Kolase peninjauan tandon berbau solar dan komentar warganet di media sosial.
Kolase peninjauan tandon berbau solar dan komentar warganet di media sosial.

MALANGTIMES - Dalam beberapa hari ini, nyinyiran dan kritik pedas mengalir deras ke PDAM Kota Malang yang kini berubah nama menjadi Perumda Tugu Tirta Kota Malang. Bully dari netizen seolah tak pernah berhenti di grup-grup media sosial di Malang.

Pokoknya, Tugu Tirta dianggap tak becus mengelola layanan publik terpokok, yakni mengelola air. Masyarakat sangat kecewa. Dulu air tak mengalir-ngalir selama berminggu-minggu. Kini air malah terkontaminasi solar. Waduh, pusing, pusing tujuh keliling.

Baca Juga : Tetap Aman-Nyaman Akses FKTP, Dinkes Proteksi Nakes

 

Masyarakat tentu sangat pusing. Sebab, air merupakan kebutuhan pokok. Tapi PDAM juga tak kalah pusing. Mana ada PDAM di seluruh dunia yang ingin airnya tidak mengalir ke masyarakat. Dan tentu tidak ada pula PDAM yang berharap airnya tercampuri solar. Sebab, jika itu terjadi, maka PDAM bisa dibilang gagal menjalankan tugas utamanya.

Lebih-lebih, jika air sudah tercampur solar, maka bukan hanya manusia yang terdampak. Hewan piaraan dan tanaman hias bernilai jutaan pun tak bisa menikmati air bersih dengan nikmat. Untungnya baru solar yang tercampur, bagaimana kalau sianida?

Sebenarnya, jika burung dan kucing anggora bisa berkeluh kesah, maka mereka pun bisa akan ikut mencaci maki. Apalagi saat ini saling mencaci sedang jadi tren di bangsa tercinta. Zaman sekarang di Indonesia ini, memaki dianggap perjuangan. Sedangkan memuji dianggap penjilatan.

MalangTIMES.com yang merupakan media terbesar berjejaring di Indonesia ini akan merunut dan mengupas kasus air solar PDAM  ini. Semua sisi akan dibahas seobjektif mungkin. Tentu liputan kami tak akan sesempurna kitab suci.

Kita awali dari keluhan masyarakat. Sebab, masyarakat memang merupakan pihak yang paling terdampak oleh air solar. Mau direbus jadi air minum tak bisa. Ingin mandi juga tak bisa.

Ada teman saya yang sangat jengkel. Sebab, dia tak bisa mandi besar karena airnya bau solar. Tak usah saya ceritakan, Anda bayangkan saja sendiri bagaimana pusingnya ya, wkwkwkwkwk.

Karena itu, jangan heran jika di media sosial keluhan demi keluhan atas layanan perusahaan daerah Kota Malang tersebut terus mengalir bak air bocor yang tak bisa dibendung.

Saya kutip salah satunya saja. Karena kalau dikutip semuanya, tak cukup waktu untuk menulis.

Di Facebook ada ajakan untuk menggugat Wali Kota Malang Sutiaji dan Direktur Utama Tugu Tirta Kota Malang M. Nor Muhlas.  Mereka dinilai telah merugikan masyarakat, terutama pelanggan air bersih Perumda Tugu Tirta.

Salah satu akun Facebook yang getol 'menyerang' adalah Wahyu Eko Setiawan. Terkontaminasinya air dengan solar yang terjadi satu minggu lalu dibahasnya dengan cukup apik.

Dia juga menyinggung perihal layanan air bersih yang sempat terhambat lantaran pipa yang pecah 10 bulan lalu. Kondisi itu dinilai sangat merugikan masyarakat.

Wahyu Eko Setiawan menyampaikan wali kota Malang dan Dirut Perumda Tugu Tirta Kota telah lalai dan melanggar UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen serta UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Tuntutan itu muncul lantaran pada pekan lalu, tepatnya sejak Kamis (12/11/2020), pelanggan mengeluhkan air berbau bahan bakar minyak. Setelah ditelusuri, air berbau  dikarenakan adanya luberan pengisian solar di mesin pompa air Sumber Wendit yang lokasinya ada di Kabupaten Malang.

