Paslon LaDub Gunakan Kampanye Darat dan Udara untuk Gaet Suara Milenial

Nov 11, 2020 13:30
Relawan Gerbang Madani bersama tim pemenangan paslon LaDub usai memaparkan hasil survei terkait dukungan terhadap paslon LaDub melalui door to door campaign. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes) 
Relawan Gerbang Madani bersama tim pemenangan paslon LaDub usai memaparkan hasil survei terkait dukungan terhadap paslon LaDub melalui door to door campaign. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes) 

MALANGTIMES - Pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Malang nomor urut dua yakni Lathifah Shohib-Didik Budi Muljono (LaDub) menggunakan dua model kampanye yang terus dilakukan untuk menggaet suara masyarakat Kabupaten Malang, utamanya pada para pemilih muda atau milenial. 

Dua model kampanye yang terus dilakukan ialah, model darat dan udara. Model kampanye darat yang dimaksud yakni dengan menyapa langsung, bertatap muka door to door ke rumah-rumah masyarakat Kabupaten Malang untuk menyerap aspirasi dan dukungan secara langsung oleh paslon. 

Sedangkan untuk model kampanye udara, paslon LaDub juga terus gencar memanfaatkan platform-platform digital untuk menyasar pemilih pemula, pemilih kuda atau milenial, hingga ke swing voters. 

Juru bicara media center paslon LaDub yakni Anas Muttaqin mengatakan bahwa dari tim pemenangan paslon LaDub telah meluncurkan beberpa platform digital yang memuat visi, misi, program-program, serta aktivitas paslon LaDub saat berkampanye menyapa masyarakat. 

"Beberapa waktu lalu kita sudah launching platform digital kita, yang hari ini masyarakat di Kabupaten Malang hampir 70 persen melek digital. Mereka punya sosial media, mereka dapat membuka internet, mereka punya WA dan sebagainya," jelasnya saat memaparkan hasil survei dppr to door bersama relawan Gerbang Madani. 

Dari hasil analisa tersebut, Anas menyebutkan bahwa dengan menggunakan model kampanye darat dan udara yang dilakukan oleh paslon LaDub, pihaknya menyasar para pemilih muda atau pemilih milenial. 

"Itu salah satu cara yang kita lakukan untuk menyapa para pemilih muda. Karena pemilih muda di Kabupaten Malang, di angka (umur, red) 30 ke bawah itu ada sekitar 25 persen. Kalau ditarik lagi keatas, di angkat 40-50 tahun ke bawah hampir 50 persen," bebernya. 

Dengan begitu, menurut Anas jumlah pemilih muda atau pemilih milenial yang ada di Kabupaten cukup banyak jika dikihat berdasarkan dari DPT (Daftar Pemilih Tetap) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Malang 2020. 

Untuk diketahui, berdasarkan data yang ditampilkan oleh pihak KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Malang, total DPT pada Pilkada Kabupaten Malang berjumlah 2.003.608 pemilih. 

Dari angka 2.003.608 pemilih tersebut, sebanyak 49,86 persen atau 999.098 merupakan pemilih berjenis kelamin laki-laki, sedangkan 50,14 persen dari jumlah DPT atau setara dengan 1.004.510 merupakan pemilih berjenis kelamin perempuan. 

Total pemilih dalam DPT ini pun nantinya ketika mendekati pada hari pencoblosan pada tanggal 9 Desember 2020 diperkirakan terjadi penambahan para pemilih pemula yang baru saja mendapatkan e-KTP (Kartu Tanda Penduduk). 

Maka dari itu, palson LaDub terus gencar melakukan kampanye darat dan udara, utamanya melalui udara yakni media sosial. Karena para pemilih pemula, pemilih muda atau pemilih milenial sangat aktif di dunia digital dalam hal ini bersosial media. 

Sementara itu, dari hasil door to door campaign yang dilakukan oleh Gerbang Madani pada 96.600 KK di Kabupaten Malang, sebanyak 50,62 persen telah menyatakan dukungan ke paslon LaDub. 

Sementara itu, sebanyak 37,46 persen masyarakat Kabupaten Malang dari 96.600 KK belum menentukan pilihannya. Sedangkan sebanyak 11,93 persen masyarakat telah menentukan pilihannya pada dua paslon lainnya. 

"Ternyata dari hasil riset dan hasil survei kami, masyarakat yang belum menentukan pilihan atau mau menentukan pilihan di detik-detik terakhir cukup besar," ujarnya. 

Dengan prosentase yang dihasilkan melalui metodologi survei yang telah sesuai, Anas juga mengatakan jika melihat dari preferensi politik pemilih yang belum menentukan pilihan akan lebih cenderung memilih paslon yang belum pernah memimpin sebelumnya. 

"Karena begini, logika preferensi politik pemilih itu kalau orang belum menentukan pilihan, sampai hari ini belum menentukan pilihan kecendurangannya tidak akan memilih petahana. Dia hanya memilih paslon antara lawan yang A atau lawan yang B," pungkasnya.

Topik
Pilkada Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru