Sejumlah Ilmuwan Sebut Covid-19 Bukan Pandemi tapi Sindemi, Apa Maksudnya?

Nov 12, 2020 10:48
Covid-19 (Foto: Medium)
Covid-19 (Foto: Medium)

MALANGTIMES - Saat ini hampir di seluruh negara di dunia mengalami wabah Covid-19. Masing-masing negara pun kini melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran virus asal Wuhan, China itu.  

Ada yang memberlakukan pembatasan ketat, protokol kesehatan, hingga yang lebih fleksibel tergantung tingkat kasus Covid-19 di masing-masing wilayah. Bahkan beberapa negata yang kasus Covid-19 mencapai angka tinggi rela menerapkan lockdown di negaranya.  

Baca Juga : Puskesmas Mulyorejo Batasi Kelas Ibu Hamil dan Ibu Balita di Masa Pandemi Covid-19

Meski begitu, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa strategi-strategi tersebut masih terlalu terbatas untuk menghentikan penyebaran virus ini.  

"Semua intervensi kita berfokus pada memotong jalur penularan virus untuk mengendalikan penyebaran patogen," kata Richard Horton selaku pimpinan redaksi jurnal ilmiah The lancet.  

Menurutnya, Covid-19 semestinya bukan dianggap sebagai "pandemi", tapi sebagai "sindemi".  

Lantas apa yang dimaksud dengan sendemi itu?

Sindemi sejatinya merupakan akronim yang menggabungkan kata sinergi dan pandemi. Oleh sebab itu, penyakit Covid-19 ini tidak boleh berdiri sendiri.  

Bagaimana pun kisah pandemi Covid-19 ini tidaklah sederhana. Di satu sisi ada SARS-CoV-2 yakni virus yang menyebabkan Covid-19.  

Namun, ada pula serangkaian penyakit bawaan yang sudah diidap orang tersebut. Kedua elemen inilah lantas berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.

Baca Juga : November Vaksin Datang, RSSA Malang Data Tenaga Medis

Sebenarnya "sindemi" bukanlah istilah baru. Melansir dari BBC kata ini diciptakan oleh antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer pada 1990-an.  

Kata itu diciptakan untuk menjelaskan situasi saat "dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak masing-masing penyakit ini".

"Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang entah bagaimana dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya," kata Singer kepada BBC.

Ia menciptakan kata itu saat mempelajari penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS.  

Konsep sindemi muncul saat Merrill dan koleganya meneliti penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS lebih dari dua dekade lalu.

Topik
Berita Covid 19

Berita Lainnya

Berita

Terbaru