Tangki tersebut harusnya mampu menampung hanya seribu liter solar. Namun belakangan diketahui  tangki diisi tiga ribu liter solar. Akibatnya, kurang lebih dua ribu liter solar meluber hingga ke tandon dan sungai di sekitar sumber sehingga membuat kualitas air menjadi tercemar dan berbau menyengat.

Baca Juga : Jalur Khusus Pintu Belakang hingga Jembatan Manis

 

Selama beberapa saat, bahkan beberapa hari, para pelanggan yang terdampak pun terpaksa harus menggunakan air berbau solar tersebut untuk kebutuhan mandi. Meskipun berbau solar, air tetap digunakan lantaran tidak ada pilihan lain. Termasuk teman saya, yang pada akhirnya harus mandi besar menggunakan air solar.

Sementara, untuk kebutuhan mencuci bahan makanan hingga alat dapur, termasuk juga minuman hewan piaraan dan menyiram tanaman hias, warga harus membeli air galon dengan jumlah lebih banyak.

Sebagai pengingat saja, layanan PDAM Kota Malang juga dikeluhkan masyarakat. Tepatnya pada Januari 2020 lalu, kebutuhan air bersih pelanggan PDAM Kota Malang terdampak. Hal itu dikarenakan pipa air pecah dan membuat ribuan pelanggan perusahaan air minum pelat merah tersebut sulit mendapatkan air bersih.

Para pelanggan air bersih PDAM Kota Malang saat itu harus rela antre di beberapa pipa yang dibuka di pinggir jalan, pom bensin, bahkan harus mencari air bersih ke rumah keluarga terdekat. Saat itu, masyarakat bahkan menyebut sempat terjadi krisis air bersih dan melontarkan berbagai kekecewaan mereka. Entah mengapa, persoalan yang terjadi di PDAM Kota Malang dalam tahun ini selalu bertepatan dengan musim penghujan.

Di sisi lain, para pekerja PDAM terus berupaya keras agar masyarakat bisa kembali mendapatkan haknya. Beberapa upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Kerja bak rodi pun mereka lakukan. Berangkat pagi, pulang pagi rela mereka lakoni. Padahal, di rumah pekerja PDAM itu, kondisinya sama persis dengan masyarakat atau pelanggan lainnya.

Untuk krisis air bersih yang Januari 2020 lalu, upaya yang dilakukan di antaranya dengan mengirimkan tangki air bersih dan melibatkan bantuan tangki-tangki air dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain itu, diupayakan membuat tandon air baru di setiap titik daerah terdampak. Hingga pada akhirnya tangki diganti dengan yang baru, dan membuat air mengalir normal seperti sekarang.

Sementara untuk kasus yang baru saja terjadi, yaitu insiden air solar, PDAM Kota Malang mengambil langkah hukum dengan membuat laporan kepada pihak berwajib. Normalisasi juga dilakukan untuk kemudian mengembalikan kualitas air seperti semula. Wali Kota Malang Sutiaji juga meminta untuk memberikan kompensasi kepada warga yang terdampak dalam insiden air berbau solar tersebut.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada layanan PDAM Kota Malang selama hampir satu tahun terakhir? Bagaimana kinerja manajemen PDAM Kota Malang dan para pekerja dalam mengatasi permasalahan di lapangan? Lalu bagaimana pendapat masyarakat, utamanya pelanggan air bersih Perumda Tugu Tirta?

Seperti apa komentar dari direktur utama Perumda Tugu Tirta terhadap tuntutan  beberapa cuitan di media sosial yang memintanya turun dari jabatan? Bagaimana pula kinerja dan penilaian Dewan Pengawasan Perumda Tugu Tirta Kota Malang berkaitan dengan beberapa kejadian yang terjadi selama 10 bulan terakhir?

Kemudian, seperti apa juga tanggapan Wali Kota Malang Sutiaji hingga Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika berkaitan dengan beberapa kasus yang terjadi pada layanan PDAM Kota Malang? Bagaimana juga dengan kelanjutan kasus hukum dugaan sabotase air berbau solar dari pihak kepolisian?

Selengkapnya akan dibahas dalam tulisan berseri malangTIMES.com.