Angkutan umum kota (foto dok MalangTIMES)
Angkutan umum kota (foto dok MalangTIMES)

MALANGTIMES - Angkutan umum kota (angkot) pada masa long weekend akhir bulan Oktober ini masih mengeluh sepi penumpang. Hal itu ditenggarai karena saat ini angkot bisa dikatakan kalah bersaing dengan transportasi online.

Sejak transportasi online masuk ke wilayah Malang Raya, penumpang angkot secara otomatis menurun. Hal itu belum juga ditambah dengan dampak Covid-19 di mana masyarakat juga menjaga jarak aman agar tidak tertular penyebaran virus yang bermula dari Wuhan, China itu.

Baca Juga : Libur Panjang, Okupansi Kereta Api di Stasiun Malang Penuh

Salah satu driver angkot, Panduwi Septi, mengaku bahwa meski ada long weekend di akhir Oktober 2020 ini, ia tidak mendapatkan peningkatan jumlah penumpang seperti yang pernah ia rasakan sebelum transportasi online masuk. Selain itu dampak Covid-19 juga sangat mengganggu aktivitasnya untuk bekerja.

"Sepi sekarang mas, walau judulnya long weekend tetap sepi (penumpang)," ucap Panduwi saat ditemui di sela-sela menunggu penumpang.

Diakui Panduwi, sejak pandemi merebak di Malang Raya, ia mendapat penumpang tidak lebih dari 10 orang. Padahal, saat ini tarif angkot hanya Rp 3.500, baik jauh atau dekat. Jika mendapatkan maksimal 10 orang, berarti hanya mendapatkan Rp 35 ribu. 

"Nah itu belum setoran. Kalau jalan seharian itu setoran Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu, bensinnya? Makannya? Rokoknya? Enggak nutut sopir angkot sekarang itu mas," kata dia.

Menurut Panduwi, kereta api yang beroperasi pada masa pandemi Covid-19 juga belum sepenuhnya beroperasi. Sehingga mempengaruhi jumlah penumpang yang ada. Selain itu, pria yang menjadi driver dari angkot jurusan Arjosari-Dinoyo-Landung Sari (ADL) ini sangat menggantungkan penumpang dari kalangan mahasiswa.

"Ya sekarang kereta api belum (beroperasi) penuh, itu berpengaruh. Covid-19 sangat mempengaruhi, lalu juga mahasiswa ini yang belum masuk kuliah," ungkapnya. 

Baca Juga : Penumpang KA Diimbau Rapid Test H-1 sebelum Jadwal Keberangkatan

Saat ini, Panduwi mencoba terus berusaha meski setiap hari bekerja tidak mendapat penumpang yang ia harapkan.