Petugas PDAM Kota Malang saat melakukan upaya pembersihan tandon yang terkontaminasi solar. (Istimewa).
Petugas PDAM Kota Malang saat melakukan upaya pembersihan tandon yang terkontaminasi solar. (Istimewa).

MALANGTIMES - Berbagai perdebatan muncul di media sosial setelah insiden air berbau solar dari layanan Perumda Tugu Tirta Kota Malang atau PDAM Kota Malang. Sebagian menilai kinerja PDAM Kota Malang perlu dibenahi sepenuhnya. Pasalnya, insiden yang menyebabkan kerugian bagi para pelanggan bukan hanya terjadi satu kali.

Namun ada sosok yang terlupa dari perdebatan panjang yang dilakukan warganet di media sosial tersebut. Mereka yang terlupakan adalah para pegawai PDAM yang terus bekerja tanpa henti. Sejak pagi hingga malam hari, mereka tak mengenal lelah untuk bisa mengembalikan kualitas air seperti semula.

Baca Juga : Ada Zona Hijau, Kuning, Oranye demi Keselamatan Pengunjung dan Tenaga Kesehatan

 

Meskipun pekerjaan mereka berisiko dan harus bekerja ekstra, para pekerja tersebut tetap melaksanakan tugasnya dengan loyalitas tinggi.

Mereka tak berharap pujian netizen. Mereka juga bekerja bukan untuk menghentikan gugatan yang akan dilayangkan.

Mereka bekerja tak kenal waktu demi ingin mengembalikan senyuman warga, menghilangkan kepanikan pelanggan. Apalagi, banyak dari pekerja PDAM tersebut yang rumahnya juga terdampak air campur solar. Karena itu, mereka sadar betul betapa sedihnya masyarakat ketika air tercampur solar.

Asisten Manajer Pengendalian Kualitas Air dan Air Baku Perumda Tugu Tirta Kota Malang Djaka Setyanta menyampaikan, ada sekitar 35 hingga 40 pekerja yang turun langsung mengatasi insiden air berbau solar. Seluruhnya bekerja sejak pagi hingga malam hari untuk memastikan kualitas air kembali normal.

"Laporan masuk ke kami tanggal 12 November dan sekitar pukul 08.00 WIB petugas mulai menemukan indikasi ada kontaminasi solar di bak penampung Sumber Wendit," kata Djaka pada Sabtu (21/11/2020).

Dia menjelaskan, upaya cepat langsung dilakukan setelah ada laporan kontaminasi tersebut. Salah satu langkah yang diambil secara cepat adalah menghentikan operasional pompa dan menghentikan produksi unit 3 secara langsung.

Sementara untuk yang terlanjur teralirkan melalui transmisi ke tandon Mojolangu dibuka di Jembatan Kalisari. Air lalu dibuang di pipa tranmisi. "Air langsung dicegat di situ dan dibuang, sama halnya juga yang di tandon Mojolangu,"  ungkapnya.

Di tandon Wendit dan Mojolangu juga dilakukan pengurasan sehari penuh. Petugas  dengan teliti melakukan tugasnya menguras mulai pukul 08.09 WIB dan baru selesai hingga pukul 23.00 WIB. Pasca-pengurasan, petugas tak berhenti dan melanjutkan pekerjaan hingga pagi harinys.

Walau sudah berusaha maksimal, masih ada beberapa titik yang sudah terlanjut mengalir dan terdistribusikan ke warga. Hal itu  membuat proses membersihkan dan mengembalikan kualitas air menjadi lebih lama lagi. "Terlanjur ada yang masuk ke warga dan itu yang membuat proses lama," kata Djaka.

Menurut dia, hampir setiap hari petugas menyebar membersihkan beberapa titik yang terkontaminasi di zona layanan. Di antaranya  di kawasan Blimbing, Klojen, Mojolangu, Purwantoro, Claket, Bantaran, Kedawung, Cakalang, hingga Perumahan Griya Shanta.

"Petugas bergantian bekerja pagi dan malam serta ada pembagian tugas. Karena jika semua bekerja sehari semalam sangat tidak memungkinkan. Dan setiap risiko harus diperhatikan," jelas Djaka.

Dia menerangkan, proses yang membutuhkan waktu paling lama adalah ketika membersihkan jaringan distribusi yang terkontaminasi solar tersebut. Prosesnya cukup lama lantaran titik distribusi memang sangat banyak dan tersebar di berbagai titik.

Sejak hari ketiga insiden yang terjadi pertama  pada 12 November 2020 itu, ondisi sudah mulai membaik. Kondisi air sudah kembali normal secara berangsur serta teruji layak digunakan. Sehingga, sejak saat itu aduan yang masuk secara berangsur telah berkurang.

Baca Juga : Terkait Meme Bupati Sanusi Berujung Laporan Polisi, Berikut Kata Pakar Bahasa UB

 

"Dan hari ini hanya satu aduan saja yang masuk. Itu pun saat kami datangi, pelanggan sampaikan  airnya sudah kembali normal," terangnya lagi.

Meski begitu, pelanggan yang merasa kualitas airnya masih terganggu disarankan untuk segera menyampaikan aduannya. Sehingga petugas bisa langsung datang melakukan kroscek. Selain itu, pelanggan disarankan untuk membersihkan tandon yang sebelumnya terkontaminasi solar.

"Karena itu sama halnya dengan kondisi tandon yang kami bersihkan. Punya pelanggan juga harus dibersihkan," tambahnya.

Sementara,  berkaitan dengan adanya komentar miring yang banyak berseliweran di media sosial, Djaka mengakui  itu memang sempat membuat sedikit galau para petugas di lapangan. Apalagi sejak pagi hingga malam hari mereka berusaha melakukan normalisasi. Namun masih saja ada beberapa komentar kurang baik di dunia maya. Sedangkan di dunia nyata, kerja mereka mendapatkan apresiasi langsung dari pelanggan yang terdampak.

"Tapi ternyata, kalau saya amati itu hanya terjadi di media sosial. Di lapangan saat saya terjun langsung, tidak ada yang seperti itu. Malah banyak pelanggan yang memberikan informasi jika air mereka sudah normal," ungkapnya.

Djaka  pun tidak mau ambil pusing dengan komentar yang dilontarkan berkaitan dengan kinerja petugas PDAM Kota Malang. Sebab, baginya, menyelesaikan tugas dan mengembalikan kualitas normal seperti semula menjadi hal yang paling penting.

"Pada dasarnya kami juga sudah berusaha cepat melakukan tindakan. Tapi mungkin itu yang kurang diperhatikan dan kurang tersampaikan di media sosial. Sehingga memang terasa ada sedikit timpang informasinya," imbuhnya.

Dia pun mengimbau agar para pelanggan yang merasa airnya bermasalah menyampaikan aduannya ke PDAM Kota Malang langsung. Sehingga petugas bisa langsung membukan titik permasalahan dan menyelesaikannya langsung.

"Yang paling penting kami cepat lakukan tindakan. Bukan hanya kaitannya seperti insiden solar kemarin. Tapi juga semua aduan pelanggan," pungkasnya.