Nor Muhlas, menjelaskan, pihak kepolisian telah bergerak. Bahkan pegawai PDAM Kota Malang sudah dilakukan pemanggilan untuk dilakukan interogasi. Pemeriksaan menurutnya dilakukan secara maraton.

Apakah yang dipanggil polisi itu merupakan orang yang diduga melakukan sabotase? 

"Sudah masuk ranah polisi, biarkan polisi yang bekerja. Pegawai saya sudah diperiksa secara maraton," katanya.

Berdasarkan pantauan malangtimes.com pada Selasa (17/11/2020) lalu, terlihat area genset dan pompa air yang diduga sebagai area penyebab air berbau solar sudah ditutup dan dipasang garis polisi. Tidak ada aktivitas yang mencolok. Yang terlihat di lokasi adalah petugas kebersihan, satpam, serta pekerja yang tampak membenahi beberapa sisi gedung Sumber Wendit.

Sementara untuk area pompa tak bisa diakses lebih jauh, lantaran petugas melarang untuk pengambilan gambar. Area pompa dan genset jaraknya cukup dekat dan hanya dipisahkan dengan satu bangunan saja. Pompa tersebut menjadi titik untuk pendistribusian air ke rumah-rumah pelanggan.

Muhlas menjelaskan, garis polisi tersebut telah dipasang oleh petugas sejak Senin (16/11/2020) lalu. Selanjutnya dia menyerahkan proses hukum kepada pihak berwajib. Meskipun dari hasil investigasi internal sebelumnya, pihaknya telah menduga adanya beberapa kemungkinan.

Pertama adanya kemungkinan kelalaian dari petugas sehingga membuat luberan solar di mesin pompa Sumber Wendit. Kemungkinan kedua adalah unsur kesengajaan yang dilakukan pihak dalam ataupun pihak luar yang dengan sengaja melakukan sabotase.

"Saat ini sepenuhnya kami serahkan ke pihak berwajib," jelasnya lagi.

Baca Juga : Psikolog Sebut Grooming Behaviour, Perilaku Sosok Penuh Pesona

 

Dari hasil investigasi di lapangan, tangki tersebut harusnya mampu menampung hanya seribu liter solar saja. Namun belakangan diketahui jika tangki diisi tiga ribu liter solar. Akibatnya, kurang lebih dua ribu liter solar meluber hingga ke tandon dan sungai di sekitaran sumber. Sehingga membuat kualitas air menjadi tercemar dan berbau minyak tanah.

Lebih jauh Muhlas menjelaskan, jika pasca insiden tersebut, pihaknya telah memperbanyak CCTV di beberapa titik vital. Salah satunya di area pompa air di Sumber Wendit. Dengan harapan, tidak lagi terulang kasus serupa yang bisa merugikan ribuan pelanggan PDAM Kota Malang.

"Dan saat ini kualitas air sudah bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pasca normalisasi, dinyatakan jika air tidak berbau dan memenuhi syarat air minum," sambungnya.

Muhlas menjelaskan, jika sebelumnya telah dilakukan proses normalisasi. Pihaknya juga melakukan uji lab terhadap kualitas air yang ada, dan hasilnya menunjukkan jika sudah tidak ada lagi kandungan solar. Sehingga air memenuhi syarat sebagai air layak minum. 

Dia berharap agar pelanggan yang terdampak membersihkan tempat tandon airnya untuk memastikan tidak ada bekas solar yang tertinggal.

Sebelumnya, pihaknya juga mengirimkan bantuan tangki air bersih untuk bisa didistribusikan ke beberapa titik kawasan terdampak. Sehingga para pelanggan bisa tetap mengakses air bersih sesuai dengan kebutuhan. Air kembali pada kualitas awal setelah petugas melakukan normalisasi. Sekitar tiga hari pasca insiden, kualitas air telah kembali normal.