Temuan Rel, TACB Cari Formulasi Agar Tak Ganggu Percepatan Penyelesaian Proyek Kayutangan

Nov 11, 2020 13:42
Tim ahli cagar budaya saat memantau kondisi temuan rel di proyek Kayutangan Heritage (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Tim ahli cagar budaya saat memantau kondisi temuan rel di proyek Kayutangan Heritage (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pasca penemuan jaringan rel kereta zaman kolonial, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti pihak pelaksana, PT KAI dan juga pengawas pekerjaan.

Dari hasil koordinasi tersebut, disampaikan Agung Buana, Sekretaris TACB Kota Malang, jika dari PT KAI menyampaikan jaringan rel yang masih berada di dalam tanah merupakan aset yang masih menjadi catatan kepemilikan PT KAI.

Baca Juga : Kondisi Kota-Kota di Indonesia 100 Tahun Lalu, Bali Bertelanjang Dada, Jawa Mandi di Kali

 

Sehingga dari pihak lain, tidak diperbolehkan untuk memindahkan maupun mengambil aset PT KAI. Namun pada prinsipnya PT KAI minta jika temuan tersebut masih sebagai aset.

Maka dari itu, saat ini TACB tengah merumuskan jalan terbaik terkait temuan artefak jaringan rel ini, agar tidak mengganggu dalam pekerjaan proyek Kayutangan Heritage.

Sebab, pihaknya juga tidak mau, jika warga Kota Malang terlalu lama terganggu karena penutupan jalan imbas dari pengerjaan proyek yang belum selesai.

"Kita tak mau ini (adanya temuan rel) turut mengganggu percepatan penyelesaian proyek Kayutangan Heritage. Makanya kita cari langkah yang mudah, cepat dan aspek semua bisa terpenuhi sehingga warga Kota Malang bisa menggunakan jalan ini dengan baik," jelasnya.

"Wacana rekomendasi, sedang kita formulasikan bagaimana jalan tengahnya, supaya tau jika Malang sudah lebih maju dari kota lain pada masanya. Makanya historisnya perlu ditampilkan," imbuh Agung.

Baca Juga : Minat Baca Rendah, Mahasiswa UNEJ Bikin Film Dokumenter Rental Komik

 

Dijelaskan Agung lebih lanjut, jika rel tersebut merupakan jaringan rel pada masa kolonial. Rel tersebut memanjang mulai dari Stasiun Blimbing hingga Jagalan. Rel tersebut diperkirakan sudah ada sejak Februari 1903. Namun sepanjang rangkaian rel diduga sudah tak utuh lagi. Sebab informasinya sudah terdapat beberapa bagian rel yang sudah diambil.

" Untuk reaktivasi rel, sulit. Sebab, kembali lagi, jika sepanjang sepanjang jaringan rel sudah diambil oleh Belanda. Yang masih tersisa dugaan kami mulai dari PLN sampai dengan Kawasan Sarinah. Kalau yang di kawasan arah Blimbing diduga sudah diambil," terangnya.

 

Topik
kayutangan malangKayutangan Heritage

Berita Lainnya

Berita

Terbaru