Habib Rizieq Shihab (Foto: sueddeutsche.de)
Habib Rizieq Shihab (Foto: sueddeutsche.de)

MALANGTIMES - Tak hanya di Indonesia, kabar kepulangan Imam Besar FPI Muhammad Rizieq Shihab rupanya juga menjadi headline di media luar. Salah satunya yakni media berbasis Jerman Süddeutsche Zeitung turut memberitakan kepulangan Rizieq Shihab ke Tanah Air.  

Artikel yang ditulis pada 19 November 2020 lalu, menyebutkan jika pentolan FPI itu sebagai "si pengkhotbah kebencian". Berita tersebut berjudul  "Die Rückkehr des Hasspredigers" atau "Kembalinya Si Pengkhotbah Kebencian".

Baca Juga : Optimalisasi Dana Haji, BPKH Minta Revisi UU 34 Tahun 2014

Di paragraf pertama, dilaporkan jika Rizieq sebagai pemuka agama Islam yang kontroversial menyerukan "revolusi moral".

"Solche Worte aus dem Munde Rizieqs werden in liberalen und säkularen Kreisen Indonesiens kaum als Heilsversprechen verstanden. Vielmehr klingen sie wie eine Drohung."

"Kata-kata yang keluar dari mulut Rizieq hampir tidak dipahami sebagai janji keselamatan di kalangan liberal dan sekuler di Indonesia. Sebaliknya, mereka terdengar seperti ancaman," begitu tulis berita tersebut.

Selain itu, artikel itu juga melaporkan jika Rizieq telah menggelar acara besar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan pernikahan putrinya yang dihadiri sekitar 10 ribu orang. Padahal diketahui, saat ini Indonesia masih berjuang untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.  

Melansir melalui artikel Australian Lowy Institute pula, kepulangan Rizieq disebutkan merupakan manifestasi dari upaya pasukan Islam memposisikan diri di Pemilu 2024.

Baca Juga : Pangdam Jaya Minta FPI Dibubarkan, FPI Peringatkan TNI Soal Ini

"Wie das australische Lowy Institute schreibt, manifestiert sich in der Rückkehr Rizieqs der Versuch islamistischer Kräfte, sich rechtzeitig für die Wahlen 2024 in Position zu bringen."

"Seperti yang ditulis oleh Australian Lowy Institute, kembalinya Rizieq adalah manifestasi dari upaya pasukan Islam untuk memposisikan diri pada pemilu 2024."