Pelihara Burung dan Budidaya Bunga Dapat Picu DBD, Kok Bisa?

Nov 04, 2020 14:02
Ilustrasi. (Thinkstock).
Ilustrasi. (Thinkstock).

MALANGTIMES - Memelihara burung dan membudidaya bunga nampaknya menjadi hal yang paling digandrungi masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Bahkan, saat ini harga untuk berbagai jenis burung dan bunga melonjak drastis seiring dengan banyaknya dicari masyarakat.

Namun, bukan berarti persoalan memelihara hewan dan tanaman ini juga tetap harus memperhatikan kebersihan lingkungan. Sebab, jika tidak mungkin akan memicu kemunculan penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya, kedua kegiatan ini banyak bersentuhan dengan air yang harus diperhatikan agar tak memicu kemunculan jentik-jentik penyebab DBD.

Baca Juga : Mewabah di China, Nyatanya Juga Ditemukan di Indonesia, Apa Itu Norovirus?

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif, menyatakan, masyarakat perlu memperhatikan perihal pemeliharaan burung dan tanaman saat masa pandemi Covid-19.

Dalam hal ini setidaknya masyarakat diimbau untuk rutin memeriksa dan menganti kebutuhan air bersih agar tidak menjadi genangan. Sehingga tidak menjadi sarang nyamuk penyebab DBD.

"Sudah masuk musim hujan harus lebih waspada terhadap genangan-genangan air bersih yang tenang, yang kadang-kadang kelewatan. Lalu, misalnya yang pelihara hewan kayak burung itu tempat air minumnya diperhatikan. Yang lagi sibuk dengan tanaman-tanaman itu, bunga atau daunnya yang bisa menampung air terkadang juga kelewatan, ini juga perlu diperhatikan," ujarnya.

Hal lain yang juga harus diperhatikan yakni datangnya musim penghujan. Pasalnya, pertumbuhan nyamuk Aedes Aegypti semakin tinggi di musim penghujan. Artinya, jika ketahanan tubuh seseorang lemah, bukan tidak mungkin akan mudah terserang wabah ini.

Di Kota Malang, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, hingga September 2020 untuk penderita DBD kurang dari 200 kasus. Angka ini terbilang turun drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Baca Juga : Viral Kisah Nakes Divonis Terkena DBD, Ternyata Positif Covid-19

"Alhamdulillah tahun ini kasus DBD di kita tidak sebanyak tahun kemarin di 2019. Sampai September 2020 kasus kita di bawah 200-an. Dan dari jumlah itu Alhamdulillah tidak ada yang meninggal dunia," terangnya.

Husnul menyebut, rentan usia dari penderita DBD di Kota Malang tahun ini bervariasi. Yakni, paling muda 8 tahun hingga 26 tahun. Karenanya, saat ini meski masyarakat tengah sibuk untuk pencegahan Covid-19 tetap diimbau untuk memperhatikan kebersihan lingkungan.

"Karena sekarang sibuk sama covid, terkadang kewaspadaan terhadap DB ini berkurang. Tetap kalau DB, masyarakat harus memperhatikan kebersihan di rumah maupun di lingkungan. Terutama terhadap genangan air bersih," tandasnya.

Topik
Waspada DBDpelihara burungbudidaya bungapelihara burung dan budidaya bungaKota Malangberita kota malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru