Pakar: Percuma Kebijakan Ekonomi Didesain Bila Human Capital Hilang

Nov 10, 2020 16:15
Ilustrasi ekonomi vs covid-19. (Foto: bisnis.com)
Ilustrasi ekonomi vs covid-19. (Foto: bisnis.com)

MALANGTIMES - Pakar Ekonomi dari Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Candra Fajri Ananda SE MSc berpendapat agar pemerintah fokus menangani permasalahan kesehatan di tengah keterbatasan pandemi covid-19. Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) tersebut menyebut, akan percuma jika kebijakan ekonomi yang didesain apabila human capitalnya hilang, maka hasilnya akan nihil.

“Intinya bahwa pengelolaan kesehatan saat ini menjadi hal utama yang harus dijalankan pemerintah. Hal inilah yang membedakan antara krisis saat ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata pria yang juga merupakan Staf Khusus Menteri Keuangan tersebut.

Baca Juga : Jokowi Minta Perguruan Tinggi Tak Terjebak Rutinitas dan Buka Diri terhadap Paradigma Baru

Merespon permasalahan yang terjadi, Candra pun menawarkan beberapa pilihan kebijakan yang bisa dijalankan pemerintah dalam jangka pendek dan setelah pandemi.

Untuk jangka pendek, kebijakan berfokus pada bidang kesehatan, jaring pengaman sosial (JPS), dan BLT. Sedangkan untuk periode setelah pandemi adalah berfokus pada bagaimana penguatan agregat demand atau daya beli dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan. Kedua adalah reformasi di seluruh sektor.

“Pandemi covid-19 mengajarkan banyak hal bahwa semua kebijakan bisa dilakukan dengan efisien bahkan dari rumah pun bisa menghasilkan PERPU,” ucapnya.

Sementara Ekonom Senior INDEF (Ekonom Institute for Development of Economics and Finance) yang juga merupakan Guru Besar FEB UB Prof Ahmad Erani Yustika PhD menanggapi bahwa semua desain program pemerintah harus bisa dijalankan dengan cepat.

“Bagaimana program-program harus bisa disinergikan dengan paket stimulus pemerintah. Jika hal ini bisa dilakukan maka pengejawantahan hadir di lapangan bisa terlaksana,” kata Ketua IKA (Ikatan Alumni) UB tersebut.

Dikatakannya, paket stimulus pemerintah terdiri dari bidang kesehatan Rp75 triliun, perlindungan sosial Rp110 triliun, industriRp 70 triliun, dan pemulihan ekonomi 150 triliun.

Baca Juga : Sikap SMA-SMK di Kota Malang Antisipasi Pelajar Ikut Demo UU Cipta Kerja

Menanggapi tentang bidang kesehatan, Erani juga beranggapan sama, bahwa untuk bidang kesehatan saat ini harus menjadi fokus perhatian utama.

Ia menambahkan, Indonesia harus mampu memiliki kedaulatan di bidang farmasi sehingga bisa mencukupi kebutuhan terhadap obat-obatan didalam negeri.

“Bahkan jika perlu Indonesia bisa menciptakan vaksin sendiri untuk covid-19, ini,” tandasnya.

Topik
Pakar ekonomi Universitas Brawijayaekonomi di tengah pandemi
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru